Mas Tile bukan orang yang lahir dengan segalanya. Ia memulai usahanya benar-benar dari nol — merantau ke kota pada tahun 2008 dengan modal hanya seratus lima puluh ribu rupiah di saku dan semangat yang melebihi apapun yang ia miliki. Bersama teman-teman dari kampung, ia tinggal di kontrakan yang mayoritas penghuninya adalah para pedagang plastik. Di sanalah ia belajar segalanya dari awal — cara mengepak, cara mengikat, dari mana belanja, ke mana menjual. Hari pertama berjualan pun ia lakukan naik angkot, berkeliling dari pasar ke pasar, dengan satu prinsip yang ia pegang teguh: tidak pulang sebelum barang habis terjual.
Prinsip itu rupanya bukan sekadar tekad kosong. Pada tahun 2009, hanya setahun setelah memulai, usahanya sudah berkembang dengan modal jutaan rupiah dan stok barang yang cukup untuk mengisi satu mobil penuh. Ia mulai mengajak dua orang teman untuk membantu mengepak dan berjualan. Lalu pada bulan Maret di tahun yang sama, ia menikah, dan suntikan dana dari mertua serta pinjaman dari bank semakin mempercepat laju pertumbuhannya. Memasuki tahun 2010, Mas Tile sudah memiliki empat cabang usaha, sebuah toko sendiri, rumah, dan kendaraan. Dari seorang pedagang kantong kresek keliling, ia telah menjadi seorang bos yang disegani.
Keberhasilan itu mulai terusik pada tahun 2012, ketika seorang kenalan lama bernama Otong tiba-tiba muncul di tokonya. Otong mengaku sedang banyak pesanan namun kehabisan modal, dan meminta Mas Tile untuk menyuplai barang. Karena tak ingin menutup pintu bagi sesama orang kampung yang tengah berjuang, Mas Tile mengiyakan — ia menyuplai barang senilai beberapa juta rupiah sebagai permulaan. Otong membayar tepat waktu, bahkan sebelum jatuh tempo, lalu mengambil lagi dengan nominal yang lebih besar. Kepercayaan itu terus tumbuh, hingga angkanya mencapai ratusan juta rupiah.
Namun Otong tidak pernah kembali. Setelah dua puluh hari tanpa kabar, Mas Tile mendatangi alamat Otong dan mendapati kenyataan yang menghancurkan — barang-barangnya sudah tidak ada, mobil tidak ada, dan Otong pun telah menghilang tanpa jejak. Anak buah yang ditinggalkan bahkan mengaku tidak makan selama dua hari karena hanya diberi uang seratus ribu untuk kebutuhan seminggu. Bukan hanya kehilangan barang dari Otong — hampir bersamaan, pihak pabrik menagih hutang sebesar lima puluh juta rupiah karena sang pemilik pabrik meninggal dunia dan ahli warisnya meminta pelunasan segera. Lalu datang pula kabar bahwa tokonya dijarah orang tak dikenal. Dalam waktu yang sangat singkat, seluruh yang dibangunnya selama bertahun-tahun runtuh sekaligus.
Tekanan itu datang dari segala arah. Debt collector mendatangi rumahnya subuh-subuh, menyeretnya ke dalam mobil, mengancam akan melaporkan kasus penggelapan jika hutang tidak segera dibayar. Istri yang diharapkan bisa menjadi sandaran justru marah-marah karena panik. Ibu di kampung pun tidak bisa memberikan solusi. Mas Tile berada di titik paling gelap dalam hidupnya — tidak punya uang, tidak punya modal, usaha hancur, dikelilingi ancaman dari berbagai penjuru, dan tidak tahu harus ke mana lagi.
Di tengah keputusasaan yang memuncak itulah ia bertemu kembali dengan Asep, teman lama dari zaman ngojek dulu, secara tak sengaja di warung. Asep yang mendengar curahan hati Mas Tile lalu menawarkan sesuatu — bukan pinjaman uang, melainkan kenalan kepada seorang yang disebutnya sebagai Abah, sosok yang diklaim pernah membantu orang lain mendapatkan rezeki secara mendadak. Mas Tile yang sudah tidak punya pilihan, yang pikirannya sudah gelap oleh tekanan dari segala arah, menyetujui tawaran itu tanpa banyak berpikir.
Sesampainya di kediaman Abah, Mas Tile mengutarakan masalahnya. Abah mengatakan ada jalan keluarnya — sebuah ritual yang disebut pesugihan, dengan syarat-syarat yang katanya semua ada di pasaran dan mudah dicari. Tujuh macam daging hewan, tujuh macam ikan, tujuh macam buah, tujuh macam bunga, ayam cemani, kain putih, kemenyan, dan beberapa bahan lainnya. Mas Tile juga harus menghafal mantra — karena tidak boleh ditulis, ia merekamnya lewat audio di ponselnya. Ritual dilaksanakan di dalam kamar rumahnya sendiri, tiga kali seminggu: malam Rabu, malam Kamis, dan malam Jumat.
