Mbak Lisa adalah perempuan perantau asal Sumatera yang datang ke Jawa Barat dengan tangan kosong dan tekad yang besar. Jauh dari keluarga, ia bekerja di sebuah koperasi sambil mengontrak sendiri di daerah yang asing baginya. Bukan perjalanan yang mudah selama lima bulan bekerja, gajinya tidak pernah dibayarkan. Di tengah tekanan hidup yang semakin berat itulah gangguan-gangguan gaib mulai menghantuinya di tempat kerja, mendorongnya untuk mencari seseorang yang bisa membantu menyelesaikan masalah yang tidak kasat mata itu.
Seorang teman mengantar Mbak Lisa menemui Mas Rully, seorang pria yang dikenal memiliki kemampuan di bidang spiritual. Pertemuan itu awalnya murni untuk keperluan pengobatan — tidak ada rencana lain, tidak ada pikiran lebih jauh. Namun dalam perjalanan waktu, kedekatan itu tumbuh menjadi perasaan yang lebih dalam. Mas Rully, yang ternyata sudah beristri selama delapan belas tahun dengan seorang perempuan yang ia sebut Mbak Em, mengajukan lamaran kepada Mbak Lisa lewat pesan singkat, tanpa sepengetahuan istri pertamanya.
Keputusan untuk menerima lamaran itu bukan sesuatu yang datang dengan mudah. Mbak Lisa muda yang sebatang kara, tanpa pijakan di tanah orang, akhirnya memilih untuk menerima. Ia menjadi istri kedua Mas Rully. Yang mengejutkan, Mbak Em istri pertama bukan perempuan yang menaruh dendam. Ia menerima kehadiran Mbak Lisa dengan lapang dada, bahkan mengajak Mbak Lisa pergi ke warung bersama, hidup serumah tanpa gesekan yang berarti. Kerukunan itu bahkan membuat orang-orang sekitar iri dan heran.
Namun keheran dan kekaguman tak semua lahir dari niat yang tulus. Sebagian orang di lingkungan kontrakan memilih jalan yang berbeda — mereka meremehkan. Mbak Lisa, yang datang dari Sumatera tanpa keluarga dan tanpa harta, dianggap tidak punya tempat di sana. Omongan pedas tentang pekerjaannya, tentang statusnya sebagai istri kedua, bahkan tentang asal-usulnya, terdengar sampai ke telinganya. Dan luka itu mengendap jauh di dalam dada, berubah menjadi ambisi yang membara untuk membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Mbak Lisa kemudian mulai berjualan secara daring lewat TikTok, menjual keris dan minyak-minyak pusaka milik Mas Rully. Hari pertama dan kedua masih sepi, nyaris tidak ada yang masuk. Namun di sela-sela live tersebut, seseorang yang mengaku sebagai guru besar dari Jawa Timur tiba-tiba muncul dan menantangnya secara terbuka — menyebut bahwa dagangan dan ilmu yang Mbak Lisa pamerkan adalah musyrik, bahkan mengklaim Mbak Lisa perlu dirukiah. Tantangan itu menyulut api dalam diri Mbak Lisa. Ia tidak mau terlihat lemah, tidak mau mundur.
Dari sinilah keinginan untuk memasang susuk itu bermula. Mbak Lisa meminta Mas Rully memasangkan sesuatu padanya — sebuah susuk yang membuatnya kebal dan berwibawa, agar tidak ada lagi yang bisa meremehkan atau menantangnya di depan umum. Mas Rully awalnya menolak, bahkan cenderung cuek. Namun Mbak Lisa tak berhenti merengek selama hampir seminggu hingga akhirnya sang suami luluh dan menyetujui permintaan itu, dengan satu syarat: Mbak Lisa harus menjalani ritual terlebih dahulu dan tidak boleh menyerah di tengah jalan.
Ritual itu dimulai dengan mandi kembang tujuh rupa dan disusul dengan tiga hari tiga malam dikurung di kamar gelap tanpa lampu, tanpa makan, dan tanpa minum — sebuah praktik yang dikenal dalam tradisi Jawa sebagai mati geni. Kamar itu dikunci dari luar. Apapun yang terjadi di dalam, Mas Rully tidak akan membukakan pintu. Mbak Lisa yang kelelahan, lapar, dan haus harus bertahan sendirian dalam gelap total itu.
