Teh Nayla adalah mahasiswi semester pertama jurusan pertanian yang hidupnya terasa biasa-biasa saja ia tinggal di dekat sawah, terbiasa membantu orang tua, dan baru saja memulai babak baru di bangku kuliah. Tidak ada yang istimewa dari hari itu ketika jadwal kuliahnya selesai lebih awal dan ayahnya mengirim pesan meminta tolong diambilkan makanan siang untuk para pekerja di ladang. Ia mengiyakan tanpa pikir panjang, mengambil rantang dari Bi Siti tetangganya, lalu berjalan menuju ladang lewat jalan yang sudah ia hafal sejak kecil melewati kuburan, kebun, jembatan kecil, dan sungai di sisi kanan. Perjalanan yang seharusnya hanya lima belas menit itu akhirnya mengubah segalanya.
Setiba di area persawahan, Teh Nayla berjalan sambil membalas chat di ponselnya. Ia sempat melihat patok batu yang sejak kecil selalu menjadi penanda batas daerah ladang — tanda bahwa ia sudah berada di jalan yang benar. Namun beberapa langkah kemudian, sinyal ponselnya tiba-tiba menghilang total di tengah hari yang terik. Tidak bisa mengirim pesan, tidak bisa menerima, padahal sebelumnya sinyal baik-baik saja. Keadaan sekitar yang semestinya ramai oleh suara sungai, tongeret, dan petani yang lalu-lalang, mendadak sunyi seperti dunia yang dikosongkan. Hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar, dan ia masih berusaha berpikir positif bahwa mungkin jalan berubah karena sudah lama ia tidak ke sana.
Namun semakin jauh ia melangkah, jalanan yang dikenalnya berubah menjadi sesuatu yang sama sekali asing. Kebun yang dulu langsung terhubung ke ladang kini berubah menjadi hutan lebat dengan pohon-pohon berusia ratusan tahun — batangnya sebesar tubuh orang dewasa, akarnya menjalar ke permukaan tanah hingga bisa dijadikan sandaran. Suhu yang tadinya panas terik tengah hari seketika berubah dingin tanpa angin. Teh Nayla berjalan hampir dua jam penuh hanya untuk menyadari bahwa ia terus berputar di tempat yang sama — patok batu yang tadi sudah ia lewati muncul lagi di depannya, seolah ada yang membuatnya tidak bisa keluar dari lingkaran tak kasat mata itu.
Kelelahan dan rasa lapar mulai menyerang. Teh Nayla duduk bersandar di salah satu pohon besar sambil menahan tangis, membuka ponselnya yang sudah tidak ada sinyalnya — sia-sia. Tidak ada satu pun orang yang lewat di tempat itu. Benar-benar hanya ia seorang. Di saat itulah, tiba-tiba ada tepukan halus di bahunya dari belakang. Seorang nenek bungkuk dengan kebaya putih lusuh berwarna kekuningan dan samping cokelat tua berdiri di hadapannya — membawa kantong plastik hitam di tangan kiri. Teh Nayla sendiri tidak tahu dari mana nenek itu datang karena sedetik sebelumnya tidak ada satu pun orang di tempat itu.
Nenek itu bertanya ke mana Teh Nayla hendak pergi, lalu dengan tenang memegang tangan kirinya. Dinginnya bukan dingin biasa — tembus sampai ke dalam tulang, terasa di sekujur lengan. Nenek itu tidak banyak berbicara, hanya berpesan satu hal yang sangat tegas: jangan menjawab siapapun yang menyapa, jangan makan, jangan minum, dan diam saja apapun yang terjadi. Teh Nayla yang tidak punya pilihan lain mengikut. Dan anehnya, begitu dibawa oleh nenek itu, jalan yang selama dua jam tidak bisa ia temukan tiba-tiba muncul, dan mereka memasuki suatu kawasan penduduk yang tidak pernah ia lihat sebelumnya meskipun ia sudah besar di daerah itu.
