Ibu Rohana masih mengingat jelas tahun 2004, saat ia bekerja sebagai sales kacamata keliling kampung. Pekerjaannya berat tapi terukur: target minimal lima kacamata per bulan, dan kalau tidak tembus, gaji pun seret. Rohana termasuk yang konsisten—pelanggannya banyak, cara bicaranya luwes, dan ia sudah dianggap “senior” di kantor.
Sampai suatu hari, masuklah karyawan baru yang dipanggil Enok. Masih muda, penampilannya lumayan, tapi ia punya satu masalah besar: minder. Cara bicaranya kaku, tidak percaya diri, dan sering merasa “tidak punya magnet” untuk membuat orang mau membeli. Bos pun tidak pernah benar-benar memberi ruang belajar; di depan orang banyak, Enok sering dimaki dan dipermalukan.
Rohana mencoba jadi sandaran. Ia ajari cara menawarkan, cara menahan emosi saat ditolak, dan cara menelan kata-kata bos yang pedas. Tapi Enok punya beban lain yang tidak terlihat: ia single parent, punya dua anak, ditinggal suami yang kabur. Di rumah ia pusing mikir biaya sekolah dan makan. Di kantor ia pusing mengejar target yang tak kunjung stabil. Lama-lama, kepala Enok seperti penuh kabut.
Pada suatu malam, Enok mengadu sambil menangis: ia sudah buntu. Ia bilang punya “niat buruk”—mencari jalan instan. Rohana kaget dan menahan, mencoba memberi alternatif lain. Tapi Enok sudah bulat. Ia mengaku teringat cerita “wawak”-nya: ada cara cepat kaya lewat jalur yang tidak benar—dan ia ingin meniru itu.
Pagi-pagi hari Senin, Enok meminta Rohana mengantarnya dengan alasan kerja lapangan. Mereka menelusuri kampung-kampung selama hampir dua jam, sampai tiba di sebuah gubuk terpencil di tengah sawah—rumah seorang “aki” yang jadi tujuan Enok. Menjelang magrib, suasana sepi dan menekan. Rohana sempat ingin mundur, tapi Enok bersikeras.
Aki itu akhirnya menyahut setelah Enok menyebut dirinya “pasien”. Penampilannya membuat Rohana merinding: jubah hitam, tongkat, jenggot panjang, kalung besar, dan aroma yang seperti jarang tersentuh air. Aki langsung berkata Enok tidak bisa mundur lagi kalau sudah masuk. Enok menjawab siap—siap menanggung sebab-akibatnya, siap menerima konsekuensi, seolah hidupnya sudah tidak punya pilihan lain.
Enok disuruh masuk kamar, lalu keluar hanya berbalut kain. Ia diminta berendam dalam ember berisi air keruh yang baunya tidak enak, lalu aki menaburkan bunga dan “membersihkan” tubuh Enok dari ujung rambut sampai ujung kaki. Di situ Rohana makin takut, tapi ia ingat janji: tidak akan meninggalkan Enok apa pun yang terjadi.
Setelah prosesi itu, aki mengatakan sesuatu yang membuat Rohana makin tidak tenang: Enok akan “dinikahkan” dengan siluman kera—raja monyet—dan perjanjiannya menuntut Enok menyiapkan kamar kosong setiap malam Jumat Kliwon untuk memenuhi ikatan tersebut. Enok menyanggupi tanpa ragu, seperti orang yang sudah menutup telinga dari suara hati sendiri.
Tak lama kemudian, Enok keluar lagi—kali ini sudah memakai gaun pengantin, riasnya mendadak rapi dan cantik padahal Rohana tidak melihat ada orang lain di rumah itu. Aki lalu berkata ada “kereta kencana” yang menjemput. Rohana mengira itu cuma omongan, sampai benar-benar terdengar derap kuda, dan mereka seperti dibawa menembus malam dengan suasana yang berubah-ubah: galengan sawah yang tadi becek tiba-tiba seperti berubah jadi jalan lurus bagus, diiringi bunyi gamelan yang membuat tengkuk kaku.
