Kang Hakim mengira tahun 2019 akan berjalan seperti biasa. Ia tinggal di Bandung, menjalani hidupnya sebagai wiraswasta setelah bertahun-tahun bekerja di Kalimantan. Namun awal Januari, dua tamu datang membawa masalah yang membuat suasana rumahnya berubah sejak langkah pertama mereka masuk: Andre (sepupu Kang Hakim) dan Pak Nurdin, seorang kenalan Andre yang sedang terjerat utang besar.
Andre datang dengan gaya sok tenang, tapi Kang Hakim langsung menangkap keganjilan dari kalimatnya. Andre bilang sedang “bisnisan” bareng Pak Nurdin, “narik barang.” Di kepala Kang Hakim, “narik barang” itu logis barang dagangan, barang nyata. Tapi Andre menambahkan satu detail yang membuat bulu kuduk naik: barangnya berupa peti, dan peti itu “suka kelihatan” di rumah Pak Nurdin.
Dari situlah Kang Hakim mulai curiga ini bukan urusan bisnis biasa. Ia mendesak Pak Nurdin bicara jujur. Pak Nurdin akhirnya mengaku punya utang sekitar 500 juta lebih, dan sedang menjalani ritual “penarikan dana” yang targetnya 40 Jumat. Saat itu sudah 27 Jumat—hasilnya nihil—tapi peti “sering muncul” saat wirid dilakukan. Pak Nurdin terdengar putus asa, lalu membawa-bawa masa lalu Kang Hakim yang pernah mondok dan bisa membaca ayat-ayat Al-Qur’an, meminta Kang Hakim ikut “ngebantu doa.”
Kang Hakim menolak terlibat penuh. Ia hanya mau menemani Andre sebagai keluarga, dan ia menegaskan tak ingin ikut ritual menarik uang. Tapi Andre dan Pak Nurdin sudah seperti orang gelap mata. Mereka merayu Kang Hakim agar setidaknya datang sebentar ke Garut, ke rumah Pak Nurdin, malam Jumat berikutnya.
Malam Jumat itu, Pak Nurdin menjemput Kang Hakim dari Bandung pagi-pagi buta. Mereka tiba di perkampungan Garut sekitar pukul sembilan. Di depan rumah Pak Nurdin sudah ramai orang nongkrong—keluarga, warga, dan orang-orang yang ikut “jamaah” ritual. Pak Nurdin meminta semua menunggu di luar karena ia ingin bicara dulu bertiga dengan Kang Hakim dan Andre.
Begitu masuk, Kang Hakim merasa “ditolak” oleh suasana rumah. Kadang panas, kadang dingin, dan seperti ada sesuatu yang mengamati dari gelap. Ia melihat seperti bayangan berlari di arah kamar. Belum sempat ia bertanya, pintu kamar dekat dapur tiba-tiba menutup sendiri dengan keras. Lalu muncul getaran seperti gempa kecil, pasir turun dari plafon, dan suasana makin menekan—seolah rumah itu bukan lagi rumah biasa.
Yang paling membuat Kang Hakim terpaku adalah momen ketika Pak Nurdin seperti “ditarik” oleh sesuatu tak terlihat. Tubuh Pak Nurdin terangkat—kaki di atas, kepala di bawah—melayang beberapa saat tanpa menyentuh lantai. Di waktu yang sama, dua anak Pak Nurdin—laki-laki usia lima tahun dan perempuan usia tiga tahun—berlarian masuk ke rumah mencari ibunya. Kang Hakim panik karena merasakan tangan gaib itu mengarah pada anak-anak. Ia membentak, melarang, dan amarahnya seperti memicu reaksi lain: lantai keramik terdengar “petak-petak” seperti dibenturkan keras dari bawah.
Di tengah kekacauan itu, Kang Hakim menangkap suara yang menyuruhnya diam, mengaku lapar, lalu menyebut satu nama: Ajengan Rahmat—seorang kiai yang punya pesantren di kampung itu. Jin itu minta “diantar” ke Ajengan Rahmat. Kang Hakim sempat malu dan takut membuat keributan, tapi keadaan seperti sudah memaksa. Ia menanyakan ke istri Pak Nurdin, dan benar, Ajengan Rahmat memang ada.
Yang terjadi setelah itu benar-benar di luar nalar. Jin itu meminta digendong. Kang Hakim menggendongnya seperti menggendong manusia, tapi bebannya terasa “bisa menyesuaikan”—kadang berat, kadang ringan—sementara tangan yang menempel di tubuh Kang Hakim berbulu dan jarinya panjang berkuku hitam. Mereka berjalan melewati warung yang ramai, tapi anehnya orang-orang seperti tidak melihat apa-apa. Yang terlihat hanya Kang Hakim menunduk seperti memikul beban.
Di rumah Ajengan Rahmat, kiai itu awalnya menanyakan maksud kedatangan. Tapi begitu ia menoleh ke sisi Kang Hakim, ia kaget dan mundur dengan kalimat istighfar, karena ia melihat sosok yang tidak semua orang bisa lihat. Jin itu meminta dibacakan ayat tertentu. Ajengan Rahmat, meski gemetar, tetap membacakan sampai selesai. Setelah itu jin tampak seperti tenang, seolah sudah mendapatkan “yang ia minta.”
