Pada 2020, Teh Nur yang saat itu berusia sekitar 25 tahun berkenalan dengan seorang pria bernama samaran Dedy dalam sebuah acara hajatan di desanya. Keduanya sebenarnya masih tinggal di desa yang sama, hanya berbeda blok. Dedy yang saat itu bekerja sebagai sales roti lebih dahulu mendekatinya, meminta nomor WhatsApp, lalu mulai menjalin komunikasi secara intens.
Ketika Teh Nur menceritakan perkenalan tersebut kepada keluarga, ibunya tidak keberatan dan justru meminta hubungan itu dilanjutkan. Bibinya juga mengenal latar belakang keluarga Dedy dan mengatakan kehidupan mereka kini tergolong berkecukupan. Ibu Dedy dikenal mempunyai usaha beras yang berkembang, sedangkan ayahnya disebut memiliki banyak lahan sawah.
Dedy kemudian semakin sering datang ke rumah Teh Nur. Setiap berkunjung, ia membawa makanan yang justru selalu diberikan kepada ibu Teh Nur. Setelah sekitar satu bulan berkenalan, Dedy menyampaikan niat serius untuk melamar. Teh Nur sebenarnya belum memiliki perasaan yang kuat karena merasa hubungan mereka masih terlalu singkat.
Ibunya justru mendorong Teh Nur menerima lamaran tersebut karena usianya dianggap sudah cukup untuk menikah. Sang bibi juga memberikan saran serupa dengan mempertimbangkan Dedy yang terlihat baik serta berasal dari keluarga berada. Karena terus didesak keluarga, Teh Nur akhirnya mengikuti keinginan tersebut dan menikah meskipun mengaku belum benar-benar mencintai Dedy.
Sekitar satu bulan setelah pernikahan, sifat Dedy mulai berubah. Pria yang sebelumnya terlihat penyayang dan manja menjadi mudah marah serta emosional. Keanehan lain muncul ketika Teh Nur mencuci celana suaminya dan menemukan bunga kantil di dalam saku. Ketika ditanya, Dedy bersikeras mengatakan bunga itu bukan miliknya meskipun ditemukan di pakaiannya.
Pertanyaan sederhana mengenai bunga kantil berubah menjadi pertengkaran hingga Dedy pergi ke rumah orang tuanya. Ibu dan bibi Teh Nur sama-sama menganggap benda tersebut mungkin hanya digunakan untuk menjaga usaha keluarga sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Namun malam setelah Dedy pergi, Teh Nur mengaku melihat sosok bertubuh sangat besar menyerupai buto berdiri di dekat tempat tidurnya hingga membuat tubuhnya kaku dan tidak mampu berteriak.
Teh Nur berusaha membaca doa dalam hati hingga sekitar beberapa menit kemudian sosok tersebut menghilang. Malam berikutnya gangguan kembali terjadi, tetapi kali ini ia melihat sesuatu menyerupai tangan buntung berjalan sendiri lalu menembus pintu. Ibunya kembali menganggap pengalaman tersebut sebagai mimpi atau halusinasi dan menyarankan agar Dedy dipanggil pulang supaya Teh Nur tidak tidur sendirian.
Dedy kemudian kembali ke rumah. Pada malam itu ia meminta Teh Nur melayaninya sebagai istri. Ketika keduanya melakukan hubungan intim, Teh Nur mengaku mengalami kejadian yang paling membuatnya ketakutan. Saat menyentuh kepala serta tubuh Dedy, ia merasakan bulu hitam lebat dan melihat sosok suaminya berubah menyerupai beruk atau monyet besar.
Teh Nur langsung mendorong Dedy sambil beristigfar dan mempertanyakan siapa sebenarnya sosok di hadapannya. Dedy marah karena merasa ditolak oleh istrinya, sedangkan ibu Teh Nur yang datang setelah mendengar keributan justru menganggap putrinya tidak mau melayani suami. Dedy kemudian meninggalkan rumah dan menceritakan masalah tersebut kepada orang lain hingga Teh Nur merasa menjadi bahan pembicaraan tetangga.
Atas desakan ibunya, Teh Nur mendatangi rumah keluarga Dedy untuk menyelesaikan masalah. Ketika masuk, ia melihat beberapa bunga di sekitar pintu rumah. Dedy justru menyambutnya dengan kasar dan mengatakan hanya akan kembali apabila Teh Nur bersedia bersujud di kakinya. Teh Nur menolak karena merasa tidak pantas bersujud kepada manusia.
Teh Nur kemudian berbicara dengan ibu mertuanya dan menceritakan penampakan buto, tangan buntung, hingga perubahan wujud Dedy yang menurut penglihatannya menyerupai beruk. Sang mertua terlihat terkejut tetapi kemudian mengalihkan pembicaraan. Ia memberikan uang sekitar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu serta membekali Teh Nur makanan untuk dibawa pulang.
