Mas John bukan orang yang mudah percaya pada hal-hal gaib begitu saja. Sebagai seorang sopir yang hidupnya lebih banyak dihabiskan di jalan daripada di rumah, ia terbiasa menghadapi kenyataan dengan kepala dingin. Namun semua keyakinan itu perlahan goyah ketika ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri serangkaian kejadian yang sulit dinalar akal sehat — kejadian yang menimpa tetangga kontrakannya dan mengubah hidup mereka selamanya.
Kisah ini berawal pada tahun 2018, ketika Mas John memutuskan untuk mencari kontrakan bersama istri ketiganya. Sebelumnya, sang istri bekerja di warung dan Mas John merasa iba melihatnya kelelahan setiap hari. Ia pun mengajak istrinya untuk tinggal di rumah petak yang lebih tenang. Di kontrakan itulah Mas John berkenalan dengan Mas Bagio, seorang perantau asal Jawa Tengah yang juga mengontrak di lokasi yang sama. Keduanya dengan cepat menjadi akrab, seperti layaknya sesama perantau yang saling menitipkan diri di lingkungan yang asing.
Mas Bagio dikenal sebagai orang yang tekun. Ia menghidupi keluarga kecilnya dengan membuka usaha jasa servis elektronik — mesin cuci, kulkas, dan berbagai peralatan rumah tangga lainnya. Sementara itu, sang istri yang bernama Mbak Ipah adalah perempuan yang luar biasa gigih. Ia berdagang ayam goreng di pasar, berangkat setiap habis asar dan baru pulang sekitar pukul sebelas atau dua belas malam. Bukan dagangan kecil-kecilan — Mbak Ipah mampu menggoreng hingga lima puluh kilogram ayam setiap harinya, belum termasuk sayuran dan sambal segar yang ia siapkan sendiri.
Kerja keras itu membuahkan hasil yang nyata. Dagangan Mbak Ipah laris manis, pelanggannya terus bertambah, dan dari hasil berjualan itu keluarga Bagio bisa membangun rumah yang layak serta memiliki kendaraan. Di lingkungan kontrakan yang sederhana, kehidupan mereka terlihat cukup dan berkecukupan. Mas John sendiri mengakui bahwa dagangan Mbak Ipah benar-benar luar biasa — jarang ada pedagang yang bisa menjual lima puluh kilogram ayam sehari hanya dengan gerobak sederhana di pasar.
Keberhasilan itu rupanya memantik iri dari pihak yang tak terduga. Sekitar tiga bulan setelah Mas John tinggal di kontrakan tersebut, Mas Bagio mulai mengeluhkan sakit di kakinya. Kakunya terasa nyeri dan susah digerakkan. Awalnya semua mengira itu asam urat atau rematik biasa. Mas John bahkan sampai membelikan obat dari apotek untuk meringankan keluhan tetangganya itu. Namun kaki Mas Bagio tidak kunjung membaik, dan justru kondisi itu menjadi tanda awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap.
Beberapa waktu kemudian, dagangan Mbak Ipah yang selama ini selalu habis mendadak mengalami hal yang mustahil. Ayam goreng yang baru dimasak dari bahan segar, sesampainya di pasar langsung dinyatakan busuk oleh para pembeli. Bilatungan. Berbau. Padahal ayam itu baru saja disiapkan dengan tangan Mbak Ipah sendiri. Kejadian itu berlangsung selama lima hari berturut-turut tanpa jeda. Daripada malu, Mas Bagio dan istrinya memilih membuang dagangan yang gagal terjual itu di jalan sebelum pulang ke rumah, agar tidak terlihat oleh tetangga.
Di malam-malam yang sama, ketenangan di sekitar kontrakan mulai terusik. Mas John yang terbiasa tidur larut malam beberapa kali mendengar teriakan dari rumah Mas Bagio — tanda istrinya mengalami mimpi buruk yang menyiksa. Lalu suatu malam yang ia tak akan pernah lupakan, Mas John mengintip dari balik tirai jendela dan mendapati pemandangan yang membekukan tulangnya. Di depan rumah Mas Bagio, berkerumun sosok-sosok menyerupai manusia dengan penampilan yang mengerikan — pakaian compang-camping, tubuh berlumur tanah merah seperti baru keluar dari kubur, rambut awut-awutan, ada yang plontos. Mereka semua menatap ke satu arah: pintu rumah Mas Bagio.
