Pada 2010, Mas Dewo bekerja di sebuah koperasi simpan pinjam di Yogyakarta. Saat itu usianya baru sekitar 23 tahun dan telah mempunyai seorang anak berusia tiga tahun. Bersama manajer serta beberapa rekan kerja, ia terlibat dalam permainan pencairan pinjaman menggunakan jaminan yang tidak sesuai aturan.
Kecurangan tersebut memungkinkan fotokopi sertifikat maupun dokumen kendaraan digunakan seolah-olah sebagai jaminan asli. Semakin lama, uang perusahaan yang keluar semakin besar tanpa didukung berkas yang sah. Masalah itu akhirnya ditemukan oleh tim kantor pusat dari Jakarta, dengan total kerugian yang disebut mencapai sekitar Rp200 juta.
Dua orang rekan Mas Dewo lebih dahulu ditangkap, sedangkan dirinya masih mempunyai waktu untuk mencari jalan keluar. Ia mengakui uang tersebut banyak digunakan untuk berfoya-foya. Karena takut masuk penjara, Mas Dewo akhirnya menceritakan semuanya kepada istrinya dan mengaku harus mengembalikan uang perusahaan.
Sang istri berusaha menyelamatkan suaminya dengan menawarkan sertifikat rumah serta tanah milik keluarganya. Keputusan itu memicu pertengkaran besar dengan orang tua dan mertua karena harta tersebut bukan milik Mas Dewo. Keluarga istrinya bahkan menyarankan agar mereka bercerai, tetapi sang istri menolak karena masih memikirkan anak mereka yang kecil.
Di tengah tekanan tersebut, Mas Dewo melihat iklan mengenai pencarian uang instan di sebuah surat kabar. Pada masa itu, iklan pesugihan dan penggandaan uang masih sering ditemukan di koran maupun majalah. Ia sempat menghubungi seseorang yang menawarkan media berbentuk boneka, tetapi membatalkannya setelah merasa tidak yakin.
Orang tersebut marah dan mengirim pesan ancaman bahwa kehidupan Mas Dewo akan sengsara karena menolak tawarannya. Mas Dewo memilih memblokir nomor tersebut. Namun kebutuhan mendapatkan uang dalam waktu cepat membuatnya kembali mencari kenalan lain yang dianggap memahami jalan pesugihan.
Seorang teman bernama samaran Hudi kemudian memberikan nomor seseorang yang dipanggil Pak Joko. Ketika dihubungi, Pak Joko meminta Mas Dewo datang sendiri ke Cilacap tiga hari kemudian. Mas Dewo mengaku membutuhkan sekitar Rp200 juta, tetapi tidak menjelaskan bahwa uang itu akan digunakan untuk menutup kerugian perusahaan.
Pak Joko membawanya menuju kawasan Pantai Teluk Penyu. Sebelum ritual dimulai, Mas Dewo diminta membasuh tangan, kaki, dan wajah menggunakan air pantai. Ia kemudian duduk di belakang Pak Joko yang mulai mengucapkan mantra pemanggil sambil berpesan agar Mas Dewo tidak melarikan diri ketika melihat sesuatu.
Setelah diminta memejamkan mata, Mas Dewo kembali membukanya dan melihat sosok perempuan berpakaian putih. Tubuhnya sangat tinggi, sedangkan suaranya terdengar seperti perempuan yang telah lanjut usia. Melalui Pak Joko, sosok yang dipanggil Nyai itu menyampaikan sejumlah persyaratan agar permintaan uang dapat diproses.
Mas Dewo harus membawa air yang biasa digunakan untuk memasak dan mandi dari rumahnya sendiri. Ia juga diminta menyediakan sepasang ayam jantan dan betina berwarna putih dengan bagian hitam di sisi kiri serta kanan tubuhnya. Ayam tersebut disebut ayam selap, sedangkan syarat lainnya adalah dupa khusus bermerek Wijaya Kusuma.
Mencari ayam dengan ciri tersebut ternyata sangat sulit. Mas Dewo telah mendatangi penjual ayam dan memasang iklan di surat kabar, tetapi tidak menemukan hasil. Sekitar satu minggu kemudian, Pak Joko mengaku memperoleh sepasang ayam selap dengan harga Rp5 juta dan Mas Dewo langsung menyanggupi pembayarannya.
Mas Dewo kemudian berterus terang kepada istrinya bahwa ia akan menjalani pesugihan. Sang istri marah dan sempat mengancam mengakhiri hubungan mereka karena takut ritual itu meminta tumbal. Setelah beberapa hari berdebat, istrinya akhirnya mengizinkan dengan syarat ikut menyaksikan perjalanan tersebut.
Sebelum berangkat, Mas Dewo melaksanakan salat Jumat dan memohon petunjuk. Ia berdoa agar ritual itu dilancarkan apabila memang menjadi jalan yang harus ditempuhnya. Namun apabila jalan tersebut salah, ia berharap diberikan hambatan atau kegagalan agar tidak semakin jauh terjerumus.
Setibanya di Cilacap, Mas Dewo membeli ayam selap tersebut dan menginap di tempat yang telah disediakan. Ia kemudian pergi ke Yogyakarta untuk mencari dupa Wijaya Kusuma, tetapi hampir sepuluh toko di sekitar Malioboro tidak memilikinya. Ia sempat diarahkan mencarinya ke Solo, tetapi tertidur di stasiun hingga tertinggal kereta.
