Kisah ini disampaikan oleh Mas Nana, seorang seniman asal Indramayu yang bekerja membuat patung, dekorasi, lukisan, dan relief. Peristiwa tersebut bermula pada tahun 2007, ketika ia kembali dari perantauan dan bertemu dengan tiga sahabat lamanya yang dalam cerita disamarkan sebagai Mas Tas, Mas Kar, dan Mas No. Ketiganya sebenarnya telah memiliki pekerjaan atau usaha, tetapi merasa hasil yang diperoleh belum cukup untuk mengubah kehidupan mereka.
Mas Tas menjalankan usaha kerupuk ikan yang belum berkembang, Mas Kar membantu istrinya berjualan masakan, sedangkan Mas No bekerja sebagai buruh bangunan yang jarang mendapatkan panggilan. Saat berkumpul dan mengenang masa lalu, mereka mengeluhkan keadaan masing-masing kepada Mas Nana. Dari obrolan itu muncul ajakan untuk berziarah ke sejumlah tempat keramat dengan harapan memperoleh jalan keluar dari kesulitan ekonomi.
Pada perjalanan pertama, mereka mendatangi sebuah lokasi sekitar dua kilometer dari pusat Kota Indramayu. Namun, lima meter sebelum gerbang, Mas Nana tiba-tiba terjatuh meskipun tidak melihat benda yang menghalangi jalannya. Tubuhnya terasa lemas sehingga ia memilih menunggu di luar, sementara ketiga temannya masuk. Kejadian serupa kembali dialaminya ketika mereka berziarah ke tempat keramat lain yang bukan makam wali.
Dalam kunjungan berikutnya, Mas Nana merasa tersandung sebuah batu yang kemudian tidak terlihat oleh teman-temannya. Ia mulai menduga ada sesuatu yang sengaja menghalanginya memasuki tempat-tempat tersebut. Pada perjalanan keempat, mereka menemui seorang kuncen tanpa mengetahui secara jelas tujuan sebenarnya. Mas Nana kembali merasa tidak nyaman dan memilih menunggu di luar ketika ketiga temannya berbicara dengan kuncen.
Setelah pertemuan itu, mereka diminta membeli berbagai perlengkapan ritual, seperti kemenyan, ikan asin, kelapa muda, bunga tujuh rupa, rokok, sirih, minuman, dan sesajen lainnya. Biayanya ditanggung bersama oleh empat orang. Pada malam hari sekitar pukul sembilan, kuncen membawa mereka ke sebuah lokasi yang jauh dari permukiman dan berada di dekat kawasan pesisir.
Di tempat tersebut, kuncen mengijabkan sesajen dan meminta mereka menuliskan nama masing-masing. Kertas bertuliskan nama itu diletakkan bersama persembahan, lalu keempatnya duduk berpencar di dalam ruangan. Lampu dimatikan hingga keadaan menjadi gelap, sementara bau bunga dan kemenyan memenuhi udara. Kuncen berpesan agar mereka menjawab apabila ada sosok yang datang mengajak berbicara.
Mas Nana merasa tubuhnya tidak nyaman, pandangannya berkunang-kunang, dan kesadarannya seperti terlepas. Dalam keadaan menyerupai mimpi, ruangan mendadak tampak terang dan asap hitam berputar-putar di hadapannya. Asap itu kemudian berubah menjadi tiga sosok anak kecil yang menari. Menurut penglihatannya, mereka memiliki telinga panjang, mata melotot, dan gigi runcing seperti gigi ikan.
Setelah ketiga sosok itu menghilang, datang seorang perempuan cantik berambut terurai, mengenakan mahkota dan pakaian merah berhias seperti busana pengantin. Ia ditemani dua perempuan lain yang bertindak sebagai pengawal. Salah seorang pengawal menyerahkan sebuah karung berisi gelang, kalung, dan cincin emas. Namun, sebagai gantinya Mas Nana diminta memilih antara istri atau anaknya, yang wajahnya diperlihatkan melalui sebuah gambar.
Mas Nana menolak tawaran emas tersebut dan membuang gambar yang diberikan kepadanya. Pengawal lainnya lalu menyerahkan tas kecil berisi uang kertas asing. Kali ini, gambar yang ditunjukkan adalah dirinya sendiri, seolah umur Mas Nana harus ditukar dengan uang tersebut. Ia kembali menolak dan meminta semua harta itu dibawa pergi.
Perempuan bermahkota itu marah dan mempertanyakan alasan Mas Nana datang apabila tidak menginginkan kekayaan. Ketika berbalik pergi, wujud bagian bawah tubuhnya terlihat menyerupai ular besar yang meliuk-liuk. Mas Nana pun menyadari bahwa sosok tersebut adalah siluman atau Ratu Ular. Ia membaca istigfar dalam hati hingga penglihatan itu lenyap dan ruangan kembali gelap.