Mas John tidak bisa bergerak. Tangannya mencengkeram tirai, kakinya seperti ditanam ke lantai. Ia baru bisa bergerak kembali setelah sosok-sosok itu menghilang bersamaan dengan redanya angin malam yang terasa aneh. Malam lainnya, ia melihat bola api melayang berputar-putar di atas atap rumah Mas Bagio mengeluarkan suara seperti kebocoran gas. Lain malam lagi, tiga ekor burung kuntul terbang mengelilingi rumah itu — sesuatu yang menurut pengalamannya sendiri merupakan pertanda bahwa ada tiga nyawa yang sedang diincar.
Kondisi Mbak Ipah semakin memburuk dengan cepat yang mencengangkan. Dalam hitungan hari, perempuan yang tadinya sehat dan bertenaga itu berubah menjadi sosok yang tinggal tulang berbalut kulit. Ia menolak dibawa ke dokter. Setiap kali ada saran untuk berobat, seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi Mas Bagio untuk bertindak. Mas John yang sudah menyaksikan berbagai tanda gaib itu terus mendesak tetangganya untuk segera mencari pertolongan, bahkan menawarkan diri untuk mengantar ke mana saja. Namun Mas Bagio tetap diam, menerima saran tanpa melakukan apa pun.
Pada suatu malam, saat Mas John duduk sendiri di teras sambil memandang tanah kosong di depan kontrakan, ia melihat sepasang kaki raksasa melangkah pelan melewati kebun yang gelap. Tingginya setara dengan tiang ring basket. Langkah pertama, langkah kedua — dan begitu langkah ketiga memasuki rumah Mas Bagio, terdengar teriakan melengking dari dalam. Mas John berlari dan mendapati Mbak Ipah dalam keadaan panik, menceritakan bahwa kakinya baru saja ditarik oleh sosok tinggi besar yang entah dari mana datangnya, seolah hendak menyeretnya pergi.
Kejadian itulah yang akhirnya menyadarkan Mas Bagio. Atas desakan dan bantuan Mas John, keduanya berangkat menemui seorang sesepuh yang Mas John kenal dan percaya — ia menyebutnya Abah. Sesampainya di sana, sang Abah bahkan belum diberi penjelasan apa pun sudah langsung berkata bahwa ia sudah mengetahui semua permasalahan yang dibawa Mas Bagio. Ia lalu membuka satu per satu apa yang sesungguhnya terjadi dengan tenang namun menggetarkan.
Menurut Abah, yang menyerang keluarga Mas Bagio adalah pesaing dagang Mbak Ipah di pasar. Orang itu bukan sekadar iri biasa — ia memiliki dua senjata sekaligus. Pertama, ia melakukan pesugihan untuk mendongkrak usahanya sendiri. Kedua, ia memiliki ilmu guna-guna sendiri yang tidak perlu meminta bantuan dukun lain untuk dijalankan. Dan ilmu yang digunakan untuk menyerang Mbak Ipah bukan sembarang guna-guna kelas rendahan. Abah menyebutnya dengan jelas: pring sedapur — santet bambu satu wilayah, yang berarti sekali kena, seluruh lingkaran keluarga dalam satu wilayah itu bisa ikut terkena dampaknya.
Abah juga menyampaikan kabar yang membuat hati Mas Bagio dan Mas John berat: mereka sudah terlambat. Kondisi Mbak Ipah sudah sangat parah dan yang bisa dilakukan hanyalah menunggu keajaiban dari Allah. Meski begitu, Abah tetap memberikan petunjuk untuk ikhtiar — selama satu minggu hingga dua puluh satu hari ke depan, rumah Mas Bagio tidak boleh sepi pada malam hari. Harus selalu ada orang yang berjaga. Abah juga memberikan air yang sebagian diminum dan sebagian dipakai mandi Mbak Ipah, serta belerang dan garam kasar yang harus dibakar setiap malam ketika para tetangga berkumpul berjaga.
Para tetangga yang biasa bermain catur bersama Mas John pun dimintai tolong untuk bergantian berjaga di rumah Mas Bagio setiap malam. Malam-malam pertama berjalan ramai dan bersemangat. Namun memasuki malam kelima, satu per satu tetangga mulai meminta izin pulang lebih awal, padahal biasanya mereka bertahan sampai azan subuh. Seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang mengusir mereka secara halus. Tinggallah Mas John dan Mas Bagio berdua, dan di malam itulah suara keras seperti perabot dibanting-banting terdengar dari dalam dapur, meski saat diperiksa tidak ada satu pun piring atau panci yang jatuh.