Mereka sampai di sebuah gua besar yang dijaga sosok-sosok seperti prajurit. Rohana memilih bersembunyi di pojok, hanya menjadi saksi. Enok melihat “pengantin” sebagai pangeran tampan. Tapi Rohana melihat wujud yang jauh lebih menyeramkan. Di sekitar prosesi, Rohana merasa tempat itu dipenuhi “tamu” yang tidak kasatmata—seolah pesta digelar untuk dunia lain.
Setelah “ijab kabul” gaib selesai, mereka kembali pulang dan diminta tidak mampir ke mana-mana. Enok terlihat seperti tidak sabar—berulang kali bilang ritualnya berhasil. Sampai di rumah Enok, ia langsung mengajak Rohana masuk kamar dan membuka lemari jati besar. Saat pintu lemari terbuka, Rohana terpaku: uang gepokan ratusan ribu tersusun rapi, memenuhi ruang lemari. Enok menyuruh Rohana ikut mengambil, tapi Rohana menahan diri dan memilih pulang, takut ikut terseret lebih jauh.
Beberapa minggu berikutnya, Enok menghilang dari kantor. Rohana penasaran dan mendatangi rumahnya. Ia syok: Enok berubah total—berhias, berpenampilan mewah, dan sudah punya usaha optik sendiri. Bahkan tidak berhenti satu; lambat laun cabangnya bertambah. Enok menyimpan dendam pada bos yang dulu merendahkannya. Ia membuka usaha yang sama persis untuk membuktikan: ia bisa jadi lebih besar dari orang yang dulu menindasnya.
Namun cerita jalan pintas jarang berakhir manis. Dua tahun kemudian, Rohana menerima kabar duka: anak pertama Enok meninggal. Warga berbisik ada kejanggalan, tapi semuanya seperti ditutup rapat. Wajah Enok saat itu dingin—seperti orang yang sudah “siap” sejak awal, seolah kehilangan itu bagian dari harga yang ia setujui.
Tak lama berselang, anak keduanya menyusul meninggal. Kali ini, ekspresi Enok berbeda: ada sedih yang ia tahan, ada penyesalan yang mulai menyembul. Ia mengaku kepada Rohana bahwa ia ketakutan—bukan lagi karena miskin, tapi karena korban sudah habis sementara perjanjian belum tentu selesai.
Enok kemudian memohon Rohana mengantarnya kembali ke aki untuk memutus pernikahan gaib itu. Aki berkata pemutusan tidak gratis: ada mahar kambing kendit, dan ada syarat yang kejam. Enok menyanggupi, dengan tekad orang yang sudah kehabisan pilihan. Rohana menyaksikan dari jauh, dan sejak peristiwa itu, kondisi Enok seperti retak dari dalam.
Dalam perjalanan pulang, Enok mulai tidak nyambung, menangis mencari anak-anaknya, menyangkal kenyataan, dan berkali-kali menyalahkan diri sendiri. Beberapa bulan kemudian, Rohana bertemu Enok lagi—dan yang ia temui bukan Enok yang dulu: Enok sudah seperti kehilangan kewarasan. Pakaiannya compang-camping, tatapannya kosong, dan ia terus meneriakkan nama anak-anaknya seolah mereka masih bisa dipanggil pulang. Optiknya tutup. Hartanya entah ke mana. Ia tidak lagi tahu jalan pulang ke rumahnya sendiri.
Rohana mengaku menyesal seumur hidup. Ia merasa bersalah karena pernah mengiyakan untuk mengantar—padahal sejak awal hatinya sudah menolak. Ia sadar, satu keputusan kecil “mengantar teman” bisa jadi pintu yang membuat orang lain menyeberang terlalu jauh.
Di akhir kisah, Rohana meninggalkan pesan yang sederhana tapi tegas: jangan meniru jalan Enok. Cari rezeki dengan cara yang halal, meski pelan. Karena kekayaan instan yang datang dari jalur gelap bukan hanya membawa uang, tapi juga membawa tagihan—dan kadang yang ditagih bukan harta, melainkan orang-orang yang paling kita sayangi, bahkan kewarasan kita sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
