Kisah Kang Arif bermula pada tahun 2008, ketika ia menjabat sebagai ketua sebuah organisasi di Indramayu. Pada masa itu ia dipindahkan dari tempat tugasnya, lalu sejumlah bawahan menuduhnya melakukan korupsi senilai kurang lebih Rp500 juta. Menurut pengakuannya, uang tersebut sebenarnya dipinjam dan digunakan oleh para anggota, tetapi sebagai pimpinan ia tetap diminta bertanggung jawab. Karena tidak ingin persoalan semakin rumit, Kang Arif akhirnya menerima beban pengembalian uang tersebut meskipun merasa tidak pernah menikmatinya.
Batas waktu pengembalian yang diberikan kepadanya sangat singkat. Satu bulan berlalu tanpa hasil, kemudian menjadi dua dan tiga bulan hingga kasus itu dilaporkan ke kejaksaan. Surat panggilan berkali-kali dikirimkan ke rumah, bahkan Kang Arif merasa dirinya telah dianggap sebagai buronan. Kepanikan membuatnya hanya memikirkan satu hal, yaitu menemukan cara memperoleh uang dalam jumlah besar secepat mungkin.
Dalam keadaan terdesak, Kang Arif menemui seorang teman yang dalam cerita disebut Toni. Setelah mendengar masalahnya, Toni mengenalkannya kepada seorang pria bernama samaran Dedi yang dipercaya mampu memberikan jalan keluar. Dedi meyakinkan Kang Arif bahwa uang ratusan juta bukan masalah besar dan dapat diperoleh melalui ritual tertentu. Kang Arif menerima tawaran itu dengan syarat anak dan istrinya tidak boleh dijadikan tumbal.
Dedi kemudian menanyakan hari kelahiran Kang Arif dan menetapkan biaya ritual sebesar Rp7.770.000 karena ia lahir pada hari Rabu. Karena tidak memiliki uang, Kang Arif meminjam kepada adiknya dengan janji akan mengembalikannya dalam waktu singkat. Ia lalu tinggal di rumah Dedi dan setiap malam menghadapi berbagai sesajen sambil membaca mantra berbahasa Jawa. Dalam ritual tersebut, ia bahkan dilarang menyebut nama Allah dan hanya diminta mengikuti seluruh arahan yang diberikan.
Selama satu minggu, Kang Arif menunggu kedatangan makhluk yang konon akan membawa uang. Ia diminta menjawab apabila mendengar salam atau suara yang datang ke dalam kamar, tetapi tidak ada hasil yang muncul. Dedi sebelumnya menjanjikan uang hingga sekitar Rp2 miliar dalam waktu paling lama setengah bulan. Ketika janji itu tidak terbukti, Kang Arif semakin panik karena panggilan kejaksaan terus datang dan keluarganya mulai menanggung tekanan sosial.
Dedi lalu membawanya kepada paranormal lain yang meminta biaya sekitar Rp15 juta. Ritual berikutnya menggunakan ayam cemani dan sebuah jenglot yang disebut harus diberi darah. Kang Arif bersama orang tersebut sempat mendatangi beberapa kantor Palang Merah Indonesia untuk mencari kantong darah, tetapi permintaan mereka ditolak karena tidak memiliki surat. Karena putus asa, Kang Arif akhirnya memberikan darahnya sendiri untuk ritual tersebut.
Jenglot itu kemudian dibawa berkeliling pada malam hari dalam kegiatan yang mereka sebut “ngamen”. Menurut penuturan Kang Arif, benda tersebut dipercaya keluar mencari uang seperti tuyul. Namun, hasil yang diperoleh hanya berupa uang receh sekitar Rp300.000 dalam semalam. Jumlah tersebut jelas tidak sebanding dengan kebutuhan ratusan juta rupiah maupun biaya ritual yang telah dikeluarkannya.
Selama kurang lebih tiga bulan, Kang Arif berpindah dari satu paranormal ke paranormal lain. Ia berhenti masuk kerja dan jarang pulang karena takut ditangkap setelah berulang kali mengabaikan panggilan kejaksaan. Saat ingin bertemu istri dan anaknya, ia pulang diam-diam sekitar tengah malam, masuk melalui garasi, lalu pergi lagi sebelum subuh. Kehidupannya berubah seperti seorang buronan, sementara utang untuk membiayai ritual terus bertambah.
Dedi kemudian memperkenalkannya kepada seorang perempuan tua yang disebut Emak. Setelah mendengar kisah Kang Arif, Emak menyatakan bersedia membantu karena merasa kasihan. Keyakinan Kang Arif semakin kuat ketika ia melihat Emak memetik daun, menggosoknya, lalu menyerahkan benda yang tampak seperti uang Rp100.000. Uang tersebut sempat digunakan membeli rokok sehingga Kang Arif percaya Emak memiliki kemampuan yang selama ini ia cari.
Ritual bersama Emak menggunakan pusaka yang disebut tangkur buaya serta berbagai perlengkapan dengan biaya sekitar Rp5 juta. Dua kardus ditutup kain merah dan diletakkan di dalam kamar. Pada tengah malam, Kang Arif mengaku melihat uang menumpuk di sekitar kardus tersebut. Ia sangat gembira karena mengira masalahnya akan segera selesai, tetapi Emak mengatakan uang itu belum sempurna dan belum dapat diambil seluruhnya.
