Tahun 2017, Mas Bambang menjalani kehidupan sederhana sebagai pengepul ikan di kawasan pesisir Indramayu. Ia membeli hasil tangkapan nelayan, menimbang serta mengemasnya, lalu mengirim ikan tersebut ke Jakarta. Suatu tengah malam, ketika sedang menikmati kopi di depan rumah, seorang teman lama bernama samaran Revan datang menggunakan sepeda motor tua dengan penampilan kusut dan wajah penuh kelelahan.
Kondisi Revan malam itu sangat berbeda dari sosok yang dikenal Mas Bambang. Dahulu Revan merupakan pengusaha sukses yang bergerak di bidang ekspor ikan mahal, termasuk udang mantis dan berbagai hasil laut hidup. Ia juga menjalankan perdagangan bahan kain ke Sumatra, sering bepergian menggunakan mobil mewah, dan dikenal sangat dermawan kepada teman-temannya.
Setiap kali Mas Bambang membutuhkan uang untuk keperluan sekolah anak, Revan tidak pernah banyak bertanya. Ia bisa langsung mentransfer jutaan rupiah hanya dengan satu panggilan telepon. Namun semua kesuksesan itu runtuh setelah Revan mencurigai istrinya berselingkuh, meskipun ia belum pernah memperoleh bukti yang benar-benar jelas.
Kecurigaan tersebut membuat rumah tangganya terus dipenuhi pertengkaran. Revan kemudian melarikan diri ke minuman keras, perjudian daring, pergaulan malam, dan hubungan dengan perempuan lain. Selama lebih dari satu tahun ia menghamburkan uang dan mengabaikan perusahaan, hingga bisnis ekspor ikannya mendapat banyak masalah dan seluruh usahanya akhirnya hancur.
Ketika datang ke rumah Mas Bambang, Revan mengaku memiliki utang lebih dari Rp1 miliar. Istrinya terus meminta cerai, sementara keluarga istrinya tidak lagi menghormatinya. Yang paling membuatnya terpukul adalah putrinya yang masih berusia sekitar lima tahun terus meminta dibelikan sepeda, sedangkan ia sudah tidak mempunyai uang.
Revan kemudian meminta Mas Bambang menunjukkan tempat yang dapat menyelesaikan masalahnya secara instan. Mas Bambang berulang kali menolak dan menjelaskan bahwa utang usaha masih bisa diselesaikan melalui jalan normal. Namun Revan terus memaksa, bahkan meminta ditemani karena merasa sudah tidak memiliki pilihan lain.
Keesokan harinya, Mas Bambang mengajak Revan membantu mengemas ikan. Setelah pekerjaan selesai, ia membelikan sepeda untuk anak Revan dan memberi uang sekitar Rp1 juta sebagai pegangan. Revan pulang ke Jakarta, tetapi berjanji akan kembali tiga hari kemudian karena telah memperoleh informasi tentang tempat ritual di wilayah Sumedang.
Tiga hari kemudian, Revan datang menggunakan mobil hitam dan mengajak Mas Bambang berangkat setelah Isya. Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam. Mereka tiba di sebuah kawasan hutan yang sangat gelap, lalu berjalan kaki melewati pepohonan besar menuju rumah tua milik seorang laki-laki yang dipanggil Abah.
Di rumah tersebut, Revan menceritakan kebangkrutan, utang, dan masalah keluarganya. Setelah melakukan penerawangan, Abah mengatakan Revan termasuk orang yang “terpilih” untuk menjalani pesugihan. Ia kemudian meminta mahar sekitar Rp3 juta untuk menyiapkan berbagai perlengkapan dan menyuruh mereka kembali tiga hari kemudian.
Mas Bambang terus meminta Revan membatalkan niatnya selama perjalanan pulang. Namun Revan mengatakan tujuannya bukan hanya melunasi utang. Ia ingin kembali kaya agar dapat membungkam keluarga istrinya yang merendahkannya. Rasa sakit hati, dendam, dan malu telah membuat Revan tidak lagi memikirkan risiko.
Saat mereka kembali, Abah telah menyiapkan makanan persembahan, bunga, minuman, dupa, dan sejumlah uang. Menjelang tengah malam, mereka berjalan menuju sebuah pohon beringin raksasa yang berada lebih jauh di dalam hutan. Revan diminta duduk di depan pohon sambil membaca mantra, sedangkan Mas Bambang menunggu dari sebuah tempat berjarak belasan meter.
