Pada 2009, Teh Ane yang saat itu berusia sekitar 20 tahun tinggal bersama orang tuanya di sebuah kampung di Jawa Barat. Ibunya mempunyai warung makan yang cukup ramai dengan menu seperti nasi lengko, nasi rames, sop, serta berbagai masakan untuk karyawan di sekitar tempat tinggal mereka. Selain melayani pembeli harian, sang ibu juga sering menerima pesanan katering dan akikah sehingga membutuhkan orang tambahan untuk membantu memasak dan melayani pelanggan.
Di tengah kebutuhan mencari pekerja, datang seorang perempuan yang disamarkan dengan nama Bu Ema. Ia mengaku tinggal tidak jauh dari rumah dan sedang membutuhkan pekerjaan untuk membantu biaya sekolah anaknya. Karena memang sedang kewalahan, ibu Teh Ane langsung menerimanya. Selama sekitar tiga bulan pertama, pekerjaan berjalan biasa dan Bu Ema bahkan menjadi cukup dekat dengan keluarga karena setiap hari membantu sejak pagi.
Kedekatan itu berubah ketika Bu Ema mulai menceritakan kemampuan suaminya, Pak Sakim. Menurut cerita Bu Ema, sang suami dikenal sebagai orang yang mampu membantu melariskan usaha melalui cara-cara spiritual. Ia bahkan mengatakan sudah banyak orang yang menggunakan jasanya. Bu Ema kemudian berulang kali membujuk ibu Teh Ane agar mencoba penglaris tersebut supaya warungnya semakin ramai dan keluarga cepat kaya.
Ibu Teh Ane menolak tawaran itu. Menurut Ane, ibunya merupakan orang yang rajin beribadah dan merasa cukup dengan rezeki yang diperoleh dari berdagang. Bu Ema tetap berusaha merayu, tetapi tidak berhasil. Di lingkungan sekitar sendiri, Pak Sakim memang dikenal sebagai paranormal dengan penampilan tinggi besar, berambut panjang, serta sering dikaitkan dengan ritual-ritual tertentu. Dari penuturan Ane, Bu Ema seperti berperan sebagai orang yang menawarkan jasa suaminya kepada pemilik usaha.
Dua hari setelah penolakan tersebut, datang kerabat dari Tasikmalaya yang disamarkan dengan nama Teh Yayen. Ia merupakan adik ipar ayah Ane dan mempunyai usaha ayam potong di pasar. Bu Ema melihat peluang baru dan mulai mendekati Teh Yayen dengan tawaran yang sama. Ia mengatakan usaha ayam tersebut dapat dibuat lebih laris melalui bantuan Pak Sakim. Berbeda dengan ibu Ane, Teh Yayen tidak langsung menolak dan justru terlihat mulai tertarik.
Tidak lama kemudian Teh Yayen mulai menanyakan tempat membeli bunga, perlengkapan tertentu, hingga kain kafan. Ia sempat menyangkal ketika ditanya apakah akan mengikuti ritual Bu Ema. Namun suatu pagi Ane melihat Teh Yayen pulang membawa berbagai barang yang kemudian disembunyikan di bawah tempat tidur. Dua hari berikutnya, bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, Teh Yayen membangunkan Ane sekitar pukul sebelas malam dan meminta ditemani pergi tanpa memberi tahu ibunya.
Ane mengira mereka hanya akan mengunjungi teman. Namun di sepeda motor sudah terdapat berbagai perlengkapan serta seekor ayam hitam yang tubuh dan mulutnya diikat. Semakin jauh perjalanan, jalan yang dilewati semakin sempit dan gelap hingga mereka memasuki kawasan pemakaman. Dari kejauhan Ane melihat banyak obor dan kemudian mengenali Pak Sakim berada di lokasi. Saat itulah ia menyadari dirinya telah dibawa untuk menyaksikan ritual penglaris Teh Yayen.
Lokasi ritual berada di sekitar sungai yang dikelilingi pohon besar dan makam. Selain Pak Sakim, terdapat seorang lelaki tua yang menurut Ane merupakan guru spiritualnya. Teh Yayen diminta melepas pakaian dan awalnya hanya mengenakan kain untuk bersiap mandi. Bunga-bunga harum seperti kenanga, sedap malam, dan mawar dimasukkan ke dalam wadah bersama potongan kain kafan. Ayam hitam yang dibawa kemudian disembelih dan darahnya dicampurkan dengan air serta bunga untuk proses pemandian.
