Pada 2005, Kang Ikhsan sedang berada di tahap akhir kuliah setelah melewati perjalanan pendidikan yang tidak mudah. Ia berasal dari keluarga petani dan sejak kecil sudah terbiasa berusaha membantu dirinya sendiri dengan berjualan permen, stiker, hingga kaus. Setelah kedua orang tuanya berpisah, Ikhsan tinggal bersama ibunya yang terus berusaha menyekolahkannya setinggi mungkin meskipun kondisi ekonomi keluarga tidak selalu stabil.
Keinginan Ikhsan melanjutkan pendidikan sempat hampir kandas setelah gagal masuk beberapa perguruan tinggi negeri. Namun sekitar satu bulan kemudian, ia mendapat surat panggilan beasiswa dari salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Sang ibu meminta Ikhsan mengambil kesempatan tersebut. Masalahnya, beasiswa itu hanya menutup sebagian biaya semester sehingga kekurangan biaya tetap harus ditanggung keluarga.
Menurut Ikhsan, satu semester ketika itu membutuhkan biaya sekitar Rp10 juta, sementara beasiswa hanya menanggung sekitar setengahnya. Demi mempertahankan pendidikan anak semata wayangnya, sang ibu mulai menjual berbagai aset keluarga, termasuk sawah dan harta lainnya. Ikhsan sendiri mencoba bertahan di Bandung dengan bantuan teman-temannya sambil belajar, menjadi asisten dosen, dan mencari tambahan penghasilan.
Perjuangan itu akhirnya membawa Ikhsan mendekati kelulusan. Pada suatu Kamis di bulan Februari, ia pulang ke kampung dan memberi tahu ibunya bahwa ia akan segera mengikuti sidang serta wisuda. Biaya yang masih dibutuhkan menurut ingatannya mencapai sekitar Rp35 juta. Ketika Ikhsan menyampaikan persoalan tersebut, ibunya hanya menenangkan dan mengatakan agar dirinya tidak memikirkan uang karena insyaallah akan ada jalan.
Pertemuan itu ternyata menjadi pertemuan terakhir Ikhsan dengan sang ibu dalam keadaan sehat. Ia sempat meminta mengantar ibunya menggunakan sepeda motor karena merasa rindu. Setelah itu Ikhsan kembali ke Bandung untuk mempersiapkan sidang. Beberapa hari kemudian, pada hari Minggu, ia menerima telepon dari tetangga yang memintanya segera pulang karena “emak” sudah tidak ada.
Awalnya Ikhsan mengira yang meninggal adalah neneknya karena panggilan “emak” biasa digunakan untuk sang nenek. Ia segera memacu sepeda motor menuju kampung. Sesampainya di sana, nenek, kakek, dan pamannya ternyata masih hidup. Ketika kain yang menutupi jenazah dibuka, Ikhsan baru menyadari orang yang meninggal adalah ibunya sendiri. Ia mengaku hanya mampu menangis sambil memikirkan bagaimana dirinya akan menjalani hidup setelah kehilangan orang yang selama ini paling keras memperjuangkan pendidikannya.
Ikhsan ikut mengurus pemakaman ibunya sebelum kembali ke Bandung karena harus menyelesaikan persiapan sidang. Pada minggu berikutnya ia pulang untuk acara tujuh harian dan belum mengetahui sesuatu yang dianggap janggal. Baru pada kepulangan berikutnya seorang paman memanggilnya secara pribadi dan menceritakan apa yang sebenarnya dilakukan sang ibu setelah Ikhsan terakhir kali datang meminta biaya wisuda.
Menurut cerita sang paman, ibu Ikhsan terlebih dahulu datang kepada kakeknya untuk meminta uang sekitar Rp35 juta. Namun bukannya mendapatkan bantuan, ia justru mendapat hardikan dan ucapan yang kurang lebih menyuruhnya pergi ke gunung jika ingin mencari uang. Sang ibu pulang sambil menangis, lalu meminta salah seorang saudaranya mengantar ke tempat yang mereka sebut Gunung Padang di kawasan perbatasan sekitar Bandung.
Kepada sang paman, ibu Ikhsan mengatakan tujuannya dengan sangat terbuka: ia ingin melakukan tirakat dan berharap mendapatkan uang demi kebutuhan pendidikan anaknya. Dalam perjalanan mereka membeli kembang tujuh rupa serta berbagai perlengkapan. Setelah sampai, terdapat pula permintaan menyediakan ayam hitam atau ayam cemani. Mereka kemudian menemui juru kunci yang ternyata masih mempunyai hubungan keluarga dengan kakek Ikhsan.
Juru kunci sempat menyuruh ibu Ikhsan pulang setelah mendengar niatnya mencari uang. Namun sang ibu bersikeras ingin menjalani tirakat. Menurut cerita yang diterima Ikhsan, di kawasan tersebut terdapat dua jalur yang oleh mereka digambarkan sebagai jalur kanan dan jalur kiri. Jalur kiri dikaitkan dengan praktik yang dianggap negatif, sedangkan sang ibu memilih jalur kanan berupa tempat seperti gua kecil yang digunakan untuk berdoa, berpuasa, salat, dan melakukan tirakat.
Setelah Asar, ibu Ikhsan dan pamannya naik menuju lokasi dan baru tiba menjelang Magrib. Sang ibu kemudian menjalani puasa yang disebut mati geni sambil memperbanyak salat dan membaca Yasin Fadilah. Pada malam pertama, pamannya mengaku mendengar suasana seperti pasar yang sangat ramai meskipun tidak ada orang, kemudian suara gamelan dan ledakan menjelang Subuh. Sementara itu sang ibu mengaku didatangi seorang lelaki setengah baya berpakaian putih yang memintanya pulang.
