Kisah Mas Budi bermula sekitar tahun 2000, ketika ia masih menjalani kehidupan sederhana di Indramayu. Sebelum terjun ke dunia proyek, ia sempat bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar. Penghasilannya saat itu tidak besar, sehingga ketika seorang teman menawarinya bergabung dalam pekerjaan proyek, ia memutuskan mencoba bidang baru tersebut. Meskipun hanya lulusan SMA dan tidak memiliki latar belakang teknik, Mas Budi perlahan belajar hingga dipercaya menjadi pengawas lapangan.
Karier Mas Budi berkembang dari proyek kecil di daerah hingga pekerjaan besar di luar kota. Ia pernah terlibat dalam kegiatan infrastruktur, pembebasan lahan bandara, dan pembangunan apartemen. Di balik perjalanan tersebut, Mas Budi berasal dari keluarga sederhana dengan lima bersaudara. Ayahnya telah meninggal ketika ia selesai sekolah, sehingga ia berusaha bekerja keras untuk membantu dan membahagiakan ibunya.
Selain bekerja, Mas Budi mulai menjalani puasa dan tirakat atas arahan kakaknya. Ia diajarkan puasa mutih dan puasa ngasrep, bukan untuk mencari kesaktian, melainkan sebagai latihan mengendalikan diri, menjaga keselamatan, dan memohon kelancaran rezeki. Pada malam Jumat Kliwon, ia terbiasa duduk bersila sambil membaca wirid. Kebiasaan itulah yang menurutnya menjadi awal pertemuannya dengan sosok perempuan dari alam berbeda.
Suatu malam, suasana ketika Mas Budi berwirid terasa tidak seperti biasanya. Udara yang semula panas mendadak berubah sangat dingin, sedangkan bayangan terlihat bergerak di sekeliling ruangan. Bayangan tersebut perlahan menampakkan diri sebagai seorang perempuan cantik berambut panjang hingga pinggul. Ia mengenakan kebaya dan kain bergaya lama, sehingga Mas Budi yakin perempuan itu bukan orang biasa yang datang ke rumahnya pada tengah malam.
Perempuan tersebut mendekat, memegang lutut Mas Budi, lalu bersujud di hadapannya. Mas Budi bahkan sempat menyentuh pundaknya dan merasakan bahwa sosok itu memiliki bentuk fisik yang nyata. Ketika ditanya siapa dirinya dan mengapa datang, perempuan itu hanya menjawab bahwa ia ingin ikut bersama Mas Budi. Berbagai alasan yang disampaikan untuk menolaknya tidak membuat perempuan tersebut mengubah keputusan.
Karena terus didesak, Mas Budi akhirnya mengizinkan perempuan itu mengikutinya. Sejak malam tersebut, sosok yang sama berulang kali hadir dalam mimpi. Beberapa hari kemudian, Mas Budi melihatnya sedang duduk di kamar ketika dirinya hendak tidur. Perempuan itu mengatakan tidak perlu khawatir karena ibu Mas Budi maupun orang lain tidak akan dapat melihat keberadaannya.
Setelah keduanya semakin akrab, perempuan tersebut mengajak Mas Budi berjalan-jalan ke tempat tinggalnya. Pada suatu malam, Mas Budi diminta duduk di tempat salat, menggenggam tangannya, dan memejamkan mata. Ketika diperintahkan membuka mata, ia mengaku tidak lagi berada di rumah. Di hadapannya terlihat sebuah gerbang besar yang dijaga orang-orang bersenjata tombak.
Mas Budi melewati tiga gerbang sebelum tiba di sebuah pendopo yang sangat besar dan megah. Bangunan itu dihiasi warna keemasan serta benda-benda menyerupai batu permata. Di dalamnya duduk seorang laki-laki gagah dan berwibawa yang mengenakan mahkota seperti seorang raja. Para pengawal serta orang-orang di sekitar tempat tersebut memberikan penghormatan ketika Mas Budi dan perempuan itu berjalan melintas.
Laki-laki yang duduk di singgasana bertanya apakah Mas Budi merupakan pria yang telah dipilih oleh perempuan tersebut. Setelah berbicara dengan putrinya, ia menyatakan persetujuan terhadap keinginan mereka. Saat itulah Mas Budi mengetahui bahwa laki-laki tersebut merupakan ayah dari sosok perempuan yang selama ini mengikutinya. Seusai pertemuan, Mas Budi kembali menggenggam tangan perempuan itu dan mendadak sudah berada lagi di tempat salat rumahnya.
Dalam pertemuan berikutnya, perempuan tersebut akhirnya memperkenalkan diri sebagai Nyimas Dewi Kenanga. Mas Budi baru memahami bahwa aroma bunga kenanga yang sering memenuhi rumah merupakan tanda kehadirannya. Bau harum itu terkadang juga tercium oleh ibu, kakak, dan teman-teman Mas Budi, meskipun mereka tidak dapat melihat sosoknya. Mas Budi biasanya beralasan bahwa aroma tersebut berasal dari orang yang kebetulan lewat di sekitar rumah.
Rahasia itu mulai terbuka ketika Nyimas datang ke pintu belakang dan mengucapkan salam saat Mas Budi sedang makan bersama ibu serta kakaknya. Mas Budi dapat melihatnya dengan jelas, sedangkan keluarganya hanya mendengar suara salam dan ketukan pintu. Setelah makan, sang kakak menanyakan sudah berapa lama Mas Budi berhubungan dengan sosok tersebut. Mas Budi akhirnya mengakui seluruh kejadian yang dialaminya.
