Awal tahun 2024, Mas Sugi mendapat telepon dari seorang teman lama semasa nongkrong di Jakarta—sebut saja Parjo. Suaranya terdengar akrab, tapi ada nada tergesa, seperti orang yang sedang mengejar sesuatu. Parjo bilang ia sedang berada di Jawa Barat dan ingin mampir, “sekalian survei,” katanya. Mas Sugi mengiyakan tanpa banyak tanya, karena mengira ini hanya silaturahmi biasa.
Saat akhirnya bertemu, Parjo datang membawa aura pengusaha yang “jadi”. Ia bercerita punya usaha penggilingan padi, menerima order dari berbagai daerah sekitar, dan hidupnya terlihat mapan. Namun di balik cerita lancarnya usaha, Mas Sugi menangkap satu hal: Parjo seperti sedang gelisah, seolah kekayaannya tidak lagi cukup untuk menenangkan kepala. Dari obrolan santai sore itu, Parjo mulai mengarah ke topik yang membuat Mas Sugi terdiam.
Parjo mengaku dulu pernah melakukan pesugihan. Ia bilang sempat putus dari jalur itu, dan sejak putus, kondisi finansialnya perlahan menurun. Di saat bersamaan, ia mengaku sedang ditawari peluang bisnis baru—briket arang—yang butuh modal besar dan harus cepat. Angka yang ia sebut bikin Mas Sugi kaget: dua miliar untuk kebutuhan ekspor.
Mas Sugi menegaskan dari awal bahwa ia tidak mau ikut masuk lebih dalam. Ia hanya bersedia menemani sebagai teman lama, itu pun dengan rasa was-was. Tapi Parjo sudah keburu membulatkan niat. Ia bilang punya “orang” di Jawa Timur, dan kali ini ia ingin mengulang jalur instan—pesugihan lagi—agar modal itu segera ada.
Mereka pun berangkat ke Lumajang. Orang lokal yang jadi pengantar sempat memberi peringatan ganjil: “Jangan heran kalau ketemu bapak itu. Katanya puluhan tahun enggak makan nasi.” Parjo tidak gentar; ia justru makin yakin. Mas Sugi hanya bisa menelan ludah, karena peringatan semacam itu biasanya bukan sekadar cerita—melainkan tanda bahwa jalan yang akan ditempuh tidak wajar.
Mereka bertemu sosok sepuh yang disebut “Bapak”. Dari awal, Bapak bertanya tegas: apakah Parjo benar-benar yakin, karena kalau sudah masuk ritual, “tidak bisa mundur, tidak bisa diputus.” Parjo mengangguk tanpa ragu. Bapak lalu menentukan hari: Rabu Pon, sekitar delapan harian dari kedatangan mereka.
Syaratnya pun tidak sedikit: ayam cemani jantan, ayam jago aduan (jenis tertentu), ayam jago kampung, beras merah, beras putih, ketan hitam, serta keharusan memakai pakaian adat Jawa saat hari ritual. Mas Sugi menyaksikan sendiri betapa sulitnya mencari cemani jantan yang benar-benar murni; mereka sampai menunggu hampir lima hari, dan Parjo memaharkan sampai jutaan rupiah demi mendapatkan yang sesuai.
Hari Rabu Pon tiba. Parjo diminta membawa semua syarat dalam satu bakul besar seperti gendongan tukang jamu, dan mereka berangkat tanpa alas kaki. Perjalanan hampir dua jam, menuruni jalur yang mengarah ke kawasan wisata air terjun. Namun mereka tidak menuju keramaian; mereka belok ke jalan setapak sunyi menuju mata air di sisi air terjun yang lebih kecil.
Di dekat mata air itu, Bapak berkomat-kamit pelan, tertutup suara jatuhnya air. Mas Sugi tidak mendengar jelas mantranya, hanya merasakan suasana berubah: hening yang menekan, seolah udara jadi lebih berat. Di momen itu, Mas Sugi mengaku sempat melihat sekilas sosok perempuan cantik berkebaya dengan mahkota kecil dan batu merah—muncul dari arah air terjun—lalu lenyap begitu saja.
Ritual di mata air selesai sekitar satu jam. Mereka kembali ke rumah Bapak yang sederhana namun terasa “bersih tidak wajar”—rapi, tanpa sarang laba-laba, tanpa bau lembap khas rumah bilik tua. Di halaman, Bapak menyiapkan gentong berisi air dan bunga, lalu memanggil “Nduk” seolah ada seseorang di sebelah Parjo. Mas Sugi merinding ketika air siraman seperti membentuk siluet tubuh di sisi Parjo, meski tidak pernah benar-benar menjadi wujud utuh.
Mereka masuk ke ruangan kecil beralas bilik. Di sana ada meja dan bekas sesaji sederhana seperti singkong rebus dan talas. Parjo diminta duduk, lalu “calon” istri gaibnya diposisikan di sisi lain—dengan panggilan “Nduk” yang terus diulang Bapak. Bapak menyatukan tangan Parjo seperti sedang menuntun prosesi akad, dan Parjo menjawab siap.
