Teh Upi berangkat ke Jakarta tahun 2024 dengan niat sederhana: merantau, cari kerja, dan menyusun ulang hidup dari nol. Keluarganya menyarankan satu hal agar ia tidak tersesat di ibu kota—tinggal saja sementara di tempat Teh Cici, kerabat yang usianya tak beda jauh sehingga lebih sering dipanggil “teteh” ketimbang “tante”.
Dugaan Teh Upi, tempat tinggal itu apartemen biasa. Tapi begitu sampai, ia seperti ditampar kenyataan: penthouse megah, fasilitas lengkap, bersih, nyaman, dan terasa “terlalu mewah” untuk seseorang yang—anehnya—tidak pernah terlihat berangkat kerja. Di hari pertama, semuanya masih hangat: nostalgia masa kecil, ngobrol panjang, dan keramahan Teh Cici yang membuat Teh Upi betah.
Keanehan pertama muncul justru dari hal sepele. Saat hendak ke mal, bedak Teh Upi habis. Ia meminjam bedak milik Teh Cici, tapi Teh Cici langsung menegur keras: jangan pakai bedak itu, jangan pegang barang-barangnya—tas, sepatu, apa pun—Teh Upi hanya boleh memakai barang yang “dikasih”. Teguran itu terasa bukan sekadar pelit, melainkan seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
Hari berikutnya, rasa penasaran Teh Upi meledak. Ia bertanya pelan, “Teteh kerja apa sih kok kaya banget?” Teh Cici hanya tertawa dan menjawab enteng, kurang lebih: tak kerja pun uang tetap ada. Jawaban yang terdengar bercanda, tapi menancap sebagai tanda tanya besar.
Malamnya Teh Upi tidur cepat karena capek jalan-jalan. Namun sekitar jam tiga pagi ia terbangun—AC terasa dingin menusuk, suasana hening tidak wajar. Saat ia membuka pintu kamar hendak mengambil minum, ia melihat Teh Cici di ruang TV: duduk di sofa, di meja ada piring tanah liat, lilin, dan bunga melati. Tatapan Teh Cici kosong, membuat Teh Upi merinding.
Teh Upi menyalakan lampu… dan seketika ruangan itu kosong. Tak ada siapa pun. Tidak ada Teh Cici. Tidak ada orang. Yang tersisa hanya gelap yang terasa “hidup”. Teh Upi panik, lari tanpa sandal menuruni koridor, meminta petugas bawah menghubungi Teh Cici—namun telepon tak pernah diangkat.
Karena ketakutan, Teh Upi menghubungi Teh Dewi—teman Teh Cici yang tinggal tak jauh—dan menginap di sana. Paginya ia kembali ke penthouse, dan Teh Cici baru muncul sekitar jam sembilan pagi dengan pakaian yang berbeda dari biasanya, seolah baru pulang dari suatu tempat. Ketika Teh Upi bertanya, Teh Cici menjawab santai: menunggu teman di rumah sakit. Teh Upi tidak berani mengejar pertanyaan lebih jauh.
Hari-hari berikutnya, pola Teh Cici makin jelas: pergi sekitar jam sebelas malam, pulang pagi. Teh Upi memilih diam, fokus interview kerja, dan sebisa mungkin tidak keluar kamar malam hari. Tapi rasa tidak aman itu seperti menumpuk di dada.
Sampai pada satu malam Jumat, Teh Upi lupa membawa minum ke kamar. Ia menahan haus, menahan takut, namun akhirnya membuka pintu. Di situlah ia melihat sosok besar bermata merah menatap tepat ke arahnya—bukan jelas bentuknya, tapi “besarnya” seperti mengisi ruang. Teh Upi membeku sesaat, lalu lari ke pintu depan sambil gemetar dan ngos-ngosan.
