Kisah ini disampaikan oleh Ibu Tiara, seorang warga Majalengka yang menjadi saksi perjalanan hidup sahabatnya pada sekitar tahun 2000. Demi menjaga identitas orang-orang yang terlibat, sang sahabat disebut dengan nama samaran Nia. Peristiwa tersebut bermula dari keinginan sederhana untuk mengubah nasib, tetapi kemudian berkembang menjadi kisah pesugihan Ratu Ular yang menelan banyak korban.
Ketika masih muda, Tiara, Nia, dan seorang teman lain bernama Dewi pernah membicarakan cita-cita mereka. Tiara ingin menjadi pedagang sukses, sedangkan Dewi bercita-cita menjadi guru. Berbeda dengan keduanya, Nia mengatakan bahwa ia ingin menjadi kaya tanpa harus bekerja keras. Dewi kemudian bercanda bahwa jalan tercepat untuk mencapai keinginan tersebut adalah mendatangi tempat pesugihan yang pernah didengarnya.
Obrolan itu sempat terlupakan setelah ketiga sahabat tersebut berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Beberapa tahun kemudian, Nia tiba-tiba datang ke rumah Tiara dan menanyakan lokasi pesugihan yang dahulu disebutkan Dewi. Tiara terkejut karena sahabatnya datang dengan niat yang sangat serius. Ia sempat menolak membicarakannya dan meminta Nia pulang karena merasa tidak nyaman.
Dua hari kemudian, Nia kembali sambil menangis dan menceritakan penderitaan yang selama ini disembunyikannya. Ia ternyata telah menikah, bercerai, dan harus membesarkan seorang anak laki-laki seorang diri. Kehidupannya berada dalam kemiskinan, utangnya menumpuk, dan orang-orang di sekitarnya sering merendahkan statusnya sebagai janda. Nia merasa tidak lagi memiliki harapan untuk memperbaiki kehidupan dirinya dan anaknya.
Tiara pernah menyaksikan sendiri bagaimana Nia dihina oleh tetangganya. Anak Nia dimarahi hanya karena menginginkan makanan yang dimiliki anak lain, sedangkan Nia dianggap sebagai ibu yang tidak mampu mencukupi kebutuhan anaknya. Salah seorang pemberi utang bahkan pernah merendahkan harga dirinya dengan meminta tubuh Nia sebagai pengganti pembayaran. Tekanan ekonomi, penghinaan, dan rasa sakit hati membuat Nia semakin nekat mencari kekayaan melalui jalan pesugihan.
Karena merasa iba, Tiara akhirnya bersedia mengantar Nia menemui Dewi. Mereka berangkat dengan sepeda motor pada sore hari, tetapi Dewi sedang tidak berada di rumah. Meski Tiara mengajak pulang, Nia memaksa melanjutkan perjalanan dengan berbekal petunjuk mengenai jalan buntu dan sebuah batu besar. Mereka menempuh jalan berbatu, berkelok-kelok, curam, dan jauh dari permukiman.
Ketika tiba di ujung jalan, suasana di sekitar tempat itu terasa sangat menyeramkan. Tiara mengaku melihat bayangan putih, sosok tinggi besar, dan penampakan menyerupai pocong. Ia kembali meminta Nia mengurungkan niatnya, tetapi keputusan sahabatnya sudah bulat. Nia memberikan uang lima puluh ribu rupiah sebagai ongkos bensin, lalu turun sendiri menuju sebuah gubuk yang berada di bagian bawah kawasan tersebut.
Tiara tidak ikut masuk dan segera pulang setelah memastikan Nia menemukan tempat yang dituju. Berdasarkan cerita Nia setelah ritual selesai, ia tinggal di sana selama sekitar tujuh hari bersama seorang kuncen. Kuncen itu seolah telah mengetahui tujuan kedatangannya dan menawarkan bantuan untuk mengubah nasib. Namun, Nia diperingatkan bahwa orang yang telah memasuki perjanjian tersebut tidak dapat mundur dan harus bersedia menerima seluruh akibatnya.
Tahap awal ritual dilakukan dengan memandikan Nia menggunakan air dari sumur tua dan bunga tujuh rupa. Setelah itu, pakaiannya diganti dengan kain putih dan ia diminta bersemedi di bawah sebuah pohon besar. Kuncen memberikan bacaan tertentu yang harus diamalkan untuk memanggil sosok yang akan menjadi sumber kekayaannya. Apa pun yang muncul selama semedi, Nia dilarang meninggalkan tempatnya.
Gangguan ghaib segera berdatangan untuk menguji kesungguhannya. Nia mendengar suara yang memanggil namanya, lemparan batu, dan bisikan-bisikan dari kegelapan. Ia juga mengaku melihat pocong berbaring di sampingnya, genderuwo yang mengeluarkan suara berat, serta makhluk menyerupai monyet berukuran besar. Walaupun sangat ketakutan dan ingin melarikan diri, Nia tetap bertahan karena keinginannya untuk menjadi kaya jauh lebih kuat.