Hari pertama terasa biasa saja meski lapar dan haus mulai terasa. Namun memasuki hari kedua, kamar gelap itu mulai dipenuhi penampakan. Sosok pertama yang muncul berwujud perempuan cantik bercahaya yang rupanya menyerupai diri Mbak Lisa sendiri — berpakaian kebaya seperti perempuan Jawa, berdiri diam tanpa bersuara. Mbak Lisa yang ketakutan memukul-mukul pintu meminta Mas Rully membukakan, namun tidak ada sahutan. Tak lama kemudian muncul sosok lain — berbadan manusia tetapi tanpa kepala, tetap mengenakan pakaian batik dan sarung ala Jawa.
Teror dalam kamar itu belum berhenti. Seekor ular besar muncul mendesis dan mendekati wajah Mbak Lisa, nyaris menyentuh matanya. Mbak Lisa menggedor-gedor pintu sambil menangis, memohon untuk dibebaskan. Tetap tidak ada jawaban. Ia terpaksa bertahan, duduk gemetar dalam gelap, hingga akhirnya kelelahan membuatnya terlelap. Saat pintu akhirnya dibuka oleh Mas Rully setelah tiga hari berlalu, Mbak Lisa keluar dalam kondisi sangat lemah, hampir tidak mampu berjalan, matanya silau bukan kepalang saat pertama kali melihat cahaya matahari.
Setelah dimandikan kembali dengan kembang tujuh rupa dan diberi air kelapa tujuh tegukan, tibalah momen yang selama ini ditunggu-tunggu dan ditakuti sekaligus. Mas Rully memasangkan susuk ke mata kanan Mbak Lisa. Susuk itu disebut susuk jala tunda — terbuat dari intan — dan dipasangkan langsung ke bola mata. Rasanya seperti pasir panas terbakar api yang menembus ke dalam. Mbak Lisa menjerit kesakitan, namun Mas Rully memintanya bertahan. Beberapa menit kemudian rasa perih itu mereda, dan Mbak Lisa merasa seolah dunia di sekelilingnya berubah — terang, bening, dan berbeda dari sebelumnya.
Dampak susuk itu terasa nyata dan cepat. Malam itu juga Mbak Lisa kembali live di TikTok, dan guru besar yang dulu menantangnya datang lagi. Kali ini tantangannya lebih keras — ia meminta Mbak Lisa membuktikan ilmu kebalnya. Dengan silet baru yang belum pernah terpakai, Mbak Lisa menggoreskannya ke tangan, ke lidah, bahkan ke area matanya sendiri. Tidak ada luka. Tidak ada darah. Tidak ada air mata. Orang yang tadi menantangnya di depan ribuan penonton langsung mengirim pesan pribadi memohon maaf. Sejak saat itu, nama Mbak Lisa mulai dikenal di TikTok.
Dalam waktu seminggu berjualan lewat live TikTok, Mbak Lisa berhasil meraup tiga juta rupiah. Pesanan datang, pembeli percaya, dan penonton bertambah. Beberapa bulan kemudian ia sudah mampu membeli motor dari hasil sendiri — sesuatu yang membungkam orang-orang yang selama ini meremehkan. Tetangga yang dulu berani berkata kasar kini menunduk saat Mbak Lisa melintas. Bahkan saat seseorang menyindir Mbak Em soal tidak punya anak, Mbak Lisa-lah yang maju membela istri pertama suaminya itu tanpa ragu, dan orang itu pun langsung meminta maaf ketakutan.
Namun sisi terang itu tidak datang sendirian. Efek negatif dari susuk mulai muncul perlahan. Setiap malam Jumat, terutama saat malam Jumat Kliwon, Mbak Lisa merasakan gatal yang tak tertahankan dari ujung mata hingga telapak kaki — gatal yang berubah menjadi bentol-bentol besar di sekujur tubuh dan wajah. Air kelapa, api pendupaan, semua yang disarankan Mas Rully untuk meredakannya tidak ada yang benar-benar manjur. Ritual harus terus dijalankan setiap malam Jumat agar efek itu bisa diredam, namun begitu ritual terlewat, gatalnya datang berlipat ganda.
