Tahun 2010 menjadi awal dari babak hidup yang tidak pernah dibayangkan oleh Mbak Indah. Saat itu ia tengah menganggur, menunggu panggilan kerja dari perusahaan yang tak kunjung datang. Kesehariannya hanya diisi dengan membantu tetangga menyetrika baju atau membereskan rumah bila ada yang meminta. Sampai suatu hari seorang sepupunya yang tidak terlalu dekat, yang ia sebut Dian, datang berkunjung dan menawarkan sebuah pekerjaan di salon miliknya. Tanpa banyak pertimbangan dan demi lepas dari kekosongan aktivitas, Indah pun menerima tawaran itu.
Indah datang ke salon pada hari pertama tanpa bekal keahlian apapun di bidang kecantikan. Ia sama sekali tidak bisa keramas, tidak bisa facial, apalagi pijat. Namun Dian meyakinkannya bahwa semua itu bisa dipelajari di lapangan. Beberapa hari pertama ia habiskan dengan mengamati karyawan lama bekerja, mempelajari teknik kerimbat dan facial dari jauh, menunggu giliran hingga ia cukup berani untuk mencoba sendiri. Salon itu beroperasi dari pagi hingga malam, dengan sistem penghasilan dari uang tip para tamu, bukan gaji tetap.
Tidak lama setelah bergabung, seorang pelanggan bernama Mas Aloy mulai rutin datang dan selalu meminta dilayani oleh Indah. Awalnya ia tampak seperti tamu biasa yang datang untuk lulur atau pijat. Namun perlahan Aloy mulai membuka mata Indah bahwa salon tempat ia bekerja itu bukan salon pada umumnya. Dengan bahasa yang halus namun jelas, ia menjelaskan bahwa layanan di sana jauh melampaui sekadar perawatan rambut atau tubuh. Indah yang polos dan tidak memiliki pengetahuan tentang dunia semacam itu baru menyadari kenyataan sesungguhnya setelah beberapa kali berinteraksi dengan Aloy.
Tergiur oleh penghasilan yang lebih besar dari sekadar uang tip hasil kerimbat atau facial, Indah akhirnya suntik KB dan mulai melangkah lebih jauh dalam pekerjaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun justru setelah keputusan itu, salon milik Dian mendadak sepi. Tamu-tamu yang biasa berdatangan tiba-tiba berhenti tanpa alasan yang jelas. Dian pun mulai gelisah dan menyarankan Indah untuk mencoba mencari penglaris, sesuatu yang menurut ia sering dipakai oleh usaha-usaha sejenis untuk mendatangkan pelanggan.
Mas Aloy yang ternyata memiliki kemampuan spiritual turunan pun turun tangan. Ia mengajak Indah ke sebuah petilasan menjelang waktu magrib, tepat saat azan berkumandang. Di tempat itu aroma bunga melati tercium kuat di udara tanpa sumber yang jelas. Aloy mengambil salah satu khodam dari petilasan tersebut dan mengalirkannya ke tangan kiri Indah. Tangan Indah terasa panas luar biasa, seolah ada yang mengalir masuk dari dalam, hingga tangan itu menjadi lemas dan tidak bisa digerakkan sama sekali beberapa saat lamanya.
Sesampainya kembali di salon, ritual dimulai pada dini hari lewat pukul dua belas malam. Sesajen disiapkan dengan lengkap, mulai dari kelapa muda, dupa, kembang tujuh rupa, pisang emas, rokok sebatang, kopi pahit, kopi manis, air putih, teh manis dan teh pahit, serta sebuah kendi yang diisi air bekas wudu Indah sendiri. Indah duduk bersemedi di dalam kamar sambil Aloy memberikan instruksi untuk tetap fokus dan tidak menghiraukan apapun yang mungkin muncul. Dua sosok yang Aloy sebut sebelumnya memang muncul di depan pintu, berwujud pocong dan kuntilanak.
Namun di luar dugaan, ada sosok ketiga yang tidak masuk dalam perhitungan Aloy. Sosok itu berwujud kakek-kakek tua dengan gigi ompong, mata melotot besar, dan tangan menjalar seperti akar pohon. Sosok itu muncul tepat di depan wajah Indah dan langsung mencekiknya sambil tertawa. Dalam kepanikan dan kebingungan, Indah secara refleks memasukkan jari telunjuknya ke mulut sosok itu. Entah mengapa tindakan spontan tersebut berhasil membuat sosok itu menghilang. Namun bekas cekikan itu masih terasa nyata di tenggorokan Indah bahkan setelah sosok itu lenyap.