Pak Joko lalu mengabarkan bahwa ada dupa bekas persiapan ritual orang lain yang batal digunakan. Mas Dewo kembali ke Cilacap untuk mengambilnya. Namun ketika tiba di penginapan, ayam jantan yang sebelumnya sehat mendadak mati sehingga tubuhnya dibungkus menggunakan pakaian Mas Dewo dan dilarung ke laut.
Ritual tetap dilanjutkan menggunakan ayam betina yang tersisa. Di pantai, Mas Dewo duduk di atas kain mori dengan dupa, air dari rumah, serta sebuah apel yang dibelinya dalam perjalanan. Setelah sekitar satu setengah jam berdoa di tengah gerimis, ayam yang berada di hadapannya tiba-tiba menghilang dan sosok perempuan putih kembali menampakkan diri.
Pak Joko kemudian menyuruh Mas Dewo mengambil air laut dan membawanya menuju Gunung Srandil. Di sana ia harus mengelilingi gunung sebanyak tujuh kali. Setelah menyelesaikan seluruh putaran, air laut tersebut harus dicampurkan dengan air dari sumber yang berada di bagian belakang gunung.
Pada putaran pertama, Mas Dewo mendengar suara anak-anak, nyanyian, dan suara seperti orang sedang bersembahyang. Memasuki putaran berikutnya, muncul bau busuk sebelum terlihat sosok berukuran sangat besar di dekat gunung. Jalan yang dilalui semakin sulit karena berupa tanah, pepohonan, makam tua, serta jalur sempit yang memaksanya berjalan sambil menunduk.
Mas Dewo juga melihat sesuatu menyerupai ular putih melintang di jalan. Sosok besar itu terus muncul sampai putaran terakhir, bahkan digambarkan duduk dengan ukuran yang membuat Mas Dewo harus melewati bagian bawah kakinya. Setelah tujuh putaran selesai, ia mencampurkan air laut dengan air sumber, lalu membasuh muka dan tangannya sebanyak tiga kali.
Tahap terakhir dilakukan di sebuah gua kecil yang dikelilingi pohon pisang. Mas Dewo diminta duduk mengenakan kain mori, menyalakan dupa, dan membaca doa yang telah diajarkan. Ia diperingatkan agar menyelesaikan seluruh kebutuhan, termasuk buang air kecil, sebelum ritual dimulai karena meninggalkan tempat berarti menggagalkan proses.
Tidak lama setelah ditinggalkan, Mas Dewo mendadak ingin buang air kecil dan tidak mampu menahannya. Setelah keluar dari gua, rasa ingin buang air itu muncul kembali berkali-kali dalam jarak beberapa menit. Pak Joko menyatakan ritual telah gagal dan menduga sosok yang dipanggil bukan lagi menginginkan ayam, melainkan nyawa Mas Dewo sendiri.
Mas Dewo kemudian dibawa ke sebuah makam keramat untuk tidur, berdoa, dan meminta keselamatan. Keesokan paginya, Pak Joko mengatakan bahwa Mas Dewo mungkin kehilangan nyawa apabila malam sebelumnya tidak segera dipindahkan ke makam tersebut. Meski ketakutan, Mas Dewo masih sempat berpikir untuk mencari jalan lain karena ancaman penjara telah berada di depan mata.
Sekembalinya ke rumah, Mas Dewo akhirnya ditangkap polisi. Berkat bantuan istri dan keluarga, kewajiban pengembalian uang yang awalnya sekitar Rp200 juta dapat diselesaikan menjadi sekitar Rp75 juta. Ia tetap menjalani hukuman penjara selama dua bulan, tetapi setelah keluar memutuskan menghentikan seluruh rencana pesugihan.
Pak Joko meminta Mas Dewo kembali ke pantai, Gunung Srandil, gua, dan makam keramat untuk meminta maaf karena telah membatalkan perjanjian. Dalam proses tersebut, sosok perempuan putih kembali muncul dan meminta seekor ayam cemani. Karena tidak mampu memenuhi permintaan itu, Mas Dewo hanya menjalani rangkaian permohonan maaf agar dirinya serta keluarganya tidak diganggu.
Setelah kejadian tersebut, rumah tangga Mas Dewo dipenuhi pertengkaran hingga akhirnya berakhir dengan perceraian. Ia juga beberapa kali merintis usaha, mulai dari jual beli mobil hingga berdagang burung, tetapi setiap keberhasilan hanya bertahan sekitar satu atau dua tahun sebelum kembali runtuh. Pola naik dan jatuh itu disebut berulang hingga beberapa kali.
Kini Mas Dewo justru bersyukur karena ritualnya gagal. Ia merasa hambatan yang muncul merupakan jawaban atas doanya sebelum berangkat ke Cilacap. Dari pengalamannya, Mas Dewo berpesan bahwa ancaman utang maupun penjara sebaiknya dihadapi dengan bertanggung jawab, bukan melalui pesugihan. Menurutnya, perjanjian dengan makhluk ghaib tidak pernah benar-benar gratis karena pada akhirnya nyawa diri sendiri atau orang terdekat dapat menjadi harga yang diminta.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
