Pada 2020, Kang Rijal menikah dengan perempuan yang kemudian menjadi pendampingnya dalam melewati masa paling berat dalam kehidupan. Pernikahan mereka berlangsung setelah keluarga menentukan hari baik berdasarkan perhitungan sesepuh. Kang Rijal yang telah lama bekerja di bidang farmasi kemudian mengajak istrinya berhenti dari pekerjaan di bank agar mereka dapat membangun usaha bersama.
Dengan pengalaman hampir 13 tahun di perusahaan farmasi, Kang Rijal mendirikan sebuah apotek. Dukungan modal juga datang dari orang tua dan mertua yang percaya terhadap kemampuannya. Selain apotek, ia membuka kedai sate, tempat berkumpul, serta mengembangkan usaha sebagai pemasok obat untuk klinik, dokter, dan beberapa instansi.
Usaha tersebut berkembang sangat cepat, terutama ketika pandemi membuat kebutuhan vitamin, sarung tangan, penyanitasi tangan, dan perlengkapan kesehatan meningkat. Dalam waktu sekitar satu tahun, omzetnya melonjak dan kehidupan keluarga mereka berubah. Kang Rijal mampu membeli kendaraan, memiliki rumah, mempekerjakan karyawan, dan menikmati hasil kerja keras bersama istrinya.
Kebahagiaan mereka semakin lengkap setelah dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun proses kelahirannya berlangsung tidak biasa karena pembukaan berjalan hampir satu minggu dan bayi tidak kunjung lahir meskipun telah diberi perangsang. Bayi itu akhirnya lahir dengan kondisi bibir sumbing serta posisi kedua tangan menyerupai orang yang sedang bersemedi.
Kang Rijal menerima keadaan anaknya dan membiayai serangkaian operasi menggunakan hasil usaha. Beberapa tahapan operasi dapat dilalui dengan baik hingga hanya menyisakan penanganan pada bagian gusi dan gigi. Pada masa itu, ia masih memiliki kemampuan finansial untuk memberikan perawatan terbaik tanpa bergantung sepenuhnya kepada bantuan orang lain.
Kehancuran mulai datang ketika Kang Rijal menerima proyek pengadaan barang kesehatan untuk sebuah instansi. Karena transaksi sebelumnya berjalan lancar, ia bersedia mengirim barang senilai ratusan juta rupiah dengan sistem pembayaran tempo. Setelah berbulan-bulan menunggu, pembayaran tidak pernah diterima dan surat perintah kerja yang digunakan ternyata palsu.
Kang Rijal tetap harus membayar distributor yang telah memasok barang kepadanya. Arus kas usahanya terganggu, apotek tutup, kedai berhenti beroperasi, dan gaji para karyawan tidak lagi dapat dipenuhi. Satu usaha yang runtuh menyeret usaha lainnya, sementara aset yang dahulu menjadi simbol keberhasilan mulai dijual untuk menutup kewajiban.
Di tengah kebangkrutan tersebut, mertua Kang Rijal menghubunginya ketika ia sedang menghadiri pertemuan kerja di Bandung. Sang mertua mengatakan istrinya mendadak sakit, pingsan, demam tinggi, dan mengeluarkan sebuah paku dari mulut. Kang Rijal awalnya tidak percaya meskipun telah menerima foto serta video benda tersebut.
Setelah pulang, Kang Rijal melihat langsung kondisi istrinya yang panas dingin dan sering kehilangan kesadaran. Sang istri mengaku dadanya terasa ditekan, napasnya sesak, pandangannya gelap, lalu ada sesuatu yang perlahan bergerak menuju tenggorokan. Setelah memuntahkan darah, sebuah paku keluar dari mulutnya dan ia tidak mengingat kejadian tersebut dengan jelas.
Peristiwa serupa terus berulang selama kurang lebih dua tahun. Dalam kesaksian Kang Rijal, istrinya mengalami sekitar 38 kejadian muntah paku. Gangguan biasanya diawali rasa mual, tubuh melemah, kesadaran berubah, serta mimpi-mimpi menakutkan yang muncul pada malam sebelum paku kembali keluar.
Kang Rijal membawa istrinya menjalani pemeriksaan medis sambil mencari berbagai pengobatan alternatif. Ia mendatangi banyak kota setelah mendengar informasi tentang orang yang dianggap mampu menyembuhkan gangguan tersebut. Kendaraan, barang berharga, dan aset yang tersisa dijual untuk membayar perjalanan, pengobatan, serta beragam persyaratan.
Sebagian tempat meminta kemenyan bernilai jutaan rupiah, ayam hitam dan putih, persembahan tertentu, hingga darah ayam yang harus diminum. Ada pula yang meminta paku dikubur atau dilemparkan ke sungai. Kondisi istrinya sempat membaik selama beberapa hari, tetapi gangguan selalu kembali dan paku kembali keluar.