Keesokan harinya, Indah menyiramkan sisa air dari ember ke seluruh sudut salon sambil membaca doa-doa yang ia bisa. Saat beberes halaman di sore harinya, tangannya tanpa ia sadari mulai menggali tanah. Di sana ia menemukan sebuah cepu berwarna emas yang terpendam. Tanpa ragu Indah memerintahkan Dian untuk membuang benda itu ke sungai atau laut. Dan begitu cepu itu dibuang saat waktu magrib, keesokan harinya salon itu berubah drastis. Aura tempat itu berbeda, tamu mulai berdatangan, dan aktivitas kembali ramai.
Keramaian salon membawa perubahan besar pada kehidupan Indah. Ia sepenuhnya terjun ke dunia yang sebelumnya tidak ia kenal dan tidak pernah ia rencanakan. Penghasilan pribadinya melonjak tajam, dalam satu hari bisa mencapai dua juta lima ratus ribu rupiah hanya untuk dirinya sendiri, di luar penghasilan salon secara keseluruhan. Tamu yang datang mencarinya lebih banyak dari karyawan manapun di sana. Beberapa tamu bahkan bercerita kepadanya bahwa dirinya yang paling diminati di salon itu. Uang mengalir begitu cepat hingga ia sempat membeli tanah, motor, dan berbagai gadget.
Namun di balik semua kemewahan itu, teror mulai muncul. Setiap malam saat pulang ke kamar kos, Indah melihat bayangan sosok kakek-kakek tua di cermin tepat di belakang bahunya. Sosok itu hanya tertawa, dengan cara yang sama persis seperti saat pertama kali ia mencekik Indah di malam ritual. Ketika Indah menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa. Namun saat matanya kembali ke cermin, sosok itu masih ada, menatap balik dengan senyum yang menyeramkan. Begitu berulang-ulang, setiap malam, tanpa jeda.
Teror tidak berhenti di situ. Saat tidur, Indah selalu didatangi sosok yang sama dalam mimpi. Sosok itu mencekiknya dan memintanya untuk ikut bersamanya. Indah selalu menolak, namun tekanan itu semakin malam semakin berat dan semakin menyiksa. Selama hampir tiga hingga empat bulan ia menanggung teror itu sendirian tanpa berani menceritakannya kepada siapapun, termasuk kepada Dian atau Mas Aloy.
Di luar teror malam hari, ada satu hal lain yang jauh lebih menyiksa secara fisik. Setiap hari Indah tidak melayani tamu, tubuhnya terasa panas yang tidak tertahankan, khususnya di bagian intimnya. Rasa panas itu seperti api yang menyala dari dalam dan tidak mereda dengan cara apapun selain dengan cara yang tidak ingin ia lakukan. Ia sampai mengurung diri di kamar mandi seharian penuh hanya menahan kondisi itu. Ia bahkan pernah meminta Dian untuk mencarikan tamu untuknya meski ia rela melayani tanpa bayaran, demi menghilangkan rasa panas yang menyiksanya.
Situasi makin parah saat di suatu momen yang paling melelahkan, Indah tidak lagi bisa berkata tidak kepada sosok yang terus-menerus menghantuinya. Dalam kondisi kelelahan fisik dan mental yang sangat parah, ia menjawab “iya” atas ajakan sosok itu untuk ikut bersamanya. Mas Aloy yang akhirnya diberitahu langsung memarahinya. Menurut Aloy, jawaban itu adalah kesalahan fatal karena dengan mengiyakan, Indah telah memperkuat ikatan antara dirinya dengan sosok tersebut. Dari situlah kondisi fisiknya semakin bergantung pada ritual yang sudah ia jalani.
Persaingan di dalam salon pun turut diwarnai hal-hal ganjil. Indah nyaris mencekik seorang rekan kerjanya sendiri saat bertengkar soal tamu, dan baru berhenti setelah ada suara bisikan perempuan di telinganya yang menyuruhnya beristighfar. Ketika ia mengucap astagfirullahalazim, cekikannya terlepas dengan sendirinya. Selain itu, saat ia mendapati uang dua ratus ribu rupiah di dompetnya hilang dan pelakunya sudah jelas, Indah mengucapkan kata-kata bahwa siapapun yang mengambil uangnya akan celaka keesokan harinya. Keesokan paginya perempuan itu nabrak pagar saat memarkirkan motor karena salah menggenggam gas.