Kawasan itu dimasuki melalui gapura dari batu-batu tua yang penuh lumut — terlihat seperti peninggalan berabad-abad yang lalu. Begitu melewati gapura, Teh Nayla mendapati deretan rumah-rumah bergaya Jawa kuno seperti bangunan era Majapahit, lengkap dengan lampu Petromax di depan masing-masing pintu yang bentuknya serupa. Para penghuninya mengenakan pakaian zaman dulu — laki-laki bertelanjang dada hanya memakai kain pendek, perempuan berbaju kebaya lama dengan samping. Mereka semua menatap Teh Nayla dengan tatapan mengintimidasi yang membuat bulu kuduknya berdiri, namun tidak ada yang berbicara.
Di tengah jalan, seorang anak kecil perempuan berusia sekitar lima tahun menghampirinya. Rambutnya berwarna cokelat terang — berbeda dari warga lainnya — dan mengenakan dress lusuh putih bergaya Belanda lama. Wajahnya bukan wajah pribumi. Anak itu meraih tangan kanan Teh Nayla sambil bertanya ke mana ia akan pergi. Teh Nayla hampir saja menjawab secara refleks, namun pesan nenek terngiang di kepalanya. Ia memilih diam. Si anak kecil tetap berdiri di tempat itu, menatapnya, bahkan masih terlihat di posisi yang sama saat Teh Nayla menengok dari jendela gubuk nenek beberapa saat kemudian.
Di dalam gubuk kecil berdinding batu berlantai bambu milik nenek itu, Teh Nayla duduk menunggu. Nenek mengeluarkan isi kantong plastik hitamnya, menyalakan dupa sebanyak tiga batang dan memasukkannya ke dalam kendi, lalu mulai membaca sesuatu dalam bahasa yang tidak dikenal — bukan bahasa Indonesia, bukan Sunda, bukan Jawa. Suaranya naik turun seperti lantunan mantra yang asing dan membuat Teh Nayla semakin panik. Di depannya ada sesajen yang tampaknya sudah disiapkan. Setelah selesai membaca, nenek itu berdiri dan mengajak Teh Nayla berjalan lagi — kali ini menyuruhnya memejamkan mata dan menggandeng tangannya yang dingin bagai es.
Ketika Teh Nayla diizinkan membuka mata, pemandangan yang ada di hadapannya membuat napasnya tertahan. Sebuah kerajaan besar berdiri kokoh di depannya — dibangun dari batu-batu berukir yang sudah ditumbuhi lumut tebal di setiap celahnya, menunjukkan usia yang sangat tua. Di halamannya terdapat gazebo tiga atau empat buah yang saling berhadapan, serta kolam kecil dengan air mancur. Pagar batu yang tinggi mengelilinginya, namun dengan berjinjit Teh Nayla masih bisa mengintip ke dalam. Dan apa yang ia lihat membuat seluruh bulunya meremang.
Di tengah halaman kerajaan itu, enam perempuan menari secara bersamaan dengan gerakan yang persis sama — tidak ada satu pun perbedaan, seperti sedang digerakkan oleh satu kendali. Mereka mengenakan busana penari serba merah menyala, dengan selendang merah di tangan masing-masing. Gerakannya bukan gerakan manusia biasa — terlalu sempurna, terlalu sinkron, tanpa ada jeda atau kesalahan sekecil apapun. Di balik para penari itu, tepat di depan pintu kerajaan yang besar berbentuk setengah lingkaran di bagian atasnya, berdiri seorang perempuan cantik luar biasa — memakai selendang hijau dan samping batik, dengan busana atas putih khas putri kerajaan. Ketika mata mereka bertemu, Teh Nayla merasakan bisikan yang entah datang dari mana: “Masuk sini, ikut.”
