Tahun 2006 menjadi awal kisah yang tidak pernah hilang dari ingatan Ibu Ita. Saat itu ia dan suaminya, Pak David, bekerja di sebuah bengkel mobil milik seorang pria yang disebut Bos Wawan. Dari luar, bengkel itu tampak seperti usaha biasa: ada mobil masuk, ada pekerjaan cat, ada karyawan, dan ada harapan kecil untuk hidup lebih baik.
Namun di balik aktivitas bengkel yang sederhana itu, Bos Wawan menyimpan kegelisahan besar. Usahanya tidak kunjung berkembang. Mobil yang datang hanya satu atau dua unit, lapak masih kecil, alat kerja terbatas, dan ia merasa kalah jauh dibanding teman-teman sesama pemilik bengkel yang sudah punya cabang, rumah besar, dan kendaraan mewah.
Bos Wawan sering curhat kepada Pak David dan Ibu Ita. Ia mengeluh hidupnya tidak berubah, usahanya sepi, hutangnya menumpuk, dan kebutuhan keluarga makin besar. Ia merasa malu karena dulu berasal dari keluarga berada, tetapi setelah keluarganya berantakan, ia harus merintis semuanya dari bawah dengan bengkel kecil yang belum juga menghasilkan.
Suatu hari, Bos Wawan mendatangi seorang temannya yang sudah lebih dulu sukses di dunia bengkel. Awalnya ia ingin meminjam uang untuk modal, tetapi temannya justru memberi saran lain: kalau ingin cepat berhasil, harus berani menjalani ritual. Bukan ritual biasa, melainkan pesugihan di Gunung Kawi.
Ketika mendengar kata pesugihan, Pak David dan Ibu Ita sempat kaget. Namun Bos Wawan sudah terlanjur gelap mata. Ia merasa sudah capek miskin, capek direndahkan, dan capek melihat usaha orang lain melesat sementara hidupnya stagnan. Bahkan ia sampai berkata, sekalipun harus mati menjadi binatang, ia rela, asalkan anak-anaknya bisa sekolah dan keluarganya hidup berkecukupan.
Bos Wawan akhirnya mengajak Pak David dan Ibu Ita pergi ke Gunung Kawi pada malam Jumat Kliwon. Perjalanan dilakukan malam-malam dalam kondisi hujan lebat, melewati jalan terjal, bebatuan, dan suasana yang membuat hati Ibu Ita tidak tenang. Mereka meninggalkan mobil di pinggir jalan lalu berjalan kaki menuju sebuah gubuk kecil yang menjadi tempat kuncen.
Di hadapan kuncen, Bos Wawan menyampaikan keinginannya: ingin cepat punya uang, ingin bengkelnya berkembang, dan ingin hidupnya berubah. Kuncen sempat mengingatkan bahwa jalan lurus masih ada, tetapi Bos Wawan tetap memaksa. Ia mengaku sudah siap lahir batin menerima risiko apa pun, selama anak dan istrinya tidak dijadikan tumbal.
Kuncen sempat menguji Pak David lebih dulu, tetapi menurutnya Pak David tidak cocok untuk mengambil jalan itu. Setelah itu giliran Bos Wawan diuji, dan hasilnya dinyatakan “lulus”. Kuncen kemudian memberikan pilihan melalui gambar-gambar binatang. Ada ular, babi, dan berbagai wujud lain, sampai akhirnya Bos Wawan menunjuk katak hijau.
Sejak pilihan itu diambil, perjanjian mulai berjalan. Bos Wawan memberi mahar yang ia punya saat itu, lalu menerima syarat-syarat yang harus dijalani. Ia harus menyiapkan ruang khusus di rumah, gelap tanpa lampu, tidak boleh sembarang orang masuk, dan ia juga tidak boleh lagi tidur bersama istrinya. Kamar itu kelak menjadi ruang paling tertutup dalam hidup Bos Wawan.
Setelah pulang dari Gunung Kawi, perubahan tidak langsung terjadi hari itu juga. Namun perlahan, bengkel Bos Wawan mulai ramai. Mobil yang biasanya hanya satu dua unit, tiba-tiba bisa belasan unit masuk. Pelanggan datang berderet, papan nama bengkel dibuat lebih besar, dan dalam waktu sekitar setahun, usaha itu benar-benar terlihat melesat.
Bos Wawan mulai membeli rumah besar, tanah luas, dan membangun ruang khusus lain di dekat paviliun bengkelnya. Anak dan istrinya hanya tahu bahwa semua itu berasal dari pinjaman bank atau bantuan teman kaya. Mereka tidak tahu bahwa di balik kenaikan itu, ada perjanjian gelap yang hanya diketahui Bos Wawan, Pak David, dan Ibu Ita.
Kekayaan itu makin membesar. Bos Wawan membeli beberapa mobil mewah, membukakan usaha sembako untuk istrinya, membiayai anak-anaknya sekolah tinggi, bahkan sempat membelikan rumah untuk anak-anaknya. Dari bengkel kecil yang dulu sepi, hidupnya berubah menjadi keluarga yang terlihat mapan dan dihormati.
Namun saat harta datang bertubi-tubi, Bos Wawan mulai lupa diri. Ia makin sering berpoya-poya, keluar malam, mencari perempuan, dan menikmati hasil perjanjian itu seolah tidak ada harga yang menunggu di belakang. Ia juga beberapa kali hampir lalai menjalani kewajiban ritual ke Gunung Kawi setiap malam Jumat Kliwon dalam hitungan bulan tertentu.
