Mas Iwan menutup wajahnya dengan masker, bukan karena ingin gaya, tapi karena ia menyimpan aib yang sampai hari ini masih menempel di hidupnya. Tahun 2016, ia terjerumus bukan karena hobi mistik, melainkan karena satu hal yang sering jadi pintu masuk: utang yang makin menggila, ditambah ambisi “cepat beres” tanpa jalan panjang.
Awalnya, hidup Mas Iwan masih terlihat normal. Ia bekerja—bahkan sempat berada di lingkungan instansi pemerintahan, meski statusnya masih honorer. Tapi di luar jam dinas, pikirannya tidak pernah benar-benar pulang. Ia terobsesi mencari “barang klintik” yang katanya bisa jadi jalan rezeki: batu merah delima, rantai babi, sampai benda-benda yang dipercaya punya nilai mahar miliaran.
Ia keliling Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka—mengejar petunjuk dari orang ke orang. Polanya sama terus: diputar-putar, disuruh ke rumah A, lalu B, lalu C, berakhir dimintai uang “tes” atau uang “mahar awal”. Banyak yang ternyata cuma tipu-tipu, barang palsu, bahkan trik sulap.
Sialnya, Mas Iwan sudah terlalu jauh. Demi ongkos, rokok, makan, dan rental mobil, ia sampai nekat memakai uang kantor yang ia pegang. Sekali jalan ia bawa tiga sampai empat juta, dan kalau habis ya cari lagi. Ketika uang kantor mulai bolong, ia menutupnya dengan pinjaman—lalu menutup pinjaman dengan pinjaman lain. Sampai satu titik, orang-orang yang nagih tidak lagi datang ke rumah… tapi datang ke kantor.
Di situlah mentalnya rontok. Ia dikucilkan, jadi bahan gunjingan, dan akhirnya memilih mengundurkan diri. Mas Iwan kabur dari rumah, meninggalkan istri dan dua anaknya. Nomornya dimatikan. Pesannya cuma satu ke istri: kalau ada yang nyari, bilang tidak tahu. Ia merantau ke Jakarta, kerja apa saja yang penting hidup jalan dan bisa kirim uang sedikit untuk anak.
Tapi utangnya tidak ikut merantau. Utang itu tetap mengejar, menumpuk, dan di kepala Mas Iwan cuma ada satu target: pulang harus bawa uang besar. Kalau tidak, ia merasa tidak punya keberanian untuk muncul di depan keluarga dan orang-orang yang menagih.
Dalam pencarian “jalan instan” itulah Mas Iwan bertemu seorang tua yang ia samarkan namanya sebagai Abah Nono. Mas Iwan menceritakan semua: utang berbunga yang totalnya sekitar tiga ratus juta, rasa malu, rasa putus asa, dan ketidakmungkinan melunasi semuanya dengan kerja normal.
Abah Nono tidak menenangkan. Ia justru menguji. “Kalau instan, ada barternya. Siap?” Mas Iwan menjawab siap—dengan satu syarat: jangan keluarga, jangan anak, biar badan dia saja. Abah Nono mengingatkan lagi, “Kalau seminggu setelah dapat uang kamu diambil, siap?” Mas Iwan tetap mengangguk. Di titik itu, pikirannya sudah tidak seimbang—yang penting uangnya ada dulu.
Mas Iwan lalu mengumpulkan modal sekitar lima juta dari pinjam sana-sini, receh dari banyak orang. Setelah terkumpul, Abah Nono mengajaknya berangkat malam hari naik kendaraan umum: dari Cirebon menuju Wonosobo, lalu ke Pasar Ngadirejo, lalu naik ojek ke daerah kaki bukit.
Di sana mereka bertemu “Mbah Kuncen”—orang yang rumahnya mewah, lahan tembakaunya luas, mobilnya banyak, bahkan punya bengkel. Kekayaan si Mbah membuat Mas Iwan makin yakin: “Kalau orang ini bohong, buat apa menipu uang segini?” pikirnya.
Syarat ritual disebut seolah ringan: buah-buahan, kembang rupa-rupa, hio, dan rokok tiga bungkus dengan merek tertentu. Tapi ada angka yang membuat Mas Iwan menelan ludah: ia harus menyiapkan uang 3,3 juta sebagai “modal inti” ritual.
Malamnya, jam sebelas, mereka berjalan kaki sekitar lima belas menit menuju area yang gelap—kuburan tua yang cuma punya dua makam. Sesajen digelar, lilin menyala satu, dupa mengepul. Mas Iwan duduk sendirian, sementara Mbah Kuncen dan dua orang lain mundur sekitar lima puluh meter.
Ada aturan yang terdengar ganjil: Mas Iwan diminta diam. Jangan wirid. Jangan menyebut asma apa pun. Kalau kaget, tetap tahan. Uang 3,3 juta harus ia pegang, tidak boleh diletakkan, tidak boleh dipakai apa pun—seolah uang itu adalah “alamat” yang sedang ditunggu sesuatu.
Angin datang tiba-tiba. Bambu-bambu besar menggesek keras seperti ada badai yang berputar tepat di lokasi itu saja. Mas Iwan berusaha menenangkan diri dengan logika paling konyol yang bisa ia pegang: “Kalau siluman, mungkin tidak makan manusia… yang bahaya kalau binatang beneran.”
Sekitar dua puluh menit kemudian, dari tengah kuburan itu muncul ular besar. Ukurannya membuat dada Mas Iwan seketika dingin. Ular itu mendekat, mengendus-endus, seperti memeriksa bau tubuhnya. Mas Iwan tidak berani bergerak—takut kalau ini ular sungguhan, takut kalau ini sesuatu yang lain.
