Kisah ini disampaikan oleh Mbak Nini dan terjadi pada tahun 2012, ketika ia mengikuti suaminya bekerja sebagai kuli bangunan di Semarang, Jawa Tengah. Setelah tiba di kota tersebut, pasangan itu menyewa kamar kos yang letaknya tidak jauh dari lokasi proyek agar sang suami dapat berjalan kaki menuju tempat kerja. Kehidupan mereka berjalan sederhana karena penghasilan suaminya hanya cukup untuk membayar sewa dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sekitar seminggu setelah tinggal di Semarang, ibu Mbak Nini menelepon dan mengatakan sedang membutuhkan uang sekitar satu juta rupiah. Mbak Nini ingin membantu, tetapi tabungan mereka telah habis untuk ongkos perjalanan, biaya kos, dan kebutuhan hidup. Meskipun suaminya sempat keberatan, ia bersikeras mencari pekerjaan tambahan agar dapat mengirimkan uang kepada ibunya di kampung.
Ketika berjalan mencari lowongan, Mbak Nini melihat tulisan “dicari karyawan” di sebuah warung bakso. Ia menemui pemilik warung dan langsung diterima bekerja dengan gaji sekitar enam ratus ribu rupiah. Warung itu mempekerjakan kurang lebih dua puluh orang, sehingga pada awalnya Mbak Nini mengira tempat tersebut hanyalah usaha kuliner besar yang memiliki banyak pelanggan.
Sebelum mulai bekerja, pemilik warung mengajak Mbak Nini berbicara empat mata dan menjelaskan sejumlah larangan. Ia tidak boleh membuka atau mengaduk dandang bakso, menuangkan kuah ke dalam mangkuk, mengangkat maupun mencuci dandang, serta memasuki bagian belakang tertentu. Semua urusan yang berhubungan dengan dandang hanya boleh dilakukan oleh pemilik warung dan istrinya.
Pada hari pertama, Mbak Nini terkejut melihat ramainya pelanggan. Seluruh kursi di dalam kios terisi, sementara pembeli lain mengantre sampai ke trotoar sambil menunggu tempat duduk. Bahkan sebelum jam istirahat kerja, pesanan sudah datang bertubi-tubi hingga para karyawan kewalahan membawa mangkuk bakso dan minuman kepada pelanggan.
Banyak pelanggan mengatakan mereka ketagihan dengan rasa kuah bakso tersebut. Ada rombongan yang bersedia menunggu lama meskipun tempat duduk penuh. Di balik keramaian itu, Mbak Nini mulai merasakan suasana aneh ketika diminta mengambil seledri, mangkuk, atau peralatan dari dapur belakang. Seorang karyawan bernama Mas Widi berkali-kali mengingatkannya agar tidak menoleh ke kanan dan kiri serta segera kembali ke depan.
Pada suatu malam, Mbak Nini lupa terhadap aturan dan mencoba mengangkat dandang yang hendak dibersihkan. Pemilik warung langsung memarahinya dan menegaskan bahwa karyawan tidak boleh menyentuh ataupun mencuci dandang tersebut. Teguran itu terus diungkit selama beberapa hari, membuat Mbak Nini merasa pemilik warung takut sebuah rahasia akan terbuka apabila orang lain memeriksa tempat memasak bakso.
Keanehan bertambah setelah seorang pelanggan tetap bernama Mbak Rini datang dan meminta nomor telepon Mbak Nini. Pemilik warung terlihat curiga dan berulang kali menanyakan apa yang mereka bicarakan. Mbak Rini tidak langsung menjelaskan tujuannya, tetapi sikapnya menunjukkan bahwa ia mengetahui sesuatu tentang warung tersebut dan merasa perlu menjaga hubungan dengan karyawan baru itu.
Beberapa hari kemudian, Mbak Rini datang lagi setelah menjalani puasa, tirakat, dan mati geni atas petunjuk seseorang yang dianggap memahami masalah spiritual. Ketika semangkuk bakso diletakkan di hadapannya, ia tiba-tiba menatap sesuatu yang tidak dapat dilihat Mbak Nini. Mbak Rini kemudian memanggil pemilik warung dan mendesaknya mengakui apa yang berada di sekitar makanan tersebut.
Situasi berubah menjadi keributan ketika Mbak Rini membuka dan mengaduk isi dandang. Ia berteriak bahwa benda di dalamnya bukan kepala sapi, melainkan kepala manusia. Pemilik warung berusaha menenangkannya dan meminta masalah diselesaikan secara damai, tetapi Mbak Rini mengancam akan membawa persoalan itu ke pengadilan. Pelanggan panik, beberapa mangkuk jatuh, dan warung akhirnya ditutup lebih awal.