Keadaan ekonomi keluarga akhirnya benar-benar terpuruk. Pada saat yang sama, istri Kang Rijal sedang mengandung anak kedua, sedangkan anak pertama masih membutuhkan operasi. Mereka pernah hanya memiliki uang Rp50 ribu menjelang Lebaran dan selama sekitar satu minggu mengandalkan nasi putih, nasi goreng sederhana, serta garam untuk bertahan hidup.
Kang Rijal memilih menyembunyikan kesulitan itu dari keluarga karena tidak ingin membuat orang tua semakin sedih. Namun ibunya yang tinggal bersama mereka akhirnya menangis dan ingin kembali ke rumah lama karena tidak sanggup melihat cucunya hanya makan nasi. Teman-teman yang dahulu dekat juga menjauh, bahkan ada yang tidak percaya ketika Kang Rijal mencoba meminjam uang untuk berbuka puasa.
Tekanan tersebut membuat Kang Rijal merasa Tuhan tidak adil. Ia mempertanyakan mengapa seluruh hartanya diambil, istrinya tidak kunjung sembuh, dan anaknya harus menjalani banyak operasi. Dalam kondisi sangat putus asa, ia pernah merasa mendengar tawaran bahwa kekayaannya dapat dikembalikan dengan menyerahkan anak yang masih berada dalam kandungan atau nyawa istrinya.
Sang istri juga terus mengalami mimpi mengerikan, seperti fotonya ditancapkan pada pohon, dilempari tanah, dikejar ular besar, dan dicekik hingga sulit bernapas. Keduanya beberapa kali merasa tidak sanggup melanjutkan hidup, tetapi mimpi tentang anggota keluarga yang telah meninggal selalu mengingatkan bahwa perjalanan mereka masih panjang.
Anak kedua akhirnya lahir melalui operasi sesar dengan kondisi bibir sumbing seperti kakaknya. Pada hari yang sama, sang istri kembali mengeluarkan paku di rumah sakit. Karena anak tersebut sulit menerima ASI dan keluarga tidak mampu membeli susu, bayi itu sempat hanya diberi air teh hingga bagian mulutnya mengalami masalah.
Pada malam Jumat ketika seluruh usaha manusia terasa tidak lagi memberikan jawaban, Kang Rijal melakukan tawasul dan berzikir di dalam kamar. Ia mengaku merasakan banyak sosok berada di sebelah kiri, sedangkan keluarga serta orang-orang yang telah meninggal berada di sisi lain. Almarhum ayah mertuanya kemudian muncul dalam penglihatannya dan menunjukkan sebuah jalan yang dipenuhi cahaya sambil memintanya kembali mengikuti jalan Tuhan.
Kang Rijal kehilangan kesadaran setelah cahaya tersebut terasa mengenai wajahnya. Keesokan paginya, sebuah keris ditemukan di samping bantalnya tanpa diketahui siapa yang meletakkannya. Pada masa yang hampir bersamaan, istrinya bermimpi memperoleh petunjuk untuk membaca Yasin Fadilah dan Doa Nurbuat, yang ternyata tersimpan dalam kitab milik ibu Kang Rijal.
Pertemuan dengan seorang teman bernama samaran Budi kemudian mempertemukan Kang Rijal dengan Om Anto, seorang pekerja sederhana di bagian belakang rumah makan. Om Anto melafalkan doa yang sama dengan petunjuk dalam mimpi istrinya. Setelah Kang Rijal menghafalkan doa tersebut, ia dan istrinya dibawa menjalani tirakat selama 41 hari di sebuah gua di kawasan pegunungan Sukabumi.
Selama tirakat, Kang Rijal berpuasa, berzikir, hidup dengan persediaan beras terbatas, dan menjalani pemandian di tujuh pancuran. Ia memandikan istrinya menggunakan air gunung sambil berdoa dan menyerahkan seluruh hasilnya kepada Tuhan. Setelah proses itu selesai, sang istri tidak lagi muntah darah maupun mengeluarkan paku, meskipun Kang Rijal kehilangan pekerjaannya karena terlalu lama meninggalkan tugas.
Kang Rijal kemudian memulai hidup dari nol dan memperoleh pekerjaan baru di Bekasi dalam bidang yang berbeda. Sedikit demi sedikit ia membayar utang serta membangun kembali kehidupan keluarganya. Beberapa bulan kemudian, pasangan suami istri bernama samaran Darto dan Eis menemuinya sambil menangis dan meminta maaf atas perbuatan yang diduga berkaitan dengan persaingan bisnis. Kang Rijal memilih memaafkan dan tidak membalas, karena pengalaman itu mengajarkannya bahwa kehancuran tidak boleh membuat seseorang meninggalkan Tuhan, sedangkan rezeki yang hilang masih dapat dicari kembali selama keluarga, keyakinan, dan kesempatan hidup tetap dijaga.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