Karena merasa curiga, Teh Nur tidak langsung menggunakan uang tersebut dan menyimpannya di dalam Al-Qur’an. Ia kemudian mendatangi seseorang yang disebut Mimi bersama bibinya untuk meminta pendapat tentang berbagai kejadian yang dialaminya. Setelah mendengar cerita tersebut, Mimi mengatakan Teh Nur sedang berada dalam bahaya dan memberikan dua bungkus air untuk diminum serta digunakan di sekitar rumah.
Setelah kembali, Teh Nur memeriksa uang pemberian mertuanya yang disimpan di dalam Al-Qur’an. Menurut kesaksiannya, lembaran uang itu telah berubah menjadi daun-daun kering dengan jumlah yang sama. Makanan yang sebelumnya terlihat normal juga dikatakan berubah menjadi busuk dan dipenuhi belatung hingga membuat bibinya dan sang ibu hampir muntah.
Ketika Dedy pulang, Teh Nur menunjukkan daun dan makanan tersebut. Dedy disebut terlihat terkejut dan tidak mampu memberikan penjelasan sebelum kembali pergi. Teh Nur semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres sehingga pasangan tersebut akhirnya menjalani pisah ranjang. Selama sekitar dua bulan mereka tidak berkomunikasi melalui telepon maupun WhatsApp.
Meskipun telah berpisah tempat tinggal, Teh Nur mengaku masih merasa seperti diikuti dan terus membayangkan Dedy. Pada malam hari ia beberapa kali mengalami keadaan seperti ketindihan, tubuh terasa berat, tidak dapat bergerak, dan tidak mampu berbicara. Karena gangguan tersebut tidak berhenti, ia kembali menemui Mimi untuk mencari jalan keluar.
Menurut penuturan Teh Nur, Mimi menyarankan agar pernikahannya benar-benar diakhiri apabila ia ingin melepaskan keterikatan tersebut. Setelah berdiskusi dengan ibunya, Teh Nur memutuskan mengajukan perceraian ke pengadilan. Pernikahan yang baru berlangsung beberapa bulan itu akhirnya resmi berakhir sebelum mencapai usia satu tahun.
Sekitar tiga sampai empat bulan setelah bercerai, Teh Nur mengalami mual, pusing, dan perubahan pada bagian perut yang terasa seperti kehamilan. Ia merasa ada sesuatu bergerak di dalam perut meskipun mengaku tidak pernah melakukan hubungan dengan siapa pun setelah berpisah. Hasil test pack yang dilakukan juga menunjukkan negatif, tetapi bentuk perutnya terus membesar hingga membuatnya takut keluar rumah karena khawatir menjadi bahan pembicaraan.
Teh Nur kembali menemui Mimi dan dalam kesaksiannya diberi tahu bahwa kondisi tersebut bukan kehamilan biasa, melainkan sesuatu yang disebut sebagai “bayi ghaib”. Mimi menduga hal tersebut dikirim oleh mantan suaminya untuk mempermalukan Teh Nur seolah-olah hamil di luar nikah. Ia kemudian diarahkan menemui seorang tabib untuk menjalani pembersihan pada malam Jumat.
Proses tersebut menggunakan sejumlah perlengkapan seperti ayam cemani, dupa, bunga melati, dan kebutuhan ritual lainnya. Teh Nur mengaku merasakan sesuatu seperti ditarik dari tubuhnya hingga sang tabib sempat terdorong, sementara dirinya sangat lemas hampir tidak sadarkan diri. Setelah proses selesai, perutnya yang sebelumnya membesar disebut langsung kembali rata. Tabib tersebut juga mengatakan bahwa apabila ikatan pernikahan bertahan sampai satu tahun, Teh Nur diduga dapat dijadikan tumbal dalam praktik yang dikaitkan dengan keluarga Dedy.
Setelah kejadian tersebut, Teh Nur memblokir seluruh akses komunikasi Dedy dan keluarganya. Beberapa waktu kemudian ia mendapat kabar dari tetangga bahwa ibu mantan suaminya mengalami sakit berkepanjangan, usaha beras keluarga mulai berhenti, sawah terserang hama, dan Dedy sendiri meninggalkan rumah tanpa kabar. Teh Nur mengaitkan kehancuran tersebut dengan kegagalan memperoleh tumbal, meskipun hal itu merupakan kesimpulan berdasarkan pengalaman dan informasi yang ia terima. Kini Teh Nur telah menikah kembali dan menjalani kehidupan yang lebih tenang. Dari pengalamannya, ia berpesan agar perempuan tidak menikah hanya karena tekanan keluarga atau terpikat kekayaan calon pasangan, karena kemewahan tidak pernah menjadi jaminan kebahagiaan dan keputusan menikah seharusnya lahir dari keyakinan diri sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