Teh Yayen lalu masuk ke bagian sungai yang dikelilingi susunan batu. Air ritual diambil dari ember yang sudah dicampur dengan perlengkapan tadi, bukan langsung dari aliran sungai. Pak Sakim dan gurunya bergantian menyiram kepala serta tubuh Teh Yayen sambil membaca sesuatu yang tidak dapat didengar jelas oleh Ane. Pada beberapa bagian ritual, Ane melihat Teh Yayen seperti menahan rasa sakit.
Hal yang paling membuat Ane terpukul adalah ketika Teh Yayen akhirnya melepas seluruh kain yang menutupi tubuhnya dan menjalani ritual tanpa busana di hadapan tiga laki-laki yang berada di lokasi. Ane yang menyaksikan dari kejauhan mengaku menangis karena merasa sangat menyesal telah ikut. Ritual pemandian tersebut berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit. Setelah selesai dan kembali berpakaian, Teh Yayen menerima sebuah kotak kecil dari guru Pak Sakim.
Keesokan paginya Ane melihat isi kotak tersebut. Menurut kesaksiannya, benda di dalamnya menyerupai kuku macan berukuran besar dengan bagian seperti tulang, bulu, dan kuku panjang yang tajam. Ane akhirnya menceritakan semuanya kepada ibunya. Sang ibu marah besar karena merasa Teh Yayen telah berbohong dan Bu Ema sengaja menyeret keluarga mereka ke praktik yang sejak awal sudah ditolak.
Bu Ema kemudian dipanggil dan diberhentikan dari pekerjaannya. Dari pembicaraan berikutnya, Ane mengetahui bahwa ritual Teh Yayen diawali dengan mahar sekitar Rp3 juta. Setelah itu masih ada pembayaran lain yang menurut ceritanya harus diberikan langsung dengan bertatap muka kepada Pak Sakim dan jumlahnya harus sesuai permintaan. Ane menilai sistem tersebut membuat klien terus terikat karena pembayaran dapat kembali diminta sewaktu-waktu.
Sekitar satu bulan setelah ritual, Ane bertemu lagi dengan Teh Yayen dan melihatnya sudah menggunakan mobil baru. Teh Yayen mengatakan usaha ayam potongnya mengalami peningkatan dan dirinya sedang bersiap menambah bisnis telur. Ia juga mengaku baru saja menemui Pak Sakim untuk memberikan mahar berikutnya. Pada waktu yang hampir bersamaan, warung makan milik ibu Ane justru mulai kehilangan pelanggan hingga omzetnya terus menurun setelah Bu Ema tidak lagi bekerja di sana.
Sekitar setahun kemudian keluarga Ane mendapat undangan pernikahan di Tasikmalaya dan kembali bertemu Teh Yayen. Mereka sempat kesulitan mengenali rumahnya karena bangunan kecil yang dahulu diketahui keluarga sudah berubah menjadi rumah besar bertingkat dengan gudang luas. Ane juga melihat beberapa kendaraan, termasuk dua mobil dan beberapa mobil boks yang digunakan untuk usaha. Bagi keluarga, perubahan ekonomi tersebut terlihat sangat cepat dibandingkan keadaan Teh Yayen sebelumnya.
Selama menginap di rumah itu, Ane mulai mengalami kejadian yang menurutnya sangat menakutkan. Ketika mengambil wudu dekat gudang telur menjelang salat Magrib, ia mengaku melihat sosok pocong tinggi besar dengan wajah hitam berdiri menghadap dirinya. Setelah menceritakannya kepada sang ibu, Ane justru mengetahui ibunya juga merasa melihat pocong dan sosok menyerupai genderuwo di sekitar rumah. Malam harinya Ane mengalami pengalaman seperti tertindih sesuatu yang sangat besar hingga sulit bernapas.