Kang Arif kemudian dibawa ke sebuah makam di dekat kolam dan kawasan hutan. Di sana ia melihat seekor ular muncul dari tengah kolam, yang dianggap Emak sebagai tanda bahwa ritual berpeluang berhasil. Meskipun beberapa lembar uang dari kardus dapat digunakan, jumlahnya hanya sedikit dan tidak pernah mencapai ratusan juta rupiah. Kang Arif kembali diminta berpuasa dan melakukan ritual tambahan, tetapi setelah berbulan-bulan hasilnya tetap hanya sekitar satu hingga dua juta rupiah.
Pada bulan puasa tahun 2009, Emak menawarkan pusaka terakhir berupa kantong macan. Ritual dilakukan di rumah Kang Arif dengan daging kambing mentah, bunga tujuh rupa, berbagai minuman, dan perlengkapan lain. Emak memakan daging mentah tersebut karena konon pusaka itu akan membuatnya tidak terlihat saat mengambil uang milik orang lain. Namun, pusaka tersebut justru menghilang, membuat Emak menangis, dan ritual itu kembali berakhir tanpa hasil.
Keadaan keluarga Kang Arif semakin berat. Istri dan anaknya menerima tekanan dari masyarakat karena ia dicap sebagai koruptor, sedangkan dirinya terus menghindari rumah dan pekerjaan. Dalam perjalanan membawa Emak pulang, perempuan itu sempat seperti kerasukan dan menghabiskan tiga botol minuman sekaligus. Kejadian tersebut membuat Kang Arif tetap percaya bahwa orang-orang yang ditemuinya memiliki kemampuan, walaupun tak satu pun benar-benar menyelesaikan masalahnya.
Setelah berbagai kegagalan, Kang Arif menemui seorang teman lain yang disebut Alek. Ia kembali menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan uang cepat, tetapi tidak ingin mengorbankan anak dan istrinya. Alek lalu menyarankan ritual menjual sate hati kalong pada tengah malam. Karena merasa tidak memiliki pilihan lain, Kang Arif menyetujui cara tersebut dan berangkat ke Pasar Pramuka, Jakarta, untuk membeli seekor kalong.
Kalong yang tersedia saat itu berukuran besar dan dibeli dengan harga sekitar Rp1,5 juta. Kang Arif harus kembali meminjam uang dan meminta istrinya mentransfer dana tanpa menjelaskan tujuan sebenarnya. Di rumah Alek, kalong tersebut diolah menjadi tiga tusuk sate, sementara Alek juga menyiapkan ayam cemani. Menjelang tengah malam, Kang Arif dibawa ke sebuah pasar dan diperintahkan menjual sate itu dalam keadaan tanpa busana.
Kang Arif mencari sudut pasar yang gelap agar tidak terlihat para pemuda yang masih berkumpul di sekitar jalan. Ia menyembunyikan pakaiannya di dekat tempat sampah, lalu duduk sambil menawarkan “sate kalong” sesuai arahan Alek. Ia dilarang menyebut nama Tuhan atau membaca doa apa pun. Menurut penuturannya, pembeli yang ditunggu adalah sosok menyerupai anak kecil yang akan menukarkan uang dengan sate tersebut.
Sekitar dini hari, sosok anak kecil itu akhirnya datang tanpa membawa uang, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan selembar uang Rp100.000. Kang Arif menyerahkan satu tusuk sate dan memegang tangan sosok tersebut seperti yang sebelumnya diperintahkan Alek. Uang itu kemudian disempurnakan menggunakan darah ayam cemani. Setelah digunakan untuk membeli rokok, uang tersebut dipercaya dapat kembali, sedangkan uang kembalian dari pedagang tidak memiliki kemampuan serupa.
Karena belum memahami cara memanfaatkan uang tersebut, Kang Arif hanya memperoleh sekitar Rp10 juta dalam beberapa bulan. Ia kemudian mengulangi ritual dan kembali menjual tiga tusuk sate kalong. Pada ritual kedua, ia meminta sepuluh lembar uang untuk setiap tusuk sehingga mendapatkan sekitar tiga puluh lembar dari tiga sosok anak kecil. Dengan cara menggunakan uang yang dipercaya selalu kembali itu di berbagai toko, ia mengaku berhasil mengumpulkan total sekitar Rp200 juta sampai akhir 2010.
Meskipun jumlah itu besar, uang tersebut tetap tidak cukup untuk menutup seluruh kewajiban karena juga digunakan untuk kebutuhan keluarga dan membayar utang ritual. Kang Arif akhirnya menjual tanah pekarangan serta sawah milik orang tuanya agar kasus tersebut dapat diselesaikan dan tidak berlanjut. Ia mengakui bahwa jalan pesugihan tidak benar-benar membebaskannya dari masalah. Penyelesaian utama justru datang dari penjualan aset nyata yang dimiliki keluarganya.
Setelah itu, Kang Arif bertemu seorang guru dari temannya yang membantu membersihkan kondisi spiritualnya. Ia mengaku mengalami dampak panjang berupa malas beribadah, sulit bekerja, sering bertengkar dengan istri, dan merasa ada sosok perempuan yang mendahuluinya ketika tidur. Pada tahun 2011 ia berangkat ke Tanah Suci bersama istrinya menggunakan pinjaman bank, tetapi keadaan ekonominya masih sulit hingga bertahun-tahun kemudian. Dari pengalamannya, Kang Arif berpesan agar persoalan keuangan tidak diselesaikan melalui ritual sesat karena menurut keyakinannya, uang dari makhluk ghaib selalu menuntut jaminan dan justru dapat menyeret seseorang ke masalah yang lebih dalam.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