Peringatan tersebut tidak membuat sang ibu berhenti. Pada malam berikutnya, sang paman mengaku melihat seekor harimau melintas sangat dekat di belakang ibu Ikhsan hingga bulunya terasa menyentuh tubuh. Sang ibu tetap fokus mengaji. Setelah Subuh ia kembali mengatakan sosok lelaki berpakaian putih yang sama datang dan menyuruhnya pulang, tetapi jawabannya tetap sama: ia tidak akan pergi sebelum memperoleh hasil yang diinginkan.
Memasuki malam berikutnya, tekanan yang diceritakan semakin kuat. Ibu Ikhsan mengaku ditampar oleh sosok yang sama dan diperingatkan bahwa dirinya tidak akan menjadi kaya dengan melakukan hal tersebut. Ia tetap bertahan. Pada malam Jumat, benda-benda di depan tempat tirakat disebut seperti diobrak-abrik tanpa terlihat siapa pelakunya, batu dilempar dari arah yang tidak diketahui, lampu padam, dan seekor kucing hitam muncul dengan suara keras seperti hendak menyerang.
Menjelang Subuh, kondisi ibu Ikhsan semakin lemah dan ia sempat pingsan. Setelah sadar dan melaksanakan salat, ia akhirnya mengatakan kepada pamannya bahwa dirinya sudah tidak sanggup meneruskan tirakat dan ingin pulang lebih cepat. Padahal menurut kesepakatan awal, mereka seharusnya baru turun pada hari Sabtu. Juru kunci dikabarkan sempat keberatan karena waktu tirakat belum selesai, tetapi sang ibu tetap memilih pulang pada Jumat setelah salat Jumat.
Setibanya di kampung, ibu Ikhsan tidak langsung pulang ke rumah sendiri dan memilih menginap di rumah seorang sahabat yang disamarkan dengan nama Wa Titin. Menjelang Magrib, menurut cerita tetangga, dua laki-laki berperawakan sangat tinggi dan besar dengan pakaian seperti jubah datang menanyakan keberadaan ibu Ikhsan. Keduanya sempat dipersilakan masuk, tetapi ketika hendak dipanggil kembali mereka sudah tidak terlihat di sekitar rumah.
Selepas Isya, ibu Ikhsan masih sempat membaca Yasin Fadilah seperti kebiasaannya. Setelah selesai mengaji, kondisinya mendadak berubah. Ia berkeringat, tatapannya kosong, tubuhnya kaku seperti kayu, lalu mulai berbicara dengan kalimat yang tidak dipahami orang-orang di sekitarnya. Menurut cerita yang diterima Ikhsan, sebagian ucapan tersebut kemudian dianggap menyerupai bahasa Sunda lama. Kondisinya berlangsung sepanjang malam hingga ia harus dibimbing untuk salat dan bertayamum.
Keluarga kemudian memindahkan sang ibu ke rumah agar tidak merepotkan sahabatnya. Kondisinya semakin menurun, sementara jarak menuju dokter ketika itu cukup jauh. Kakek Ikhsan akhirnya meminta juru kunci Gunung Padang datang untuk membantu. Setelah melakukan proses yang dalam cerita keluarga disebut sebagai pengobatan menggunakan ayam cemani, juru kunci mengatakan kondisi ibu Ikhsan sudah sangat berat dan memakai istilah “kabendon”. Penilaian tersebut merupakan tafsir spiritual pihak yang hadir, bukan diagnosis medis.
Selepas Subuh, kaki ibu Ikhsan disebut mulai terasa dingin sementara bagian tubuh lain masih hangat. Keluarga berkumpul di sekelilingnya. Menurut kesaksian yang kemudian disampaikan kepada Ikhsan, ibunya akhirnya mengembuskan napas terakhir sekitar pagi hari. Pada waktu yang hampir bersamaan, Ikhsan yang masih dalam perjalanan pulang mengaku tiba-tiba merasa tubuhnya sangat lemas ketika berada di dekat balai desa, tanpa mengetahui bahwa ibunya baru saja meninggal.
Setelah pemakaman, muncul berbagai cerita dari warga yang membuat Ikhsan semakin penasaran. Beberapa orang mengaku melihat sosok menyerupai ibunya menjelang Magrib atau membawa air seperti kebiasaan semasa hidup. Ada pula orang yang menafsirkan sang ibu sebagai korban ritual, sementara warga lain menuduhnya melakukan pesugihan. Ikhsan merasa tuduhan tersebut sangat menyakitkan karena ia mengetahui seluruh perjuangan sang ibu dilakukan ketika sedang terdesak mencari biaya untuk pendidikannya.
Bertahun-tahun kemudian Ikhsan mendatangi sendiri lokasi tempat ibunya bertirakat untuk mencari jawaban. Ia tidak membawa sesajen dan memilih berzikir menggunakan tasbih. Di sana ia mengaku mengalami beberapa kejadian yang sangat mirip dengan cerita pamannya, mulai dari kemunculan kucing hitam hingga sosok yang mempertanyakan tujuannya datang dan menyuruhnya pulang. Setelah mempelajari kembali kisah ibunya bersama sejumlah guru, Ikhsan menyimpulkan menurut keyakinannya bahwa sang ibu tidak menjalani pesugihan jalur kiri, melainkan melakukan tirakat yang kemudian berakhir tragis. Bahkan Ikhsan yang kini dikenal sebagai ustaz mengakui dirinya sendiri pernah tergoda mencari jalan pesugihan sekitar delapan bulan sebelum wawancara, meski rincian pengalaman tersebut belum diceritakan dalam kisah ini. Baginya, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa siapa pun dapat goyah ketika berada dalam tekanan, dan tidak ada kekayaan instan yang sebanding dengan risiko kehilangan diri maupun orang yang paling dicintai.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