Pada malam pertama, Mas Bambang mendengar suara langkah seperti kuda dari arah pohon. Tidak lama kemudian, seekor kuda putih muncul dan berjalan mengelilingi Revan. Hewan itu sempat bergerak mendekati Mas Bambang sebelum kembali ke arah pohon, lalu menghilang ketika waktu mendekati subuh.
Ritual dilanjutkan pada malam kedua. Kali ini Mas Bambang melihat perempuan cantik bertubuh tinggi keluar dari sekitar pohon beringin. Seluruh tubuhnya dihiasi emas, mulai dari mahkota, gelang, hingga kalung. Sosok yang digambarkan seperti seorang dewi itu berdiri di hadapan Revan dan terlihat sedang berbicara dengannya.
Setelah kembali ke rumah Abah, Revan menanyakan arti permintaan sosok tersebut. Abah menjelaskan bahwa “itik atau induk” yang diminta berarti anak atau istri Revan harus menjadi korban. Revan langsung marah karena sebelumnya merasa dijanjikan pesugihan tanpa tumbal manusia.
Abah kemudian menyuruh Revan melakukan ritual terakhir dan bernegosiasi langsung dengan sosok tersebut. Menurut cerita yang disampaikan Revan, korban manusia akhirnya dapat diganti dengan seekor sapi. Syaratnya, setiap malam satu Suro ia wajib menyerahkan satu ekor sapi selama perjanjian masih berjalan.
Pada malam ketiga, Revan membawa sebuah karung kosong. Sosok perempuan bermahkota emas kembali muncul dari dalam pohon. Setelah Revan menyerahkan uang ritual dan berjabat tangan dengannya, karung yang semula kempis tiba-tiba menggembung dan terasa berat.
Ketika karung itu dibuka di rumah Abah, isinya adalah lembaran uang yang masih terasa basah dan mengeluarkan aroma wangi. Uang tersebut kemudian diuji dan ternyata dapat digunakan untuk berbelanja. Revan membawa pulang uang itu serta menyetujui kewajiban menyerahkan seekor sapi setiap tahun.
Dalam waktu singkat, kehidupan Revan berubah drastis. Ia membangun kembali usaha perikanan, memperluas bisnis, membeli tanah, rumah, dan kendaraan, serta sering melakukan perjalanan ke luar negeri hingga Amerika. Kekayaannya disebut jauh lebih besar daripada masa kejayaan sebelumnya, sedangkan persembahan sapi rutin dilaksanakan selama tiga tahun pertama.
Mas Bambang memilih menjaga jarak karena mengetahui asal kekayaan tersebut. Setiap kali ditawari uang atau barang, ia selalu menolak dengan alasan masih mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Memasuki tahun keempat, Revan tidak lagi datang meminta ditemani membeli sapi, tetapi Mas Bambang mengira sahabatnya sudah mengurus kewajiban itu sendiri.
Pada tahun kelima, istri Revan menghubungi Mas Bambang dan memintanya datang ke Jakarta. Perempuan itu sudah hidup bersama suami baru dan mengatakan seluruh kekayaan Revan telah habis. Revan juga terserang penyakit aneh setelah lupa menyerahkan sapi, sementara pengobatan medis maupun spiritual telah menghabiskan ratusan juta rupiah tanpa hasil.
Mas Bambang menemukan Revan di sebuah kontrakan kecil dalam keadaan sangat kurus, berbau, dan hanya menyisakan tulang. Kulitnya hitam, melepuh, serta tampak seperti terbakar. Sebagian asetnya dikabarkan telah dipindahkan kepada mantan istrinya, sedangkan orang yang dahulu hidup mewah itu kini hanya ditemani beberapa warga sekitar.
Dengan biaya sendiri, Mas Bambang membawa Revan pulang ke Indramayu menggunakan ambulans. Ia juga menanggung kebutuhan perawatan dan pemakaman karena keluarga Revan hidup dalam kekurangan. Tiga hari setelah tiba di rumah orang tuanya, Revan meninggal dunia dan meninggalkan penyesalan mendalam dalam diri Mas Bambang.
Mas Bambang merasa bersalah karena pernah menemani Revan menuju tempat ritual. Menurutnya, kebangkrutan dan rumah tangga yang rusak sebenarnya masih mungkin dibangun kembali selama seseorang tetap hidup. Kisah Revan menjadi peringatan bahwa kekayaan tanpa batas hanya bertahan sementara, sedangkan perjanjian dengan bangsa jin dapat menagih harga yang jauh lebih besar daripada seluruh harta yang pernah diberikan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