Seketika rasa lapar yang dahsyat menyerang tubuhnya — jauh lebih hebat dari sebelumnya, seperti ia belum makan dan minum berhari-hari. Dari samping kerajaan, pelayan-pelayan mulai keluar membawa nampan emas berisi buah-buahan segar, pisang, apel, dan segelas air minum — semuanya mengarah tepat ke hadapan Teh Nayla. Rasa haus yang membakar tenggorokan dan perih di perutnya membuat tangannya hampir secara naluri terjulur untuk menerima. Namun nenek di sebelahnya langsung berbisik keras: “Jangan.” Tangan Teh Nayla ditarik mundur, dan ia dibawa berjalan menjauh dari kerajaan itu meski sekujur badannya menolak meninggalkan makanan yang terhidang di depannya.
Nenek mengajaknya terus berjalan hingga tiba di bawah pohon beringin besar yang dikelilingi pohon-pohon lain yang sama besarnya. Di sanalah nenek berhenti dan berkata bahwa ia hanya bisa mengantar sampai titik itu. Pesan terakhirnya sederhana namun tegas: jalan lurus saja, ikuti jalanan, dan jangan sekali-kali menoleh ke belakang. Teh Nayla berjalan sendirian, makin lama makin lemas, makin linglung, perutnya makin perih dan tenggorokannya makin kering. Namun ia terus memaksa kakinya melangkah ke depan hingga akhirnya suara-suara alam mulai terdengar kembali — tongeret, katak, desiran angin. Ia turun dari sejumlah anak tangga dan tiba-tiba sudah berada di pinggir jalan raya yang nyata, dengan suara kendaraan dan kehangatan sinar matahari yang terasa seperti hadiah terbesar dalam hidupnya.
Seorang bapak yang melihatnya duduk lemas di anak tangga menawarkan bantuan mengantarnya pulang dengan sepeda motor. Teh Nayla mengiyakan. Rantang yang sejak tadi masih ia bawa — makanan yang seharusnya sudah sampai ke tangan para pekerja di ladang sejak siang — masih ada di tangannya. Sesampainya di rumah, ia mendapati puluhan tetangga berkumpul di sana. Ada suara tangisan dari dalam. Ketika mereka melihat Teh Nayla turun dari motor, beberapa ibu-ibu histeris berteriak namanya dan ada yang langsung beristighfar. Ibunya berlari keluar dan memeluknya sambil menangis, bertanya ke mana saja ia selama ini pergi.
Yang membuat Teh Nayla terdiam kaku adalah jawaban ibunya atas pertanyaan balik itu: ia sudah pergi selama tiga hari. Bukan beberapa jam — tiga hari penuh. Ketika ia membuka ponselnya yang kembali memiliki sinyal, semua pesan yang selama itu tidak terkirim langsung masuk sekaligus — ratusan chat dari pacar, keluarga, dan teman. Semuanya bertanya ke mana ia pergi. Tidak ada satu pun yang terjawab selama tiga hari. Ayahnya sudah mencarinya ke ladang sejak hari pertama bersama warga, bahkan dibantu oleh seorang juru spiritual yang mengatakan bahwa Naila ada di dekat sana tapi tidak bisa dijangkau. Polisi pun ikut dilibatkan setelah dua kali dua puluh empat jam berlalu. Seluruh kampung sudah membunyikan kentongan sambil memanggil-manggil namanya.
Pacarnya yang tak bisa menghubungi Teh Nayla datang ke rumah di hari kedua, sempat dituduh oleh ibunya telah menculik Teh Nayla, lalu ikut serta dalam pencarian. Om Aris — seorang paman yang dikenal sedikit lebih sensitif terhadap hal-hal gaib dan tinggal di kota yang berbeda — datang begitu mendengar kabar dari grup keluarga bahwa Teh Nayla hilang. Di hari ketiga sebelum Teh Nayla pulang, warga dan keluarga berkumpul mengaji dan membaca doa bersama di rumah atas saran sang juru spiritual. Tidak lama setelah itu, Teh Nayla muncul.