Tiga telur diletakkan: telur ayam untuk “istri”, telur bebek untuk Parjo, dan telur soang sebagai saksi. Bapak kembali mengucap mantra, lalu satu per satu telur itu pecah sendiri tanpa disentuh. Bapak menutup prosesi dengan kalimat yang membuat Mas Sugi tercekat: “Wis, ini sudah selesai. Kalian sekarang sah.”
Sesudahnya, ayam-ayam dipotong dan darahnya ditampung. Parjo diminta meminum darah itu, dan Mas Sugi menyaksikan “bagian” di sisi istri gaib pun seperti ikut meminum—darah dalam mangkuk terasa habis begitu saja. Parjo lalu dibawa ke kamar pengantin, sementara Mas Sugi diminta menunggu di luar bersama Bapak hingga pagi.
Sebelum pulang, Parjo diberi selendang hijau sebagai “bukti” bahwa si Nyai bersedia menjadi istri gaibnya. Bapak menolak uang, hanya meminta rokok kelobot dan tembakau “seikhlasnya.” Dalam perjalanan pulang, Mas Sugi melihat sosok perempuan itu lagi—kali ini muncul di kaca spion tengah dengan senyum yang bikin jantung mencelos. Parjo malah santai, seolah itu hal biasa: “Kan udah kawin sama gue.”
Tak lama, dampaknya merembet ke kehidupan nyata Parjo. Ia sempat membeli perhiasan satu set—anting, kalung, gelang, cincin—sebagai permintaan “istri” yang tidak terlihat itu. Namun yang paling menghantam justru datang beberapa bulan kemudian: anak Parjo sakit, masuk rumah sakit, lalu meninggal. Parjo mengabarkan dengan suara hancur, tapi bersamaan dengan itu, order usaha penggilingan padinya justru makin deras.
Tiga bulan setelah anaknya meninggal, istrinya jatuh sakit tanpa riwayat jelas—jatuh di kamar mandi, lalu disebut stroke, dan meninggal dalam hitungan minggu. Lagi-lagi, setelah itu usaha Parjo naik lebih tinggi. Parjo akhirnya mencapai target uang dua miliar yang ia kejar, seolah setiap kehilangan dibayar dengan kenaikan rezeki yang semakin besar.
Ketika sudah merasa “menang,” Parjo datang lagi membawa mobil Rubicon. Ia bicara tentang membuka penggilingan baru, memperluas jaringan, bahkan membangun usaha briket sampai skala pabrik. Namun bersamaan dengan ekspansi itu, Parjo mulai menikah lagi—dan pola mengerikan muncul: setiap ia menikah dengan perempuan manusia, tak lama kemudian istrinya sakit dan meninggal, lalu usaha Parjo kembali naik.
Akhirnya Parjo dan Mas Sugi kembali menemui Bapak untuk meminta jawaban. Di sana, Bapak menjelaskan inti masalahnya: “Istri gaib kamu cemburu. Kamu enggak boleh dimiliki siapa pun.” Telur soang yang pecah menjadi tanda ikatan itu tidak bisa dibatalkan—putusnya hanya kalau Parjo meninggal. Perempuan yang dinikahi akan “dipakai” sebagai jalan tumbal, karena istri gaib tidak mau berbagi.
Parjo sempat mencoba “menipu takdir” dengan mengangkat anak. Namun dalam waktu sekitar dua bulan, anak angkat itu meninggal juga—seolah siapa pun yang terlalu dekat dan “dimiliki” Parjo akan tersingkir. Di sisi lain, Parjo justru makin kaya: ia punya dua pom bensin, properti di beberapa kota, dan usaha yang ditinggal-tinggal lalu diserahkan ke orang kepercayaan. Tapi ia mengaku hampa: “Gue punya segalanya, tapi gue enggak punya siapa-siapa.”
Mas Sugi pun ikut merasakan akibatnya ketika ia mencoba membantu Parjo mencari jalan pemutusan. Ia diteror: mimpi berubah jadi nyata, ada cekikan, cakaran, bahkan penampakan wajah “istri gaib” yang berubah menyeramkan. Parjo lalu mengaku hal yang lebih mengejutkan: ia punya anak-anak dari istri gaib—bahkan sempat diperlihatkan lima anak, lalu belakangan disebut jauh lebih banyak—dan ketika mereka marah, sosok “anak-anak” itu berubah bertaring, berambut panjang, dan ikut menyerang Mas Sugi.
Pada akhirnya, Mas Sugi memilih mundur demi keselamatan. Parjo terus berpindah kota—Jawa Tengah, Sumatera, hingga Malaysia—sementara pola pernikahan singkat dan kematian istri tetap berulang, disertai naik-turunnya order usaha. Parjo masih hidup dan masih makmur, tapi hidupnya seperti berputar dalam lingkaran yang sama: kaya, pindah, menikah, kehilangan, lalu kaya lagi. Dan dari kisah ini, pesannya jadi jelas—kekayaan instan mungkin terlihat seperti jalan keluar, tapi ikatan yang menyertainya bisa menelan keluarga, ketenangan, bahkan orang-orang di sekitar yang mencoba menolong.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
