Mas Edhi mengalami fase paling kalut di tahun 2007, ketika ia bekerja di bidang perhotelan dan merasa gajinya selalu kurang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia ingin membahagiakan istri dan anak, ingin bisa “seperti orang lain” yang kelihatannya lebih leluasa, tapi penghasilan rutinnya tidak pernah benar-benar mengejar.
Saat itulah ia mulai tergoda kartu kredit. Awalnya satu, lalu muncul rasa “aman palsu” karena limit terasa seperti pegangan tambahan. Mas Edhi memakai kartu itu untuk kebutuhan konsumtif—belanja, kebutuhan harian, hal-hal yang membuat hidup terasa sedikit lebih lega… sampai akhirnya bulan demi bulan ia mulai kewalahan membayar tagihan.
Masalahnya, bukannya berhenti, Mas Edhi justru mengambil kartu kredit lagi untuk menutup kartu yang pertama. Lalu berlanjut: kartu kedua menutup yang pertama, kartu ketiga menutup yang kedua, dan seterusnya—sebuah lingkaran yang terlihat seperti solusi, padahal hanya memindahkan beban.
Sampai akhirnya jumlahnya menjadi lima kartu kredit. Total tagihan menumpuk sekitar Rp35 juta, sedangkan gaji Mas Edhi bahkan tidak sampai separuh dari itu. Di rumah, pertengkaran mulai sering terjadi karena gaji terpotong cicilan, sementara makan, sekolah anak, dan biaya hidup tetap jalan.
Kondisinya makin berantakan: Mas Edhi sering begadang, konsentrasi kerja kacau, pikiran tidak karuan. Ia juga mulai meminjam sana-sini—ke teman, saudara—karena tagihan bank datang terus tanpa jeda.
Di tengah kondisi seperti itu, Mas Edhi bertemu teman lama bernama Udin. Melihat Mas Edhi stres dan kurusan, Udin menawari “jalan” yang katanya cepat: mencari uang instan lewat jalur gaib, dan dijamin “aman tanpa tumbal”. Kalimat itu menyulut harapan Mas Edhi yang sedang benar-benar putus arah.
Mas Edhi akhirnya berangkat mengikuti Udin ke daerah timur, menemui seorang perempuan paruh baya yang mereka panggil “Emak”—kuncen yang konon bisa membantu. Rumahnya sederhana, tapi auranya membuat Mas Edhi deg-degan. Di sana, Emak menanyakan data kelahiran, lalu menyebut Mas Edhi “bagus” karena neptu Pahing dan disebut sebagai “tulang wangi”.
Mas Edhi diberi arahan ritual berulang: tujuh malam Jumat berturut-turut, tidak boleh putus. Ia menjalani itu diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya—setiap berangkat ia bilang “main ke teman”. Mas Edhi merasa sudah terlanjur basah dan hanya ingin satu hal: uang untuk menutup semua tagihan.
Ritual-ritual awal membuatnya mulai melihat hal-hal yang sebelumnya hanya ia dengar dari cerita orang. Pada salah satu malam, ia mengaku melihat sosok menyeramkan seperti kulit kayu dan tengkorak yang mendekat di ruangan gelap, membuatnya hampir berhenti membaca doa karena kaget dan takut.
Di malam berikutnya, pengalaman berubah: ia melihat sosok perempuan dengan wangi yang sangat kuat, berbusana seperti gaya Jawa, dan sosok itu menyebut dirinya Dewi Lanjar. Mas Edhi memohon pertolongan agar masalahnya selesai, namun pertemuan itu tidak langsung menghasilkan apa-apa selain rasa campur aduk—antara takut, takjub, dan harap yang mengembang.
Anehnya, setelah momen itu, ritual berikutnya justru terasa “kosong”. Malam keempat sampai keenam tidak ada penampakan berarti—Mas Edhi hanya mengantuk dan menahan waktu. Tapi ia tetap memaksa diri karena yang dijanjikan adalah puncak di malam ketujuh.
Saat malam ketujuh tiba, Emak justru terlihat marah. Ia membuka sebuah peti besar di ruangan ritual—yang konon disebut tempat “uangnya”—namun isinya bukan harta, melainkan potongan koran. Ada juga benda-benda lain yang diperiksa, termasuk buah delima besar yang dibelah untuk melihat “batu” di dalamnya, tetapi hasilnya dianggap tidak sesuai harapan.
Mas Edhi lalu diarahkan ke pantai, ke ujung jembatan bambu, menunggu “tanda”. Ia mengaku ada batu yang dilempar ke sampingnya dan ia spontan memasukkannya ke saku. Sepulangnya, terjadi pengalaman yang membuat mentalnya jungkir balik: ia merasa seperti melayang, menempel ke plafon, bahkan seperti “terbawa” keluar rumah sebelum akhirnya tersentak kembali.
Setelah kejadian itu, Emak menyatakan prosesnya gagal dan mengajak upaya terakhir di lokasi lain—semacam gua kecil di wilayah perbatasan. Di sana, Mas Edhi bertemu sosok lelaki tua berpenampilan lurik-blangkon yang berbicara lembut dan menyuruhnya pulang saja, menekankan bahwa jalan yang ia tempuh tidak baik. Mas Edhi pulang hanya membawa batu-batu dan sepasang benda kecil mirip keris, bukan uang yang ia impikan.
Pada akhirnya, utangnya tetap harus ditanggung dengan cara nyata. Mas Edhi mengaku pelan-pelan melunasi lewat pekerjaan tambahan dan upaya realistis, meski prosesnya hampir setahun dan tetap dihantui penagihan serta tekanan psikologis.
Dari pengalaman itu, Mas Edhi menyimpulkan satu hal yang paling ia tekankan: “uang gaib” bukan solusi. Kalau pun ada yang mengaku berhasil, selalu ada harga yang jauh lebih mahal daripada angka tagihan. Baginya, pilihan paling aman tetap kerja nyata, menata ulang keuangan, dan menghadapi utang dengan sabar—bukan membuka pintu yang kemudian sulit ditutup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
