Mas Nasim menyimpan kisah ini sejak 2017—kisah tentang dua perempuan muda yang awalnya hanya ingin naik level karier, tapi akhirnya terseret terlalu jauh sampai nyaris kehilangan semuanya. Mereka bukan orang sembarangan: dua-duanya pernah ikut ajang putri pariwisata tingkat kabupaten. Wajah cantik, pembawaan pede, dan cepat akrab dengan orang-orang baru.
Dari ajang itu, mereka sempat dikontrak dinas pariwisata untuk promosi daerah dan UMKM. Setelah kontrak selesai, mereka memilih jalan freelance: ikut event, pemotretan, lalu berujung masuk dunia SPG—bukan SPG biasa, tapi SPG otomotif kelas nasional yang keliling dari kota ke kota. Hidup mereka berubah: lingkaran pergaulan makin tinggi, gaya hidup ikut naik.
Di tengah kesibukan itu, salah satu dari mereka—Erna (nama samaran)—punya ambisi besar. Ia merasa kalau mereka hanya mengandalkan “cantik natural”, kariernya mentok di level itu-itu saja. Ia mengusulkan pengasihan/susuk agar aura makin kuat dan relasi makin luas. Temannya, Wati (nama samaran), tertarik—dan mereka mendatangi seorang paranormal untuk pasang pengasihan level “biasa”.
Efeknya cepat. Mereka makin mudah kenal pejabat, konglomerat, dan pengusaha. Dari situ hidup mereka makin liar: ada pengusaha batu bara yang menawarkan mereka “dibawa” ke mana-mana, dihujani fasilitas, lalu terjadi transaksi yang mengubah segalanya—kegadisan mereka ditukar uang besar, bahkan sampai 1 miliar rupiah per orang disertai fasilitas lain. Yang membuat Mas Nasim muak saat mendengar ceritanya: mereka sampai “tukar pasangan” karena kamar hotel yang dipakai adalah connection room—seakan semuanya sudah disusun rapi untuk satu malam yang menghancurkan batas.
Setelah itu, mereka hidup “head-on”. Mereka tidak lagi mengejar karier sebagai seniman atau artis—mereka justru nyaman jadi simpanan orang-orang besar. Namun jiwa ambisi itu tidak hilang sepenuhnya. Ketika muncul tawaran masuk dunia artis lewat pemandu bakat, Erna dan Wati merasa masih kurang “wow”. Mereka mencari pengasihan yang lebih tinggi—yang benar-benar bisa bikin mereka jadi magnet tingkat ekstrem.
Mereka akhirnya bertemu paranormal lain di Jawa Timur yang menawarkan “susuk tertinggi”: susuk kantil—level paling atas dalam dunia persusukan, katanya melebihi susuk gabah, emas, intan, sampai berlian. Peringatan sudah diberikan: khasiatnya besar, tapi risikonya juga besar. Wati yang paling ambisius tetap maju.
Ritual dimulai dari mandi di sumur keramat, lalu keduanya dibawa ke ruangan khusus. Wati dipasang susuk kantil—wujudnya “bunga kantil” yang dimasukkan lewat titik di wajah. Aneh tapi “berhasil.” Giliran Erna dipasang, susuknya tidak bisa masuk berkali-kali, bahkan setelah diulang dari nol. Paranormal menyimpulkan: Erna tidak berjodoh dengan kantil. Erna kecewa, tapi ia tetap setia mendampingi Wati—bahkan Wati menyuruh Erna jadi “manajer” agar mereka tetap bersama.
Wati makin menjadi-jadi. Relasinya makin luas, fasilitas makin wah, dan hidupnya semakin tenggelam dalam dunia gelap yang penuh nafsu. Sampai satu malam—setelah bertahun-tahun—Wati mendadak histeris di kamar, menunjuk satu sudut ruangan sambil ketakutan, berjam-jam tidak berhenti. Dokter dipanggil, hasilnya normal. Tapi Wati tetap mengerang, merintih, seperti melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Erna panik dan akhirnya membawa Wati pulang kampung. Tiga hari di rumah, kondisi Wati tetap parah. Erna lalu meminta bantuan Mas Nasim—karena ia kenal Mas Nasim dan tahu ia punya relasi “orang tua” yang paham urusan gaib, yaitu Wak Mijan (nama samaran) yang tinggal di Cilacap. Mas Nasim sempat ragu, tapi akhirnya setuju membantu semampunya.
Begitu Mas Nasim menceritakan kronologi ke Wak Mijan, reaksinya tidak seperti orang ragu-ragu. Wak Mijan langsung menyuruh Wati dibawa saat itu juga. Sesampainya di rumah Wak Mijan, sang wak seperti sudah “siap”: kamar dipersiapkan, dupa dan wewangian disiapkan, seolah ia sudah menangkap bahwa waktunya mepet.