Kuncen pernah memperingatkan Bos Wawan agar jangan sampai terlambat datang, sesibuk apa pun bengkelnya. Di rumah, kamar gelap itu tetap dipakai untuk ritual khusus. Dari luar, Ibu Ita dan Pak David hanya mendengar cerita tentang suara-suara katak yang ramai, seperti kerumunan makhluk kecil yang menyambut Bos Wawan setiap kali ia masuk ke ruangan itu.
Selama masa kejayaan itu, Bos Wawan sempat ingin membalas jasa Pak David dan Ibu Ita dengan merenovasi rumah mereka, memberi material, atau bantuan besar lain. Namun Pak David selalu menolak. Ia hanya menerima sebuah mobil tua yang kondisinya sudah tidak terlalu bagus. Baginya, lebih baik hidup sederhana tetapi berkah, daripada menerima terlalu banyak dari sesuatu yang sumbernya sudah ia ketahui.
Sekitar tujuh sampai delapan tahun kemudian, tanda-tanda buruk mulai muncul. Bos Wawan mengeluh badannya sakit, tulangnya seperti patah-patah, keringat dingin keluar, dan tubuhnya semakin lemas. Saat dibawa ke rumah sakit, dokter justru menyatakan tidak ada penyakit yang jelas. Padahal di depan mata, kondisi Bos Wawan terlihat sangat mengkhawatirkan.
Yang membuat Ibu Ita dan Pak David merinding, tubuh Bos Wawan perlahan berubah aneh. Tangan dan kakinya terasa lentur seperti tidak bertulang, wajahnya mulai menghijau kekuningan, kulitnya muncul bintik-bintik kecil, dan tubuhnya licin. Saat ingin ke toilet, ia menggelosor seperti katak, membuat Pak David kesulitan mengangkatnya.
Malam berikutnya di rumah sakit, terjadi kejadian yang membuat Ibu Ita dan Pak David hampir tidak bisa berkata apa-apa. Ada suara ketukan di pintu. Ketika Pak David membuka, yang terlihat bukan perawat atau dokter, melainkan seekor katak hijau besar yang menatap dari depan pintu. Begitu pintu ditutup kembali, sosok itu menghilang. Ibu Ita langsung merasa bahwa perjanjian Bos Wawan sudah mendekati waktunya.
Bos Wawan yang ketakutan kemudian meminta dibawa lagi ke Gunung Kawi. Ia memohon kepada kuncen agar nyawanya jangan dulu dicabut. Ia ingin hidup satu tahun lagi, ingin memastikan keluarga dan usahanya tetap berjalan. Namun permintaan itu harus dibayar dengan syarat baru: tumbal pengganti.
Bos Wawan menolak jika anak atau istrinya yang diambil. Ketika ditanya siapa lagi yang ada di rumah, ia menyebut ibu kandungnya yang sudah tua. Dengan dingin ia menerima syarat itu. Tak lama setelah pulang, ibunya mendadak sakit parah, mengamuk, tidak terkendali, lalu meninggal secara tiba-tiba. Bagi orang luar, kematian itu tampak seperti kematian orang tua biasa. Namun Ibu Ita dan Pak David tahu, ada sesuatu yang jauh lebih gelap di baliknya.
Setelah ibunya meninggal, Bos Wawan memang sempat membaik. Seolah nyawanya benar-benar disambung untuk satu tahun lagi. Tetapi perjanjian tidak bisa dibohongi. Ketika masa tambahan itu habis, sakitnya kembali datang lebih parah. Tubuhnya kembali lemas, licin, menghijau, dan tak lama kemudian ia meninggal dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.
Keluarga besar Bos Wawan sempat melakukan kremasi sesuai kebiasaan keluarga mereka. Namun proses itu menjadi kejanggalan lain. Api besar tidak mampu membuat jasadnya menjadi abu sepenuhnya. Tubuhnya tetap utuh seperti tidak terbakar sempurna, membuat orang-orang yang hadir kebingungan. Akhirnya, atas saran orang yang hadir, jenazah itu dihentikan dari proses kremasi dan dikebumikan.
Setelah Bos Wawan meninggal, semuanya runtuh pelan-pelan. Bengkel yang dulu ramai mulai sepi, karyawan berkurang, usaha sembako menurun, dan istrinya ikut sakit-sakitan sampai meninggal. Anak-anaknya mulai menjauh, rumah-rumah yang dulu dibeli menjadi sengketa, sebagian terbengkalai, bahkan ada yang ambruk. Kamar ritual yang dulu dipakai Bos Wawan tetap tidak dimusnahkan, dan konon masih menyisakan teror berupa anak-anak katak yang muncul di kamar mandi dan tempat tidur penjaga.
Kini yang tersisa hanyalah rumah angker, bengkel yang kehilangan nyawa, dan kisah yang disimpan lama oleh Ibu Ita bersama suaminya. Bos Wawan dulu hanya ingin kaya, ingin membuktikan diri, dan ingin keluarganya tidak hidup susah. Tetapi jalan yang ia pilih justru mengambil tubuhnya, ibunya, ketenangan keluarganya, dan seluruh harta yang dulu ia banggakan. Dari kisah itu, Ibu Ita hanya berpesan: biarlah hidup sederhana, asal selamat dan berkah, karena kekayaan yang dibayar dengan perjanjian gelap tidak pernah benar-benar menjadi milik manusia.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