Malam pertama ritual, Mas Tile duduk sendirian di kamar yang dipenuhi sesajen dengan lilin menyala. Ia membaca mantra berulang-ulang dan memanggil nama yang diajarkan Abah. Tidak ada penampakan, hanya angin yang tiba-tiba menerobos masuk ke ruangan tertutup dan suara langkah-langkah di belakang rumah seperti orang banyak berlalu. Keesokan harinya ia mendapati satu ikan dari sesajen menghilang — menurut Abah, itu tanda bahwa yang dipanggil sudah datang dan memakan sebagian sajian. Ritual dilanjutkan di malam berikutnya, dan pada malam kedua gelas-gelas di kamarnya pecah seluruhnya secara bersamaan, lilin padam sendiri, dan ada sesuatu yang terasa melilit tubuhnya — licin dan besar.
Pada malam ketiga, sesuatu yang berbeda terjadi. Di antara sadar dan tidak sadar, di ruangan yang hanya diterangi lilin, Mas Tile menyaksikan empat sosok hadir sekaligus. Yang pertama bertaring dengan mata merah menyala dan tanduk di kepala. Yang kedua berbadan seperti kuda separuh manusia. Yang ketiga berwujud lelaki gagah seperti panglima perang. Dan yang keempat adalah perempuan paling cantik yang pernah ia lihat dalam hidupnya — kecantikan yang menurut Mas Tile tidak mungkin ada di dunia manusia. Sosok cantik itulah yang pertama kali berbicara, bertanya mengapa ia terus memanggil.
Mas Tile menyampaikan permintaannya sesuai petunjuk Abah — bukan minta uang, melainkan minta “sebanyak-banyaknya”. Ritual itu berakhir menjelang azan subuh. Ketika lampu dinyalakan, Mas Tile tertegun. Setengah kardus besar penuh dengan uang tersusun rapi di hadapannya — jumlah yang ia perkirakan mencapai sekitar satu miliar rupiah. Ia menangis bahagia, membayangkan semua hutang bisa lunas, orang tua bisa tenang, dan usahanya bisa dibangun kembali. Abah mengingatkan agar uang itu tidak digunakan dulu karena masih ada ritual lanjutan yang harus diselesaikan.
Malam-malam berikutnya, sosok yang ia sebut Nyai — sang ratu dari keempat makhluk itu — mulai mengajukan permintaan sebagai upah bagi para anak buahnya. Permintaan pertama adalah keong yang menempel tujuh tumpuk — keong kendit. Mas Tile mencarinya ke berbagai sawah dan kolam tetapi tidak berhasil menemukannya. Ia memohon kepada Nyai agar mau menerima pengganti. Nyai menggantinya dengan permintaan lain: seekor anak ayam jantan. Mas Tile yang lega karena mengira anak ayam mudah dicari pun langsung mengiyakan.
Namun ketika ia melaporkan kesepakatan itu kepada Abah melalui telepon, jawaban Abah membekukan darahnya. “Bahaya itu. Anak ayam jantan yang dimaksud itu anakmu yang laki-laki.” Seketika gambaran wajah anak kandungnya sendiri yang masih balita berputar di benaknya. Inilah yang selama ini tidak pernah ia bayangkan saat pertama kali memutuskan untuk menjalani ritual itu — bahwa ada harga yang jauh lebih besar dari sekadar sesajen dan mantra. Ada nyawa yang sedang diincar. Nyawa anaknya sendiri.
Mas Tile tidak bisa tidur. Ia tidak bisa bercerita kepada siapa pun — istri tidak tahu apa-apa tentang ritual yang sedang ia jalani, dan ia tidak bisa memulai dari mana untuk menjelaskan. Akhirnya ia menghubungi seorang ustaz, teman lama dari pesantren, yang tinggal di Tasikmalaya. Begitu tiba di sana dan mengucap salam, sang ustaz langsung menegurnya dengan keras — mengatakan badannya sudah kotor dan harus mandi tobat sebelum boleh masuk. Setelah Mas Tile menceritakan semuanya, sang ustaz kaget dan memerintahkan agar Mas Tile segera dirukiah dan dibersihkan.
Proses pembersihan itu berat. Mas Tile dibaringkan menyerupai posisi jenazah, diselimuti kain kafan, dan dikelilingi sekitar sepuluh santri yang membacakan ayat-ayat suci. Di tengah ritual itu ia tidak sadarkan diri — dan ternyata saat tidak sadar ia sempat kesurupan, marah-marah, bahkan menendang salah seorang santri yang sedang membaca. Sang ustaz menggambarkannya bergerak seperti ular. Setelah tersadar, Mas Tile diberikan ijazah berupa Hijib Darbi — sebuah amalan yang kemudian ia baca tujuh kali ke dalam air, yang diminumkan dan disemprotkan ke seluruh penjuru rumah.