Pada puncak ritual, muncul seorang perempuan tua berwajah mengerikan di hadapan Nia. Sosok tersebut kemudian berubah menjadi Ratu Ular dan menjanjikan kekayaan berlimpah. Setelah penampakan itu berakhir, kuncen menyatakan bahwa permohonan Nia telah diterima. Namun, kekayaan tersebut tidak diberikan secara cuma-cuma karena ada nyawa manusia yang harus diserahkan sebagai bagian dari perjanjian.
Sebagai tahap terakhir, Nia diminta memakan ayam goreng yang telah disiapkan kuncen. Ia diberi tahu bahwa orang yang paling disayanginya akan diambil ketika makanan itu disantap. Pada saat yang hampir bersamaan, anak laki-lakinya yang berada di rumah mendadak ketakutan seolah melihat makhluk-makhluk ghaib di sekelilingnya. Anak berusia sekitar empat atau lima tahun itu kemudian jatuh sakit dan meninggal secara tidak wajar.
Walaupun menerima kabar bahwa anaknya sakit, Nia tidak diizinkan pulang karena ritualnya belum selesai. Ia juga dilarang menangis, menghadiri pemakaman, atau menginjakkan kaki di makam orang yang telah dijadikan tumbal. Ketika akhirnya pulang sekitar hari kesepuluh, pemakaman anaknya telah selesai. Keluarganya marah dan menuduh Nia sebagai ibu yang tidak bertanggung jawab karena menghilang ketika anak satu-satunya meninggal.
Tiara yang mengetahui kejadian sebenarnya tidak sanggup menahan kemarahannya. Ia menyebut Nia telah kehilangan hati nurani karena mengorbankan anak kandung demi kekayaan pribadi. Namun, Nia hanya menunjukkan wajah datar dan berkata bahwa pengorbanan tersebut diperlukan agar kehidupannya berubah. Rasa sakit hati kepada mantan suami dan orang-orang yang pernah menghinanya disebut telah membuat Nia tidak lagi memedulikan nasib anaknya.
Setelah ritual itu, Nia pergi merantau ke kota dan sempat bekerja kepada orang lain selama sekitar satu bulan. Uang yang terkumpul kemudian digunakannya untuk merintis usaha perabotan rumah tangga. Perkembangan usahanya berlangsung sangat cepat. Dalam waktu sekitar enam bulan, ia telah memiliki rumah, kendaraan, dan sopir pribadi, padahal sebelumnya ia hidup dengan pakaian lusuh serta kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Nia kembali ke kampung dengan penampilan yang sangat berbeda dan sengaja menunjukkan keberhasilannya kepada orang-orang yang dahulu merendahkannya. Ia bertemu Tiara di sebuah warung bakso, menceritakan usaha serta hartanya, lalu menawarkan sejumlah uang sebagai modal. Tiara menolaknya karena mengetahui asal kekayaan tersebut. Penolakan itu membuat Nia tersinggung, bahkan ia sempat mengejek usaha kecil Tiara yang dianggap tidak pernah berkembang.
Kepulangan Nia juga menjadi kesempatan untuk membalas dendam. Ia membagikan uang kepada warga, termasuk kepada seorang laki-laki yang pernah merendahkan dan memaksanya melayani nafsu sebagai pembayaran utang. Laki-laki itu kemudian sakit dan mengalami kecelakaan ketika hendak berobat hingga meninggal secara mengenaskan. Menurut cerita Tiara, Nia mengetahui bahwa laki-laki tersebut telah menjadi tumbal dan justru merasa puas karena sakit hatinya dianggap telah terbayar.
Perjanjian dengan Ratu Ular terus meminta korban setiap tahun. Ketika tiba saatnya menyerahkan tumbal dari keluarga, Nia memilih ibu kandungnya sendiri yang saat itu sebenarnya masih sehat. Sang ibu kemudian jatuh di kamar mandi, kepalanya terbentur, dan meninggal. Setelah kematian itu, kekayaan Nia semakin bertambah, cabang usahanya bertambah menjadi beberapa tempat, dan jumlah mobil yang dimilikinya juga semakin banyak.
Setelah keluarga dan orang-orang yang dibencinya menjadi korban, Nia mulai menjadikan karyawannya sebagai tumbal tahunan. Namun, suatu saat ia memilih sasaran yang ternyata merupakan anak seorang kiai. Tumbal tersebut dianggap salah sasaran sehingga Ratu Ular murka dan akibat perjanjian berbalik menyerang Nia. Tubuhnya mulai sakit, ia tidak dapat berjalan, dan penyakitnya perlahan menggerogoti badan hingga biaya pengobatan menghabiskan harta yang selama ini dikumpulkannya.
Rumah Nia kemudian dipenuhi suasana menakutkan dan para pekerjanya memilih pergi karena sering mengalami penampakan. Tiara sempat datang untuk menjenguk, tetapi tidak berani masuk karena merasakan hawa yang menyeramkan. Usaha Nia akhirnya hancur, hartanya habis, dan akhir hidupnya diiringi kehancuran serta kebakaran yang dikaitkan warga dengan kemarahan Ratu Ular. Dari kejadian tersebut, Tiara mengaku menyesal pernah mengantarkan sahabatnya dan berpesan agar sesulit apa pun kehidupan, manusia tidak mencari kekayaan melalui jalan yang mengorbankan nyawa orang lain.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
