Pada 2023, kehidupan Mbak Muti berubah setelah rumah tangganya yang telah dikaruniai empat anak berakhir dengan perceraian. Pertengkaran dengan suaminya banyak dipicu masalah ekonomi dan ketidakjujuran. Puncaknya terjadi ketika uang sekitar Rp10 juta yang mereka simpan untuk biaya sekolah anak-anak mendadak habis tanpa penjelasan yang jelas.
Setelah proses perceraian selesai, hak asuh seluruh anak diberikan kepada Mbak Muti. Namun ia tidak menerima nafkah sehingga harus bertahan menggunakan sisa tabungan yang semakin menipis. Dalam keadaan terdesak, seorang tante yang tinggal di Jakarta menawarkannya pindah, membuka usaha di sebuah kios miliknya, dan berjanji membantu menyediakan modal.
Mbak Muti bersama anak-anaknya kemudian meninggalkan Cirebon menuju Jakarta. Sang tante memberikan kios di sebuah pasar tradisional yang telah dikelola secara modern, lengkap dengan lantai keramik, kamera pengawas, serta deretan toko yang tertata rapi. Ia juga mendapat modal sekitar Rp20 juta untuk membuka usaha aksesori dari manik-manik.
Kios tersebut digunakan untuk menjual bros, gelang, kalung, jepitan rambut, serta gantungan kunci yang dapat dibuat sesuai pesanan pelanggan. Mbak Muti membuka tokonya lebih pagi dan menutupnya lebih sore dibandingkan pedagang lain. Cara itu membuat usahanya mulai dikenal dan memperoleh cukup banyak pesanan.
Di antara para pedagang pasar, Mbak Muti berkenalan dengan seorang perempuan bernama samaran Bu Yus. Perempuan tersebut merupakan istri Pak Adi, pemilik agen beras yang berada tidak jauh dari kiosnya. Bu Yus dikenal ramah dan sering membawakan makanan hingga hubungan keduanya menjadi cukup dekat.
Sekitar satu bulan setelah Mbak Muti berjualan, Bu Yus menyampaikan sebuah kejanggalan. Dalam empat minggu, empat pedagang laki-laki meninggal secara bergantian, yaitu penjual telur, tempe, perabotan, dan kopi. Mereka berusia sekitar 38 sampai 41 tahun dan disebut meninggal dengan kejadian yang hampir sama, yakni merasa dicekik sebelum muntah darah.
Bu Yus yang sangat penasaran meminta bantuan seorang petugas keamanan bernama samaran Pak Asep untuk melihat rekaman CCTV pasar. Dari rekaman dua minggu terakhir, terlihat penjual kopi dan perabot menerima bungkusan kain putih yang diikat menggunakan ijuk. Setelah bungkusan itu dibuka, di dalamnya tampak potongan kayu, paku serta kawat berkarat, bunga, dan sebuah foto.
Kedua pedagang tersebut meninggal sehari setelah menerima benda itu. Bu Yus mulai menduga kematian mereka berkaitan dengan seseorang di dalam pasar yang menggunakan praktik tertentu. Mbak Muti berusaha menenangkannya dan meminta Bu Yus tidak terlalu cepat menuduh karena mereka belum mempunyai bukti yang cukup.
Pada suatu hari, Bu Yus mengajak Mbak Muti berkunjung ke rumahnya. Mbak Muti terkejut karena rumah keluarga tersebut sangat megah untuk ukuran kawasan perkampungan. Di halaman terparkir sebuah mobil Eropa model lama, dua mobil Honda CR-V berwarna putih, serta tiga sepeda motor Honda PCX yang juga berwarna putih.
Bu Yus mengatakan suaminya dahulu hanyalah seorang tukang panggul di toko beras. Menurut cerita yang ia ketahui, Pak Adi memperoleh tanah warisan, menjualnya, lalu menggunakan uang tersebut untuk merintis usaha. Setelah usahanya berkembang, mereka pindah dari kampung menuju Jakarta dan membuka agen beras di pasar.
Kecurigaan semakin kuat ketika Bu Yus memperlihatkan sebuah ruangan terlarang di dalam toko suaminya. Ruangan kecil itu biasanya dikunci menggunakan dua gembok dan tidak boleh dimasuki istri maupun karyawan. Ketika suatu hari pintunya tidak terkunci, Bu Yus mengajak Mbak Muti masuk untuk mengetahui apa yang selama ini dirahasiakan.
Di dalam ruangan terdapat banyak lilin merah, tempat persembahan, serta deretan foto para pedagang laki-laki di pasar. Lima foto ditempatkan terpisah di dekat persembahan, terdiri atas foto ayah Bu Yus dan empat pedagang yang telah meninggal. Mbak Muti juga mengaku melihat sosok hitam bertubuh besar dan bermata merah berdiri di sudut ruangan sambil menatapnya.