Ular itu lalu mundur ke tengah kuburan. Dan saat tubuhnya belum sepenuhnya masuk, wujudnya berubah—kepalanya menjadi manusia, bagian tengahnya manusia. Sosoknya perempuan, cantik luar biasa, serba kuning keemasan: selendang, mahkota, perhiasan—seolah menyala kena cahaya lilin yang hanya satu itu. Ia tidak bicara, hanya menatap dan mengangguk-angguk, tapi bau anyir menusuk hidung Mas Iwan sampai membuatnya mual.
Sosok itu menghilang, dan di samping Mas Iwan, karung yang sudah disiapkan tiba-tiba bergerak seperti hidup. Perlahan berdiri, makin tinggi, sampai tegak sempurna—seolah terisi sesuatu dari dalam.
Mbah Kuncen datang menghampiri. “Iki rezekimu,” katanya. Perkiraan “hadiah” yang disebut membuat Mas Iwan hampir tidak percaya: tiga koma tujuh miliar rupiah. Karung itu harus dipanggul sendiri, tidak boleh gotong-gotongan, katanya karena itu “hak” Mas Iwan. Dengan badan gemetar, Mas Iwan memanggul karung itu pulang ke rumah Mbah.
Di rumah, uang itu ditumpahkan. Ada pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu, dicampur seperti sampel uang yang tadi Mas Iwan pegang. Mbah Kuncen mengacak-acaknya, katanya untuk menghilangkan bau amis, sekaligus memastikan uang itu tidak berubah jadi daun. Mas Iwan nyaris menangis—bukan karena bahagia, tapi karena kepalanya sudah membayangkan utang lunas, keluarga diselamatkan, hidup kembali normal.
Tapi tepat saat euforia itu memuncak, Mbah Kuncen mendadak diam, seperti mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain. Ia masuk kamar sebentar, lalu keluar dengan wajah berubah. “Bahaya,” katanya pelan. “Permintaannya… pitikmu.” Anakmu.
Mas Iwan langsung menolak. Ia merasa dikhianati. Dari awal ia bilang yang jadi jaminan harus dirinya, bukan anak. Ia memaksa Mbah Kuncen “mengusulkan lagi”, mencari jalan pengganti. Setelah beberapa kali Mbah Kuncen seperti “berkomunikasi”, akhirnya ada kabar yang terdengar seperti pertolongan: permintaan anak bisa diganti—asal Mas Iwan melakukan satu hal sebelum batas waktu magrib.
Paginya, Mas Iwan disuruh membeli 14 amplop. Masing-masing diisi seratus ribu—total 1,4 juta. Amplop itu harus diberikan kepada 14 fakir miskin/pengemis. Tidak boleh ada sisa. Tidak boleh ditahan. Harus habis. Kedengarannya mudah… sampai Mas Iwan menjalankannya.
Ia diantar ke petilasan Pangeran Gunung Pring di Magelang. Kata pengantar, pengemis di sana berderet dari tangga awal sampai atas. Tapi kenyataan menampar: Mas Iwan cuma menemukan tiga pengemis. Ia mencari lagi, bertanya pedagang, naik turun tangga, tapi tetap saja tidak ada. Ia lanjut ke lokasi lain—Pangeran Pangukuhan—tetap nihil. Waktu berjalan, amplop masih sebelas.
Menjelang sore, Mas Iwan kembali ke rumah Mbah Kuncen dengan tangan kosong yang “belum kosong”. Mbah Kuncen kecewa. Permintaan pengganti gagal dipenuhi. Mas Iwan ditodong lagi dengan pertanyaan yang sama: “Lihat uang atau lihat anak?”
Mas Iwan memilih anak. Ia menolak “tumbal” dalam bentuk apa pun. Dan sejak kalimat itu keluar, ia dianggap memutus sepihak perjanjian. Konsekuensinya cepat: uang harus dikembalikan. Bukan ke lokasi kuburan tempat ritual, tapi ke “pusat”—Parangkusumo.
Malam itu juga mereka berangkat. Sekitar jam sebelas, mereka tiba di pantai yang masih ramai di beberapa titik, lalu mencari ujung yang sepi. Di sana angin lebih ganas dari kuburan. Ombak berputar, suaranya seperti geluduk. Mbah Kuncen menancapkan hio di pasir, lalu menyuruh Mas Iwan bersiap: kalau ombak besar datang, karung harus dilempar sebelum ombak menyambar.
Saat gulungan ombak membesar, Mas Iwan melempar karung itu. Dalam sekali tarikan, karung lenyap ditelan air—tidak timbul tenggelam, tidak menyisakan apa pun. Mbah Kuncen menutup ritual dengan dingin: nama Mas Iwan “dicoret merah”. Kalau suatu hari ingin kembali, katanya, tidak akan diterima lagi.
Mas Iwan pulang bukan membawa solusi—melainkan masalah baru. Modal hangus, utang bertambah, dan harapannya hancur di tempat yang bahkan tidak bisa ia ceritakan ke siapa pun. Ia tidak pulang ke rumah. Ia kabur lagi, menumpuk malu dengan waktu.
Di akhir kesaksiannya, Mas Iwan tidak menjual kisah ini sebagai sensasi. Ia justru terdengar seperti orang yang ingin menebus satu kesalahan besar: “Jangan sampai perjalanan kalian seperti saya—pengen uang banyak, yang jadi malah banyak utang.” Sebab ia merasakan sendiri, ketika seseorang mengejar rezeki lewat jalan pintas yang gelap, yang pertama kali hilang bukan cuma uang… tapi arah hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.