Wati dibaringkan dan Wak Mijan mulai ritual pembersihan. Wati makin menggila, menunjuk satu titik, persis seperti yang diceritakan Erna saat mereka masih di Jakarta. Wak Mijan lalu memanggil Mas Nasim dan Erna ke ruangan lain dan berkata tegas: ini darurat, harus bergerak cepat. Salah satu syaratnya: Mas Nasim harus pergi ke gua tertentu di Cilacap dan mendapatkan sepasang burung perkutut ghaib sebagai “alat” untuk membantu memotong serangan.
Menjelang magrib, Mas Nasim berangkat sendirian ke gua. Ia membawa kotak kayu dan perlengkapan ritual dari Wak Mijan. Malam itu, setelah membaca mantra dan menyalakan dupa, Mas Nasim melihat dua ekor ular kecil hitam mirip kobra muncul di depannya. Ular itu turun, lalu berubah menjadi burung perkutut sepasang—jantan dan betina—dan tanpa disuruh, dua burung itu masuk sendiri ke dalam kotak kayu. Mas Nasim gemetar tapi ia ingat pesan Wak Mijan: begitu dapat, tutup dan pulang cepat.
Burung itu dibawa ke rumah Wak Mijan. Wak Mijan sudah menyiapkan kandang dan menggantungnya di teras. Burung jantan itu kemudian diberi nama Kliwon, karena prosesnya terjadi malam Jumat Kliwon. Namun Wak Mijan berkata masih ada syarat utama lain: penawar susuk kantil harus didapat—dan penawar itu hanya bisa keluar dari orang yang memasang susuk atau keluarganya. Erna pun ditugaskan pergi mencari penawar ke paranormal tempat Wati memasang susuk.
Wak Mijan memberi batas waktu keras: sebelum jam 12 malam besok, Erna harus kembali. Erna berangkat ditemani paman Wati. Di tengah perjalanan, Erna menelpon Mas Nasim: paranormal yang memasang susuk sudah meninggal, tapi anaknya ada—dan penawar ada, namun tebusannya mengerikan: si anak paranormal meminta “tukar badan” (hubungan) sebagai syarat menyerahkan penawar. Mas Nasim melarang, tapi Erna bersikukuh: apa pun akan ia lakukan agar Wati sembuh.
Di rumah Wak Mijan, suasana makin mencekam. Burung perkutut betina menunjukkan reaksi aneh—bunyinya bukan normal perkutut, tapi seperti suara ayam. Wak Mijan berkata: makhluk yang selama ini “mengincar” Wati sudah dekat, ingin menjemput. Mereka semua berharap Erna pulang tepat waktu.
Menjelang jam 12, burung perkutut betina mendadak jatuh dan mati. Di saat yang sama, Wati yang sebelumnya meronta-ronta mendadak diam. Tubuhnya dingin. Orang tua Wati menangis, dan semuanya seperti sudah paham: Wati keburu “dijemput” sebelum penawar sempat sampai.
Tak lama, mobil Erna akhirnya datang. Erna turun sambil menangis histeris, membawa benda yang ia yakini penawar—logam kecil yang disebutnya “penawar susuk”. Ia meratap, merasa sudah berkorban banyak, merasa sudah berhasil, tapi tetap terlambat. Wak Mijan hanya berkata: takdir sudah berjalan. Susuk kantil itu punya kontrak, dan masa kontraknya sudah habis—Wati harus membayar.
Wati dibawa pulang ke rumahnya malam itu juga. Keluarga memutuskan menutup rapat penyebab kematiannya, agar tidak jadi gunjingan kampung. Tapi kabar tetap bocor: orang-orang mengaitkan kematian itu dengan gaya hidup bebas, jadi simpanan bos, dan pergaulan yang terlalu jauh. Yang tidak mereka tahu: ada perjanjian gaib yang memang sudah menunggu akhir.
Setelah pemakaman, Mas Nasim menegur Erna: bermain dengan persekutuan gaib itu konsekuensinya bukan cuma ke pelaku utama, tapi bisa merembet ke orang terdekat—dan Erna sudah merasakannya sendiri. Di akhir kisah, Mas Nasim juga menjelaskan soal burung perkutut “ghaib”: menurutnya burung itu bukan “tameng yang mati menggantikan santet,” melainkan lebih seperti alarm—pendeteksi energi negatif. Burungnya bereaksi aneh ketika ada gangguan mendekat.
Mas Nasim menutup cerita dengan pesan yang ia ulang berkali-kali: jangan pernah membuat perjanjian dengan bangsa gaib—setinggi apa pun level susuknya, semanis apa pun hasilnya. Karena ketika kontraknya selesai, yang ditagih bukan lagi uang atau fasilitas… melainkan hidup itu sendiri, dan sering kali orang-orang di sekitar ikut terseret.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