Kembali ke rumah dengan bekal amalan baru itu, Mas Tile memutuskan untuk memutus ikatan dengan ritual pesugihan yang telah ia jalani. Pada malam Rabu berikutnya, alih-alih membaca mantra, ia mengisi ruangan itu dengan zikir dan bacaan hijib. Ketika ia merasakan kehadiran yang datang, ia berkata dengan tegas bahwa ia tidak membutuhkan uang itu lagi dan ingin memutus semua hubungan. Lalu ia menendang kardus berisi uang itu. Dan seketika, uang senilai miliaran rupiah itu lenyap begitu saja — hilang tanpa jejak seolah tidak pernah ada. Empat sosok yang pernah datang sempat terlihat menempel di dinding seperti hendak mengancam, namun setelah ia terus membaca zikir, mereka pun pergi.
Mas Tile merasa lega — merasa semuanya sudah selesai, bahwa keputusannya memutus perjanjian itu telah menyelamatkan nyawa anaknya. Ia kembali berjualan dari nol, mendapat orderan kecil, meminjam modal dari teman, dan mulai mengantarkan barang seperti dulu. Namun di tengah perjalanan pulang setelah mengantar barang, saat ia sedang menyanyi-nyanyi di dalam mobil, terdengar empat suara keras berturutan. Keempat ban mobilnya pecah sekaligus — dalam waktu yang bersamaan, sesuatu yang secara logika mustahil terjadi. Ustaz yang dihubungi mengatakan itu adalah kiriman dari pihak yang sama — dan menyuruh Mas Tile segera menelepon keluarga di rumah.
Ponsel istri tidak diangkat. Mas Tile kemudian menelepon mertuanya, dan suara tangisan pecah di ujung telepon. “Cepat pulang, ada musibah.” Mas Tile meninggalkan mobilnya begitu saja di pinggir jalan, naik angkot, dan pulang terburu-buru dengan dada yang berdegup tak karuan. Sesampainya di rumah mertua, ia mendapati sebuah bendera kuning telah terpasang. Anaknya — anak laki-lakinya yang baru berusia dua tahun — sudah tidak ada lagi. Ia meninggal bukan karena penyakit yang berat atau kecelakaan yang keras, melainkan karena hal yang sepele: terjatuh saat bermain, ditendang ringan oleh anak kecil lain, dan tiba-tiba saja pergi selamanya.
Mas Tile pingsan di tempat ketika mendengar kabar itu. Ia baru tersadar menjelang anaknya akan dikuburkan. Saat menggendong tubuh kecil itu dan memasukkanya ke liang lahat dengan tangannya sendiri, ia pingsan untuk kedua kalinya — tidak kuat menanggung beban yang begitu besar sendirian. Sedarnya sudah di rumah, sementara istri menenangkannya dengan kalimat bahwa ini adalah ujian dari Allah. Mas Tile hanya diam. Ia tahu ini bukan sekadar ujian — ini adalah akibat langsung dari perbuatannya. Dan rahasia itu, sampai hari wawancara dilakukan empat belas tahun kemudian, masih belum pernah ia ceritakan kepada sang istri.
Setelah tujuh hari masa berkabung, Mas Tile kembali mendatangi sang ustaz di Tasikmalaya untuk meminta bantuan. Dari ustaz itulah akhirnya terungkap dengan jelas bahwa apa yang pernah ia lakukan adalah pesugihan Nyi Roro Kidul — bukan ritual biasa, bukan sekadar rezeki dadakan seperti yang dikatakan Abah di awal. Mas Tile yang marah mendatangi Abah dan melampiaskan kemarahannya, namun Abah balik menyerangnya dengan mengingatkan bahwa ia sudah diperingatkan dari awal untuk berani dan siap menerima segala konsekuensinya. Pertengkaran itu berakhir dengan Mas Tile dipisahkan dan disuruh pulang.
Kini, empat belas tahun setelah semua itu terjadi, Mas Tile masih menanggung penyesalan yang tidak kunjung tuntas. Hutang-hutangnya perlahan hampir lunas. Hidupnya berjalan kembali meski jauh dari kemewahan yang pernah ia impikan. Setiap kali ia beristighfar, setiap kali ia bersujud dalam tobat, ingatannya selalu kembali ke malam-malam ritual itu, ke wajah anaknya yang belum sempat tumbuh besar, dan ke rahasia yang masih tersimpan rapat dari sang istri hingga hari ini. Kepada siapapun yang mendengar kisahnya, Mas Tile hanya punya satu pesan: jangan pernah mencoba bersekutu dengan jin atau siluman dalam bentuk apapun, sebab tidak ada yang benar-benar gratis dari sebuah perjanjian gaib — dan harga yang harus dibayar bisa jauh lebih mahal dari yang pernah terbayangkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