Malam lain yang tak kalah mencekam datang ketika suara ketukan di pintu belakang terdengar tiga kali berturut-turut, semakin lama semakin keras. Ketukan ketiga membuat pintu itu jebol sendiri. Mas John dan Mas Bagio berlari ke sumber suara dan mendapati sosok setinggi besar dalam posisi jongkok membelakangi mereka — memakai pangsi hitam komprang dan topi petani, rambutnya panjang. Sebelum sempat melihat wajahnya, begitu keduanya mendekat sambil beristigfar, sosok itu lenyap begitu saja tanpa jejak.
Suatu sore ketika Mas Bagio pergi mengerjakan servis mesin cuci dan Mas John serta istrinya diminta untuk menjaga Mbak Ipah, ketenangan itu akhirnya runtuh. Bagio pulang di sore hari dan tiba-tiba berteriak sambil menangis. Mas John berlari masuk dan istri Mas Bagio telah ditemukan dalam keadaan kaku di dalam kamar. Mbak Ipah telah meninggal. Saat dimandikan oleh ibu pemandi jenazah, ditemukan lubang-lubang kecil berwarna merah di bagian dadanya — tanda yang tidak wajar dan membuat Mas Bagio menangis tanpa suara, menangis sedalam-dalamnya hingga tak ada lagi yang bisa keluar dari tenggorokannya.
Setelah pemakaman, kesedihan Mas Bagio belum juga usai. Setiap pagi ketika ia datang ke makam untuk menyiram air kembang, tanah yang digundukkan kembali rata dengan sendirinya — selama tiga hari berturut-turut. Penasaran dan tak habis pikir, ia mengajak Mas John kembali menemui Abah. Di situlah sang Abah menyampaikan sesuatu yang di luar nalar: Mbak Ipah sebenarnya belum benar-benar meninggal dalam artian rohnya belum pergi begitu saja. Ada sosok jin muslim yang menjaganya di alam sana, merawatnya agar tidak berkeliaran, dan karena itulah Mbak Ipah menolak dikuburkan — ia merasa belum mati.
Untuk membuktikan, Bagio diminta tidur di makam istrinya pada malam ketujuh. Dan di sana, dalam mimpinya, Mbak Ipah benar-benar datang menemuinya. Ia berkata bahwa dirinya belum meninggal dan memprotes keberadaan kuburan itu. Ia menitipkan anak mereka kepada Mas Bagio dan meminta sang suami untuk ikhlas. Sejak malam itu, tanah kuburan kembali rata untuk terakhir kalinya. Mas Bagio pulang dengan hati yang mulai menerima, percaya bahwa istrinya ada di tempat yang baik, dijaga oleh makhluk Allah yang beriman.
Abah tidak mengungkap siapa pelaku di balik semua penderitaan keluarga Mas Bagio. Ia hanya berpesan agar Bagio pasrah dan ikhlas, karena dosa perbuatan itu akan ditanggung sendiri oleh pelakunya. Dan memang, karena Mas Bagio tidak melanjutkan usaha ayam goreng istrinya dan memilih kembali fokus pada servis elektronik, kiriman santet itu pun berhenti. Pelaku merasa sudah puas — usaha Mbak Ipah hancur, Mbak Ipah telah tiada. Mas Bagio dan anaknya dibiarkan hidup. Meski tragis, ada satu hal yang disyukuri: anak Mas Bagio selamat, tumbuh, dan kini sudah dewasa.
Kisah yang disaksikan Mas John ini meninggalkan satu pelajaran yang keras: di dunia perdagangan, tidak semua persaingan dilakukan secara jujur. Ada yang memilih jalan gelap — pesugihan untuk mendongkrak dagangannya, guna-guna pring sedapur untuk menghancurkan saingannya. Biaya yang dikeluarkan mungkin besar, dosanya lebih besar lagi, dan akibatnya suatu saat pasti kembali kepada pelakunya. Sementara bagi korbannya, yang tersisa hanyalah luka, kehilangan, dan pengingat bahwa ancaman dalam hidup tidak selalu datang dari sesuatu yang bisa dilihat oleh mata.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