Setelah ritual selesai, kuncen memanggil mereka satu per satu. Ketiga sahabat Mas Nana tidak mau menceritakan apa yang mereka lihat atau keputusan yang mereka ambil. Ketika Mas Nana mengaku menolak semua tawaran Ratu Ular, kuncen justru menyebutnya bodoh karena menyia-nyiakan kesempatan. Sejak saat itu, Mas Nana mulai mencurigai bahwa ketiga temannya telah menerima perjanjian tersebut.
Sekitar satu tahun kemudian, perubahan besar mulai terlihat. Usaha kerupuk ikan Mas Tas berkembang hingga jumlah karyawannya bertambah dari tiga menjadi sekitar sepuluh orang. Warung makanan Mas Kar selalu dipenuhi pembeli, sedangkan Mas No naik dari buruh biasa menjadi kepala tukang yang menerima banyak proyek pembangunan. Mereka membeli kendaraan, memperbaiki rumah, dan memiliki aset yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Ketiga sahabat itu meminta Mas Nana merahasiakan perjalanan mereka dari keluarga. Mereka juga sering memberinya uang, tetapi Mas Nana tidak pernah menggunakan pemberian tersebut dan memilih menyimpannya di bawah Al-Qur’an. Ketika berkunjung ke rumah mereka, ia melihat bayangan hitam yang meliuk-liuk seperti ular. Ia juga menemukan kamar khusus bertirai yang berisi tampah dan sesajen serupa dengan persembahan di tempat ritual.
Pada suatu hari, mereka kembali berkumpul untuk memancing. Ketika Mas Tas menoleh, Mas Nana sesaat melihat wajahnya bertaring dan berkepala botak. Tubuh Mas Kar tampak dipenuhi bulu, sedangkan telinga dan dagu Mas No terlihat memanjang. Perubahan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum wajah mereka kembali normal, tetapi cukup membuat Mas Nana merasa tersiksa oleh penglihatan yang dialaminya.
Pengalaman yang lebih mengerikan terjadi saat ketiga sahabatnya mengajak Mas Nana mendatangi sebuah warung hiburan. Mereka memesan minuman dan ditemani beberapa perempuan yang kemudian menari bersama. Dalam penglihatan Mas Nana, perempuan-perempuan tersebut berubah menjadi siluman ular dengan ekor yang terlihat jelas. Ia memilih menjauh karena tidak sanggup menyaksikan kejadian itu.
Setelah didesak, salah seorang temannya akhirnya mengakui bahwa mereka telah menukar umur demi kekayaan. Mereka merasa pilihan itu lebih baik karena keluarga tidak perlu dijadikan tumbal. Mas Nana memahami bahwa kontrak tersebut hanya memberi mereka waktu sekitar lima tahun. Ia semakin takut berdekatan dengan ketiga sahabatnya, tetapi belum berani mengungkapkan rahasia itu kepada keluarga mereka.
Kesempatan untuk menjauh datang ketika Mas Nana memperoleh tawaran pekerjaan membuat patung dan dekorasi di Riau. Ia menerima kontrak selama dua tahun dan meninggalkan Indramayu ketika perjanjian ketiga temannya telah berjalan sekitar tiga tahun. Meski berada jauh, pengalaman melihat Ratu Ular terus menghantuinya, terutama ketika ia harus mengerjakan patung berbentuk naga atau ular.
Menjelang kepulangannya, lebih dari lima tahun setelah ritual, Mas Nana menerima kabar bahwa Mas Tas telah meninggal. Ia baru dapat menghadiri acara tahlil hari ke-40 setelah kembali ke Indramayu. Saat doa berlangsung, ia melihat asap meliuk-liuk seperti kepanasan dan berulang kali membentur dinding. Tidak lama kemudian, Mas Kar dirawat di rumah sakit, meninggal secara mendadak, dan meninggalkan lebam biru pada tubuhnya.
Ketika Mas Kar dimakamkan, Mas Nana mengaku melihat asap keluar dari kuburnya, tetapi pelayat lain tidak melihat apa pun. Sekitar sebulan berikutnya, Mas No tersengat kabel listrik ketika memperbaiki genting. Ia masih sempat dirawat dan berbicara, tetapi meninggal pada malam Jumat Kliwon. Dalam waktu yang berdekatan, ketiga sahabat yang menerima perjanjian itu akhirnya meninggal dunia.
Mas Nana kemudian kembali menemui kuncen dan mendapat penjelasan bahwa ketiga temannya memang telah menyerahkan umur serta hanya diberi waktu lima tahun. Ia dinyatakan selamat karena menolak tawaran Ratu Ular. Setelah kematian mereka, seluruh usaha runtuh, kendaraan dan rumah dijual, warung ditutup, serta keluarga yang ditinggalkan kembali mengalami kesulitan. Mas Nana menjadikan kisah tersebut sebagai peringatan bahwa kekayaan instan tidak membawa ketenangan apabila diperoleh dengan mempertaruhkan umur dan kehidupan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