Lebih dari itu, emosinya berubah drastis. Hal-hal kecil yang dulu diabaikan kini menjadi pemicu amarah besar. Rasa gelisah membayangi setiap hari, bahkan saat tidur pun Mbak Lisa tidak bisa benar-benar tenang. Ia sendiri mengakui bahwa sebelum beradu argumen dan mencari masalah dengan orang lain, ada rasa tidak puas yang sulit dijelaskan. Mbak Em dan orang-orang terdekat mulai memperhatikan perubahan itu, menyebut bahwa Mbak Lisa tidak lagi seperti dirinya yang dulu.
Setelah enam bulan menjalani kehidupan yang campur aduk antara keberhasilan dan gangguan, Mbak Lisa meminta susuk itu dilepas. Ia sudah merasa tidak nyaman. Keberhasilan yang datang terasa bukan lagi menjadi tujuan utama — yang ia inginkan adalah kembali tenang. Mas Rully pun mengantar Mbak Lisa menemui gurunya, seorang sesepuh perempuan yang dipanggil Mama Yai, berharap susuk di mata itu bisa dicabut.
Jawaban Mama Yai menghentikan napas Mbak Lisa. Susuk itu tidak bisa dilepas. Tidak oleh siapa pun, bahkan oleh Mas Rully sendiri yang memasangnya. Mbak Lisa menangis di hadapan Mama Yai sambil memohon, namun yang bisa dilakukan hanyalah memasang susuk tambahan sebagai pereda — bukan untuk mencabut, melainkan hanya untuk menenangkan efek emosional yang semakin tidak terkendali. Tiga kiai sudah didatangi sebelumnya, semuanya menyatakan hal yang sama: tidak ada yang bisa melepaskan apa yang sudah tertancap di sana.
Susuk peredam itu terbuat dari bahan serupa — intan putih — dan dipasangkan di tempat berbeda. Setelah ritual itu selesai, Mbak Lisa merasakan hatinya perlahan lebih dingin. Rasa ingin marah yang membara mulai mereda, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia bisa memandang orang lain tanpa langsung merasa bahwa semua orang salah dan hanya dirinya yang benar. Ia bahkan meminta maaf kepada Mbak Em atas sikap dan ego yang selama berbulan-bulan telah menyakiti orang-orang di sekitarnya.
Kini Mbak Lisa sudah tidak lagi berjualan di TikTok seperti dulu. Ia memilih live biasa — sekadar menyapa dan mengobrol — karena merasa takut menyalahgunakan kemampuan yang masih bersemayam di balik matanya. Kehidupannya berjalan lebih normal, hubungannya dengan tetangga membaik, dan suasana rumah tangga kembali lebih damai. Namun satu hal yang tidak bisa ia buang adalah rasa sesal yang terus menemaninya setiap hari — menyesal karena dulu memilih jalan itu tanpa berpikir panjang.
Yang paling menghantui Mbak Lisa bukan hanya efek yang sudah ia rasakan, melainkan sesuatu yang ia dengar dari orang-orang setelah susuk itu dipasang: bahwa mereka yang memakai susuk dan belum sempat melepasnya sebelum ajal tiba, konon akan mengalami proses kematian yang sangat berat dan menyiksa. Mbak Lisa tahu ia suatu saat pasti akan meninggal, seperti semua manusia. Dan kabar itulah yang kini membuatnya sering berdebar, bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah masih ada jalan yang belum ia ketahui.
Kisah Mbak Lisa meninggalkan satu pelajaran yang tidak ringan. Keinginan untuk dihargai, untuk tidak dipandang rendah, adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Namun ketika jalan pintas dipilih demi memenuhi keinginan itu, yang didapat bukan hanya apa yang dicari — melainkan juga hal-hal lain yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Susuk jala tunda memberi Mbak Lisa harga diri, keberhasilan, dan rasa disegani. Namun ia juga meninggalkan gatal yang tak bisa reda, amarah yang sulit dikendalikan, dan sebuah benda di dalam matanya yang tidak akan pernah bisa diambil kembali selama ia masih hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