Keluarga akhirnya memilih segera pulang setelah acara pernikahan selesai. Beberapa minggu kemudian, rumah Ane sendiri mulai mengalami gangguan yang mereka tafsirkan berkaitan dengan kejadian sebelumnya. Kamar mandi dipenuhi lalat hijau besar meskipun tidak ditemukan bangkai. Setelah lalat menghilang, rumah justru berbau seperti bangkai selama berhari-hari. Di tempat tidur kemudian ditemukan belatung, tetapi sumber bau tetap tidak diketahui. Ibunya memilih tidak mencari bantuan paranormal dan hanya memperbanyak salat serta doa hingga gangguan tersebut menurut Ane berhenti sekitar tiga bulan kemudian.
Pada periode yang sama, usaha warung makan ibunya akhirnya berhenti. Sementara itu, Teh Yayen kembali membawa kabar mengejutkan bahwa anak perempuan bungsunya meninggal dunia dan pernikahannya dengan suami pertama berakhir dengan perceraian. Ane mengaku sempat melihat Teh Yayen kembali mendatangi Pak Sakim setelah kejadian tersebut. Dari situlah muncul dugaan pribadinya bahwa praktik yang semula dianggap hanya sebagai penglaris mungkin telah berubah menjadi sesuatu yang menurutnya menuntut tumbal. Ane menegaskan bahwa kesimpulan tersebut merupakan dugaan dirinya, bukan fakta yang pernah dibuktikan.
Setelah bercerai, Teh Yayen menikah kembali. Menurut penuturan Ane, suami berikutnya jatuh sakit dan meninggal sekitar enam bulan setelah menikah. Setelah melewati masa idah, Teh Yayen menikah lagi dan suaminya disebut meninggal sekitar sebelas bulan kemudian. Pernikahan-pernikahan berikutnya juga berakhir tragis. Dalam cerita Ane, beberapa suami Teh Yayen meninggal secara beruntun, termasuk seorang suami terakhir yang meninggal akibat kecelakaan. Ane mengaitkan rangkaian tersebut dengan dugaan tumbal, tetapi tidak ada bukti bahwa kematian mereka disebabkan ritual pesugihan.
Di tengah kematian pasangan yang berulang, usaha Teh Yayen juga mulai runtuh. Bisnis telur yang sebelumnya berkembang mengalami masalah ketika banyak telur dari pemasok datang dalam keadaan pecah dan busuk sehingga pelanggan pasar melakukan komplain. Bisnis tersebut akhirnya berhenti. Pengeluaran untuk pengobatan suami serta berbagai persoalan lain terus menguras kekayaannya. Lapak ayam dijual, bisnis telur hilang, kendaraan dan aset berkurang, hingga rumah yang sebelumnya menjadi simbol keberhasilannya juga terancam dilepas.
Menurut Ane, masa kejayaan Teh Yayen hanya berlangsung sekitar empat tahun. Ketika terakhir berhubungan sekitar 2015, kehidupannya sudah jauh berbeda dari masa ketika mempunyai rumah besar, kendaraan, gudang, serta usaha ayam dan telur. Ia tidak lagi menikah dan kemudian ikut ibunya mencari penghasilan dengan berjualan makanan sederhana dan minuman di kawasan wisata. Pak Sakim sendiri belakangan disebut mengalami konflik dengan seorang pemilik usaha rental, sempat dipukuli hingga koma, hidup dalam kondisi sakit dan kurus, lalu akhirnya meninggal. Bu Ema pun menurut Ane tidak menjadi kaya dan tetap menjalani kehidupan sederhana.
Pengalaman tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi Teh Ane. Sampai sekarang ia mengaku tidak nyaman melihat ayam hitam karena langsung teringat ayam yang digunakan dalam ritual malam itu. Ia juga tidak dapat memastikan bahwa kematian anak dan para suami Teh Yayen benar-benar merupakan tumbal, ataupun bahwa kesuksesan usahanya berasal dari ritual yang disaksikan. Namun dari apa yang dialaminya—mulai dari mandi tanpa busana, darah ayam, mahar, perubahan kekayaan, gangguan ghaib hingga keruntuhan usaha—Ane mengambil satu pelajaran: sesulit apa pun mencari rezeki, ia memilih bersyukur dan tidak lagi mendekati jalan pintas yang menurut keyakinannya justru dapat membawa lebih banyak kehilangan daripada keuntungan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