Kakaknya kemudian menyarankan agar hubungan tersebut disahkan melalui sebuah proses pernikahan. Mas Budi sempat mempertanyakan apakah manusia mungkin menikahi makhluk ghaib, tetapi kakaknya meminta ia mengikuti petunjuk yang diberikan. Mas Budi harus membersihkan diri dan menjalani puasa mutih selama satu hari. Ketika berbuka, ia hanya diperbolehkan meminum segelas air putih sebelum melanjutkan wirid pada malam hari.
Saat berwirid, Mas Budi merasa seperti dibawa menuju sebuah prosesi pernikahan. Ia mengaku melihat anggota keluarga dan beberapa sosok asing berkumpul di rumah. Dalam prosesi tersebut terdapat pembacaan syahadat serta ijab kabul sederhana. Mas Budi duduk di samping sebuah kursi kosong karena Nyimas tidak tampak oleh orang-orang yang hadir. Setelah kesadarannya kembali, ia merasa pernikahan itu telah selesai dan hubungan mereka dinyatakan sah.
Sejak saat itu, Nyimas selalu mendampingi Mas Budi seperti seorang istri. Menurut pengakuannya, mereka menjalani hubungan layaknya pasangan suami istri meskipun berasal dari dua alam berbeda. Nyimas juga kerap memperingatkannya ketika ada pekerjaan berbahaya, serangan ghaib, atau orang yang memiliki niat buruk. Mas Budi memandang sosok tersebut sebagai jin yang mengajarkannya menjalankan salat, berbuat baik, dan menjaga diri.
Ketika bekerja sebagai salah seorang direksi produksi dalam proyek besar di Jakarta, perusahaan Mas Budi mengalami kesulitan keuangan. Para direksi berusaha mencari dana talangan, tetapi beberapa kali pulang tanpa hasil. Pada perjalanan terakhir, Mas Budi diajak menemui seorang ustaz di sebuah desa. Ia awalnya mengira ustaz tersebut menjadi perantara pemberi pinjaman, tetapi pembicaraan yang terjadi justru mengarah kepada persoalan spiritual.
Ustaz itu tiba-tiba menanyakan perempuan yang berada di luar rumah, padahal seluruh rombongan yang datang adalah laki-laki. Ia lalu menyebut perempuan tersebut sebagai istri Mas Budi. Rekan-rekannya terkejut karena tidak pernah mengetahui hubungan itu. Sang ustaz mengatakan bahwa persoalan keuangan perusahaan dapat diserahkan kepada Mas Budi karena ia cukup meminta bantuan kepada istri ghaibnya.
Mas Budi kemudian masuk ke sebuah ruangan seorang diri pada tengah malam. Ia membawa kelapa muda, bunga kenanga, air putih, dan dupa sesuai petunjuk yang pernah diberikan Nyimas. Setelah dua batang dupa habis tanpa hasil, pada dupa ketiga ruangan mulai bergetar seperti terkena gempa. Angin kencang, petir, dan hujan lebat juga muncul secara tiba-tiba, meskipun sebelumnya cuaca terlihat cerah.
Nyimas lalu menampakkan diri dan meminta Mas Budi melihat bagian depan sajadah. Di sana terdapat beberapa ikat uang pecahan 100 dolar. Ketika sajadah dibuka, Mas Budi juga melihat ratusan ikat uang rupiah tersusun di bawahnya. Nyimas mengatakan bahwa uang itu merupakan hak Mas Budi, tetapi dapat digunakan untuk membantu rekan-rekannya di perusahaan.
Namun, Nyimas memperingatkan bahwa sebagian besar direksi memiliki sifat serakah dan berpotensi menyalahgunakan uang tersebut. Menurutnya, hanya seorang rekan yang dipanggil Pak Haji yang memiliki niat baik. Karena itu, Nyimas memutuskan belum menyerahkan uang tersebut kepada mereka. Setelah sosoknya menghilang, seluruh tumpukan dolar dan rupiah di depan serta di bawah sajadah ikut lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Dalam perjalanan hidup berikutnya, Mas Budi tetap ingin memiliki keluarga yang dapat dilihat oleh manusia lain. Nyimas sempat memperingatkan bahwa tiga perempuan yang didekatinya memiliki sifat kurang baik, dan peringatan itu menurut Mas Budi terbukti benar. Setelah ia meminta kebebasan memilih pasangan, Nyimas akhirnya mengizinkannya menikahi seorang perempuan manusia. Pada malam pernikahan, istri manusianya bermimpi didatangi seorang perempuan yang menitipkan Mas Budi kepadanya sebelum pergi.
Walaupun telah menikah dengan manusia, Mas Budi merasa Nyimas tetap mendampingi dan melindungi keluarganya, termasuk ketika istrinya mengandung. Ia pernah berusaha memutus ikatan tersebut melalui beberapa orang yang dianggap memahami masalah spiritual, tetapi semua upaya itu gagal. Mas Budi kemudian memilih menerima hubungan tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Ia mengaku telah berpisah dari istri manusianya sejak tahun 2019 serta memiliki seorang anak perempuan dari pernikahannya dengan Nyimas Dewi Kenanga. Hingga cerita ini disampaikan, sosok itu disebut masih mengikutinya, dan Mas Budi berpesan agar pengalamannya dipandang sebagai kisah pribadi untuk diambil hikmahnya, bukan sebagai sesuatu yang harus ditiru.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