Di momen itu, pintu tetangga depan—Teh Rina—sedikit terbuka. Teh Upi meminta tolong dan diizinkan masuk. Di rumah Teh Rina, untuk pertama kalinya rahasia Teh Cici dibuka: Teh Cici bekerja di dunia hiburan malam (LC/“ani-ani”), memakai susuk emas Kinasih, dan makhluk yang Teh Upi lihat diduga “peliharaan” atau pengawal dari ritual itu. Teh Rina menyarankan Teh Upi segera ngekos setelah dapat kerja—jangan bertahan di tempat yang membuatnya diteror.
Teh Upi menuruti. Ia akhirnya diterima kerja, pindah kos, dan hanya sesekali bertukar kabar dengan Teh Rina/Teh Dewi. Teh Upi mengira semuanya selesai—ternyata babak paling gelap baru dimulai.
Sekitar dua bulan kemudian, Teh Rina menelpon berkali-kali: Teh Cici sakit parah dan aneh. Lukanya seperti koreng-koreng menyebar, basah, bau, tak mempan obat dokter. Teh Cici mengurung diri di kamar, jarang makan, nyaris tak bicara—seperti “mayat hidup”. Teh Rina dan Teh Dewi sudah mencari orang yang memasang susuk, tapi kabarnya dukun itu sudah meninggal, tak ada yang bisa mencabut.
Teh Upi diminta menghubungi orang tua Teh Cici. Ketika orang tua datang ke Jakarta dan melihat kondisi anaknya, mereka nyaris pingsan. Yang lebih menyakitkan: Teh Cici tetap diam, tak menyambut, tak merespons, seolah sudah jauh dari dirinya sendiri.
Mereka memanggil seorang kiai. Proses ruqyah dilakukan berulang: air doa disiramkan, daun kelor dipakai, bacaan ayat dilantunkan. Namun setiap kali air menyentuh tubuh Teh Cici, ia menjerit “panas… panas…” lalu meronta keras, seperti ingin memanjat tirai dan dinding. Di beberapa momen, keluar suara lain yang bukan suara Teh Cici—mengancam dan menolak “dikeluarkan”.
Kiai akhirnya menyampaikan sesuatu yang paling berat didengar keluarga: susuknya banyak, ikatannya kuat, dan jalan keluarnya bukan sekadar “diobati”—keluarga diminta banyak berdoa, memperbanyak ngaji, dan bersiap mengikhlaskan jika memang waktunya tiba. Orang tua Teh Cici tidak sanggup menerima kalimat itu, tapi kondisi Teh Cici justru makin merosot dari hari ke hari.
Malam-malam jadi siksaan. Teh Cici kadang mengerang “dingin” meski AC normal, lalu berganti “panas” hingga kipas dan pendingin ruangan pun tidak membantu. Kadang ia menangis memanggil ibunya, lalu kembali diam seperti kosong. Pada satu subuh, keadaan memburuk—kiai datang lagi, proses dilakukan lagi, lalu keluarganya seperti dipaksa menghadapi kenyataan yang tak mereka mau sebut.
Teh Cici akhirnya meninggal. Jenazah segera dibawa pulang ke Jawa dan dimakamkan di hari yang sama. Di pemakaman, keluarga dibuat makin terpukul oleh hal-hal yang terasa janggal—termasuk momen ketika tanah makam seolah “menutup sendiri” lebih cepat dari biasanya.
Setelah semuanya selesai, keluarga mengambil keputusan tegas: barang-barang Teh Cici dibakar, aset seperti mobil dan apartemen dijual, lalu uangnya disedekahkan. Mereka tidak mau ada satu pun yang “tersisa” sebagai warisan dari jalur yang mereka yakini tidak benar.
Kisah Teh Cici meninggalkan pesan yang pahit tapi jelas: kemewahan yang datang tanpa kerja keras sering menyimpan biaya yang tidak terlihat. Dan ketika seseorang menggantungkan hidup pada susuk, pengasihan, atau perjanjian gelap, “bayaran” itu bisa datang dalam bentuk yang paling kejam—tubuh yang rusak pelan-pelan, keluarga yang hancur, dan penyesalan yang terlambat.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