Keesokan harinya, warung masih buka, tetapi jumlah pembeli mulai berkurang. Kabar keributan diduga menyebar dan orang-orang yang sebelumnya berdesakan tidak lagi datang sebanyak biasanya. Pemilik warung semakin mencurigai kedekatan Mbak Nini dengan Mbak Rini, bahkan meminta para karyawan mengabaikan pelanggan tersebut apabila ia kembali.
Pada suatu malam setelah warung mulai sepi, Mbak Nini melihat pemiliknya membawa sebuah tampah berisi bunga, minuman, makanan, dan benda-benda yang menyerupai sesajen. Tampah itu dibawa menuju kamar tertutup di bagian belakang yang tidak memiliki jendela dan selalu digembok dari luar. Ketika mengintip dari kejauhan, Mbak Nini mengaku melihat sosok pocong berjalan tepat di belakang sang pemilik.
Rasa penasaran membuat Mbak Nini mendekati pintu kamar dan mendengar pemilik warung membaca mantra yang tidak dipahaminya. Karena merinding, ia segera meninggalkan tempat tersebut dan pulang ke kamar kos. Namun, teror seolah mengikutinya. Saat mencuci muka dan menatap cermin kamar mandi, ia melihat pocong berdiri di belakang tubuhnya.
Pada dini hari, Mbak Nini kembali terbangun dalam ketakutan. Ketika menoleh ke arah suaminya, sosok yang terbaring di sampingnya tampak seperti pocong. Ia berteriak hingga para tetangga berdatangan, tetapi tidak seorang pun melihat penampakan tersebut. Suaminya mengira Mbak Nini hanya kelelahan, sedangkan Mbak Nini yakin gangguan itu berkaitan dengan apa yang disaksikannya di warung.
Saat Mbak Nini tidak masuk kerja karena tubuhnya terasa lemas, Mbak Rini menelepon dan datang ke kamar kosnya. Dalam pertemuan itu, Mbak Rini menjelaskan bahwa hasil tirakat membuatnya dapat melihat sosok pocong dan benda mengerikan di dalam dandang. Ia juga mengatakan sengaja meminta nomor telepon Mbak Nini karena khawatir karyawan baru itu sedang berada dalam bahaya.
Mbak Rini kemudian mengungkapkan bahwa salah seorang kerabatnya pernah bekerja di warung bakso tersebut. Menurut ceritanya, warung itu awalnya tidak terlalu ramai, tetapi mendadak dipenuhi pembeli setelah kerabatnya meninggal. Wajah Mbak Nini dianggap sangat mirip dengan korban tersebut, sehingga Mbak Rini takut kejadian serupa akan terulang dan Mbak Nini dijadikan korban berikutnya.
Setelah kembali bekerja, Mbak Nini mendapati jumlah pelanggan terus menurun hingga hanya sekitar lima puluh porsi yang terjual dalam sehari. Pemilik warung terlihat sering melamun dan mengeluh sakit kepala. Mas Widi akhirnya mengakui bahwa ia mengetahui adanya kejanggalan, tetapi tidak berani berbicara terbuka karena rumahnya berada dekat dengan lokasi warung dan ia takut menerima gangguan.
Mbak Nini hanya bertahan bekerja sekitar empat bulan. Ketakutan terhadap kamar belakang, pocong, dan kemungkinan menjadi korban membuatnya memutuskan mengundurkan diri dengan alasan harus menemani ibunya di kampung. Ia mengemas barang, meninggalkan Semarang seorang diri menggunakan kereta, dan memilih tidak kembali lagi ke warung bakso tersebut.
Setelah tiba di kampung, Mbak Nini menjalani pembersihan dan rukiah bersama seorang ustaz. Ia dimandikan dengan air bunga, diberi air untuk diminum dan dibasuhkan ke wajah, lalu muntah berkali-kali selama proses berlangsung. Menurut penjelasan ustaz tersebut, gangguan yang dialaminya berkaitan dengan praktik pesugihan pocong yang diduga dijalankan di warung tempatnya bekerja.
Beberapa waktu kemudian, Mas Widi mengabarkan bahwa warung bakso itu telah tutup. Pemilik dan istrinya dikatakan jatuh sakit, sedangkan mobil, tanah, serta sebagian besar aset mereka dijual untuk biaya pengobatan hingga hanya menyisakan rumah. Mbak Rini juga menegaskan bahwa kerabatnya merupakan korban yang membuat usaha tersebut mendadak ramai. Pengalaman itu membuat Mbak Nini trauma terhadap bakso dan berpesan agar orang selalu berdoa sebelum makan serta tidak tergoda mencari keuntungan melalui jalan yang merugikan nyawa orang lain.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