Setelah ruangan itu diketahui, keadaan Bu Yus mulai berubah. Ia bermimpi mendengar suara para pedagang yang telah meninggal meminta pertolongan dan menyuruhnya mengatakan kepada suaminya agar berhenti. Ketika bercermin, Bu Yus juga mengaku melihat sosok perempuan berambut kusut, bertaring, dan berkuku panjang berada di atas pundaknya.
Pada hari Jumat ketika toko beras sedang tutup, Mbak Muti melihat Pak Adi berjalan dari arah kiosnya. Ketika tiba di depan toko, ia menemukan bungkusan putih berikat ijuk yang sama seperti benda dalam rekaman CCTV. Isinya terdiri atas kayu gaharu, paku berkarat, kawat, bunga, serta foto Mbak Muti sendiri.
Mbak Muti langsung membuang dan menginjak bungkusan tersebut sambil beristigfar. Namun ketika mengendarai sepeda motor untuk membeli bahan dagangan, ia merasa seperti sedang membonceng seseorang. Sosok putih berambut panjang kemudian terlihat samar memeluknya dari belakang hingga Mbak Muti merasa pusing, kehilangan kendali, dan mengalami kecelakaan.
Akibat kecelakaan tersebut, Mbak Muti tidak sadarkan diri selama dua minggu. Menurut keterangan keluarganya, kemampuan bernapasnya hanya tersisa sekitar 15 persen dan hampir seluruhnya dibantu mesin. Selama koma, ia merasa masuk ke ruangan berisi batu serta tumbuhan kering dan melihat para pedagang yang meninggal terikat kawat berkarat sambil meminta pertolongan.
Dalam penglihatannya, kawat itu melukai tubuh para korban setiap kali mereka bergerak. Mbak Muti juga merasa tangannya diikat, ditarik, dan terbentur batu. Ketika sadar, ia mendapati tangan kirinya harus dijahit serta terdapat sejumlah bekas sayatan. Sang tante mengatakan setiap hari membacakan Surah Al-Kahfi di sampingnya dan meminta orang-orang yang datang menjenguk melakukan hal yang sama.
Setelah keluar dari rumah sakit, Mbak Muti masih melihat sosok perempuan yang sebelumnya muncul di belakang sepeda motornya. Ia kemudian memilih berhenti berdagang di pasar tersebut dan pindah ke wilayah lain di Jakarta. Dari para pedagang yang datang menjenguk, ia baru mengetahui bahwa Bu Yus meninggal sekitar satu minggu setelah dirinya mengalami koma.
Kematian Bu Yus disebut berlangsung dalam keadaan tidak biasa, dengan mata dan mulut terbuka serta proses pemakamannya dirahasiakan. Para pedagang tidak diperbolehkan melayat dan tidak mengetahui lokasi makamnya. Mbak Muti hanya dapat mendoakan sahabatnya tersebut karena meyakini Bu Yus merupakan orang baik yang tidak mengetahui perbuatan suaminya sejak awal.
Meskipun telah pindah dan membuka kembali usaha aksesori, sosok hitam yang dilihat di ruangan Pak Adi masih sempat muncul di belakang rumahnya. Mbak Muti kemudian mendatangi seorang tokoh yang dipanggil Yayi dan menjalani penanganan menggunakan air untuk diminum serta membasuh wajah sambil membaca istigfar dan syahadat. Setelah menjalaninya selama tiga bulan, gangguan tersebut tidak kembali muncul.
Menurut penjelasan yang diterima Mbak Muti, dirinya diduga hendak dijadikan tumbal karena Pak Adi takut rahasia ritualnya terbongkar. Pak Adi disebut menjalankan pesugihan beras yang diperoleh dari kawasan Gunung Kawi, sedangkan para pedagang laki-laki dijadikan korban untuk mempertahankan usahanya. Bu Yus dan Mbak Muti disebut menjadi sasaran karena telah memasuki ruangan terlarang serta mengetahui terlalu banyak.
Beberapa waktu kemudian, Mbak Muti mendapat kabar bahwa toko beras Pak Adi telah tutup, kendaraan di rumahnya menghilang, dan rumah mewah itu menjadi kosong. Pak Adi kemudian dikabarkan ditemukan meninggal seorang diri di dalam kamar setelah beberapa hari tidak terlihat oleh tetangga. Dari pengalaman tersebut, Mbak Muti menyimpulkan bahwa rumah mewah dan kendaraan mahal tidak menjamin ketenangan. Ia memilih membangun kembali usaha secara perlahan dan berpesan agar masyarakat berhati-hati terhadap kiriman asing, tidak mudah tergoda kekayaan instan, serta tetap mencari rezeki melalui jalan yang benar.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