Selesai dari rumah kiai, jin itu meminta diantar ke mata air dekat musala tua di persimpangan. Di sana, ia menjelaskan asal mula masalah: ia bukan “penunggu peti” di rumah Pak Nurdin, melainkan penjaga petilasan wali. Menurutnya, Pak Nurdin melakukan ritual yang salah di tempat suci, meminta harta dengan cara menyimpang, lalu energinya mengusik penjaga tempat itu. Peti yang “kelihatan” di rumah, katanya, sejatinya ditarik dari area mata air dan petilasan—dan ritual Pak Nurdin membuat semuanya jadi kacau.
Jin itu memberi Kang Hakim arahan bacaan: syahadat, selawat, dan doa Nabi Musa “Rabbi syrahli shadri…” untuk dipakai saat penyelesaian di rumah. Lalu ia menghilang begitu saja, meninggalkan Kang Hakim dengan beban yang tidak ia minta, tapi sudah telanjur ia pikul.
Kang Hakim marah pada Pak Nurdin karena merasa dibohongi dari awal. Ia menganggap Pak Nurdin tidak jujur soal ritual dan sumber masalah. Namun karena sudah terlibat sebagai saksi, Kang Hakim memutuskan satu hal: kalau bisa ditutup, tutuplah—agar tidak ada lagi yang terancam, terutama anak-anak. Ia meminta waktu seminggu untuk kembali menyelesaikan.
Malam Jumat berikutnya, Kang Hakim kembali ke rumah Pak Nurdin. Kali ini ia mengatur: hanya bertiga masuk kamar tempat ritual—Kang Hakim, Pak Nurdin, dan satu saksi dari keluarga. Listrik dimatikan. Di dalam kamar hanya ada meja, arang untuk pembakaran, dan “mad” (semacam media) yang disiapkan Pak Nurdin. Kang Hakim mulai membaca bacaan yang ia dapat.
Sekitar tiga menit, suasana berubah drastis. Dari luar terdengar angin besar menghantam rumpun pisang. Piring-piring beradu seperti ditabuh. Cahaya-cahaya muncul dari empat arah, mengelilingi ruangan gelap. Kang Hakim melihat tiga sosok datang—dua seperti berpakaian jubah ala Arab memegang tasbih, satu pendek berpakaian pangsi seperti pendekar tua. Mereka memberi salam.
Lalu terdengar suara dari bawah lantai—seperti rantai menarik sesuatu—disertai getaran besar. Seolah tanah terbuka. Dari bawah muncul cahaya putih, dan sebuah peti timbul ke permukaan. Di atas peti ada pusaka. Sosok berjubah memberi isyarat agar pusaka itu diambil.
Saat Kang Hakim hendak mengambil pusaka, muncul sosok lain membelakangi mereka: seperti manusia, rambut panjang diikat, memakai jaket kulit, celana jeans hitam, sepatu boot, dan rantai seperti koboi. Begitu sosok itu menoleh, wajahnya hitam dengan mata melotot—auranya menekan. Sosok itu marah dan bertanya siapa yang berhak atas “harta” ini.
Kang Hakim memberanikan diri bertanya kenapa harta ini tidak “dikasihkan” sejak awal. Jawabannya membuat darahnya dingin: sosok itu mau memberi, tapi meminta dua anak Pak Nurdin sebagai gantinya. Kang Hakim menolak keras. Ia memilih mengambil “sedapatnya” saja, bukan menukar nyawa.
Pusaka itu akhirnya dipakai sebagai kunci peti. Begitu terbuka, terlihat uang dolar pecahan seratus yang tersusun berlapis. Kang Hakim mengambil sebanyak 127 lembar—disebutnya satu “setulak” plus 27—lalu peti menutup sendiri dan sosok hitam itu seperti ditarik pergi. Dua sosok berjubah berpesan: pusaka kunci itu harus dibawa Kang Hakim, jangan disimpan di rumah Pak Nurdin. Jika dalam 10 tahun tidak ada yang mengambilnya, pusaka itu harus dihanyutkan ke sungai besar.
Uang dolar itu kemudian dibawa ke money changer. Mereka mencoba menukar sedikit dulu untuk memastikan asli. Setelah dinyatakan asli, barulah ditukar bertahap. Pembagian pun terjadi—tidak semua orang mau menerima karena takut. Andre hanya membawa uang kecil sekadar bensin, sementara sisanya diatur Pak Nurdin dan orang-orang di rumahnya.
Kang Hakim pulang ke Bandung dengan badan lemas dan hati tidak tenang. Ia menasihati Andre agar tidak mengulang hal seperti ini, karena meski uangnya nyata, resikonya juga nyata. Namun cerita ini belum selesai.
Sekitar sebulan lebih setelah peristiwa peti itu, Kang Hakim mendapat telepon dari istri Pak Nurdin. Tangisnya pecah di ujung sana: Pak Nurdin meninggal. Bukan karena sakit lama, melainkan karena memaksa ritual sendiri lagi. Katanya, ada reaksi di rumah, lalu Pak Nurdin seperti “dilempar” keluar sampai pintu jebol. Ia masih sempat hidup, tapi darah keluar banyak, dan sebelum sampai rumah sakit ia meninggal. Saat Kang Hakim melayat, ia melihat bekas hitam di tubuh Pak Nurdin, seperti jejak hantaman yang tidak wajar.
Kang Hakim menutup kisahnya dengan kalimat yang sederhana tapi berat: penarikan uang gaib itu bukan solusi, lebih sering jadi pintu bencana. Selain rawan penipuan, sekalipun “berhasil”, selalu ada konsekuensi—kadang berupa nyawa. Ia menyarankan orang yang terdesak lebih baik bekerja, sabar, dan bertawakal, daripada mengejar jalan pintas yang ujungnya menghanguskan keluarga sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