Setelah setahun lebih hidup dalam kondisi itu, Indah yang sudah tidak kuat akhirnya menghubungi Mas Aloy kembali untuk meminta pertolongan. Aloy pun membawanya menemui seorang kiai. Di hadapan sang kiai, Indah menceritakan segalanya dengan jujur, termasuk ritual yang ia jalani, sosok yang menghantuinya, dan kondisi tubuhnya. Pak Kiai menegaskan bahwa Indah sudah sangat menyimpang dan kondisinya membahayakan nyawanya. Namun ia meyakinkan bahwa ada jalan keluar, asal Indah mau menjalani proses pembersihan dengan sabar.
Pak Kiai menyiapkan air yang diambil dari tujuh masjid berbeda. Indah diminta berganti pakaian, lalu berbaring di atas bambu dalam posisi terlentang. Air itu kemudian disiramkan dari ujung rambut ke bawah. Proses itu terasa bukan seperti siraman air biasa. Mulai dari kepala, panas yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh disertai kepulan asap tipis. Saat air mencapai leher, terlihat bekas cekikan merah hingga biru samar yang kemudian perlahan memudar. Ketika sampai ke bagian bawah, rasanya seperti ada benda keras yang dipaksakan keluar dari dalam tubuhnya, sebuah sensasi yang membuatnya menjerit kesakitan.
Pembersihan tidak selesai dalam satu kali sesi. Pak Kiai menegaskan bahwa Indah harus datang tiga kali dengan jeda dua hari di setiap kunjungan, karena ikatan yang sudah terbentuk tidak bisa dilepas sekaligus. Pada kunjungan kedua, rasa panas saat air disiramkan sudah berkurang cukup signifikan. Bekas jeratan di leher pun tampak semakin memudar. Pada kunjungan ketiga, air yang sama terasa dingin dan segar di seluruh tubuhnya. Pak Kiai menyampaikan bahwa Indah akhirnya bebas, dan mengingatkannya untuk memperbanyak istighfar serta kembali ke jalan yang benar.
Setelah proses pembersihan selesai, Indah mendatangi Dian untuk berpamitan dan mengundurkan diri. Ia meminta maaf kepada semua rekan kerjanya, termasuk kepada yang pernah berseteru dengannya. Ia meninggalkan salon tanpa menyisakan dendam, lalu pulang ke rumah dan memulai hidup baru yang jauh dari semua itu. Sekitar satu tahun setelah ia pergi, Dian mengabarinya bahwa salon itu akhirnya tutup karena sepi. Kabar itu tidak mengejutkan Indah sama sekali, karena ia tahu bahwa keramaian salon sejak awal memang bukan datang dari usaha manusia biasa.
Harta yang sempat Indah kumpulkan selama dua tahun menjalani kehidupan itu, tanah, motor, gadget, semuanya habis entah ke mana. Ia sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana semuanya bisa lenyap. Namun ia tidak menyesali kepergian semua itu karena menganggapnya memang sudah seharusnya hilang bersama dengan bab kelam yang pernah ia jalani. Satu hal yang ia syukuri adalah ia berhasil keluar sebelum terlambat, sebelum sosok itu benar-benar berhasil membawanya pergi untuk selamanya.
Mbak Indah menceritakan semua ini dengan terbuka tanpa menutup wajahnya, karena menurutnya tidak ada yang perlu disembunyikan dari keluarga yang sudah tahu semuanya dan mendukungnya untuk berbagi. Pesan yang ia titipkan kepada siapapun yang mendengar kisahnya hanya satu: jangan pernah mencoba ritual penglaris semacam itu. Tidak ada kekayaan yang datang dari jalan pintas tanpa membawa konsekuensi yang jauh lebih berat dari keuntungan yang dijanjikan. Dan ketika sebuah kesepakatan sudah terbentuk dengan makhluk dari alam lain, melepaskannya bukan sekadar soal niat, melainkan sebuah perjuangan panjang yang melelahkan jiwa dan raga.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