Setelah mandi dan tidur sejenak, Teh Nayla bangun malam harinya dan diminta bercerita. Om Aris mendengarkan semuanya dengan teliti. Keesokan siangnya, Om Aris mengajak Teh Nayla masuk kamar untuk duduk berhadapan — hanya berdua dengan segelas air garam di antara mereka. Om Aris memegang tangannya dan mulai bertanya satu per satu, termasuk apakah Teh Nayla pernah melihat “rumah besar” itu sewaktu kecil. Dan Teh Nayla pun teringat — ia memang pernah melihatnya, meski dulu hanya berupa kilasan selintas yang tidak ia pahami artinya.
Om Aris kemudian menjelaskan siapa sebenarnya nenek tua berbaju lusuh yang menolongnya itu. Nenek itu bukan orang asing — ia adalah leluhur dari garis keturunan ibu Teh Nayla. Leluhur itulah yang selama ini menjaga dan melindunginya dari dalam dunia lain, dan kehadirannya di saat paling kritis itu bukan kebetulan. Om Aris juga menjelaskan bahwa kerajaan yang Teh Nayla lihat beserta sang putri cantik di pintunya adalah bagian dari sebuah perjanjian lama yang pernah dibuat oleh leluhur keluarga dari pihak ibu — perjanjian pesugihan, perjanjian kekayaan yang melibatkan dunia gaib, dibuat berpuluh-puluh tahun yang lalu dan tidak pernah diceritakan kepada generasi berikutnya.
Adapun enam perempuan berselendang merah yang menari dengan gerakan persis sama di halaman kerajaan itu, menurut Om Aris, bukan sekadar penari biasa. Mereka adalah korban-korban yang dijadikan tumbal untuk memenuhi perjanjian itu — jiwa-jiwa yang kini terikat abadi di dunia sang putri, melayani dan menari selamanya sebagai bagian dari harga yang pernah dibayarkan. Dan Teh Nayla hampir saja menjadi satu di antara mereka. Jika ia menerima makanan atau minuman yang disodorkan pelayan di halaman kerajaan itu, ia dianggap telah menyetujui ajakan sang putri untuk tinggal dan tidak akan bisa kembali ke dunia manusia.
Satu hal yang menyelamatkan Teh Nayla adalah ketaatannya pada pesan nenek — ia tidak makan, tidak minum, dan tidak menjawab siapapun yang menyapanya. Om Aris juga menyampaikan bahwa Teh Nayla adalah satu-satunya perempuan dalam keluarga yang memiliki darah tulang wangi — seseorang yang energi batinnya secara alami menarik perhatian makhluk gaib. Sejak kecil pun sang putri sudah pernah menunjukkan kerajaannya kepada Teh Nayla lewat sebuah kilasan, namun karena saat itu ia masih terlalu kecil, mereka belum berani menariknya masuk. Baru ketika ia sudah dewasa, dan berjalan melewati tempat itu tepat saat azan zuhur — waktu yang menurut kepercayaan leluhur sangat rawan secara gaib — mereka mengambil kesempatan itu.
Sejak kejadian itu, Teh Nayla berubah. Ia yang sebelumnya tidak percaya dan tidak peka terhadap hal-hal gaib kini bisa merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata di sekitarnya — bukan melihat, namun merasakan dengan kepekaan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Dua malam berturut-turut setelah pulang pun ia bermimpi kembali berada di depan kerajaan itu, dengan sang nenek yang diam menatapnya dan sang putri yang kini menampakkan raut wajah tidak terima, seolah marah karena mangsanya berhasil lolos. Bagi Teh Nayla, pengalaman tiga hari yang terasa seperti beberapa jam itu bukan sekadar kisah seram untuk diceritakan — melainkan pengingat bahwa dunia yang tak terlihat oleh mata bisa jauh lebih nyata dari yang pernah ia bayangkan, dan bahwa perjanjian leluhur yang terlupakan pun bisa sewaktu-waktu datang menagih kepada keturunan yang tidak pernah tahu apa-apa tentangnya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
