Pada 2016, Mas Anton memulai usaha sebagai sales freelance yang memasarkan minyak goreng rencengan dan gula rencengan menggunakan sepeda motor. Setiap hari ia berkeliling dari pasar ke pasar, menawarkan barang ke toko semi grosir dan grosir. Penjualan berjalan cukup baik hingga dalam sekitar delapan bulan ia bisa membeli kendaraan roda tiga untuk mengangkut pesanan yang semakin banyak. Dari situ, Anton mulai melihat peluang untuk membangun usaha miliknya sendiri.
Memasuki 2017, Anton memberanikan diri mengajukan pinjaman sekitar Rp250 juta ke bank dengan menjaminkan sertifikat tanah. Modal tersebut digunakan untuk membeli mesin produksi minyak rencengan dan gula rencengan, mengurus perizinan, membuat kemasan, serta membeli kendaraan operasional. Ia kemudian membuat merek sendiri dan mengajak tiga teman yang sebelumnya juga bekerja sebagai sales freelance untuk bergabung dalam tim penjualan.
Usaha itu berkembang cepat. Selain minyak dan gula rencengan, Anton juga menjual minyak kemasan liter yang dibelinya dari Jawa Tengah. Permintaan meningkat, armada bertambah, dan tiga tim penjualan mulai bergerak ke berbagai pasar. Namun memasuki awal 2018, suasana di dalam usahanya berubah. Teman-teman yang sebelumnya rukun tiba-tiba saling berselisih dan saling menjatuhkan, sementara angka penjualan mulai turun tajam tanpa alasan yang menurut Anton dapat ia pahami.
Dalam beberapa bulan, satu tim yang sebelumnya mampu menjual sekitar 150 sampai 200 karton hanya bisa melepas 20 hingga 30 dus. Anton turun langsung ke lapangan untuk memastikan penyebabnya. Ia mendapati banyak toko menolak barangnya meski harga produk yang ditawarkan menurutnya justru lebih murah dibandingkan kompetitor. Tidak ada komplain jelas soal kualitas, retur, ataupun harga. Anton masih berusaha berpikir positif dan menganggap daya beli pasar mungkin sedang turun.
Kondisi terus memburuk selama sekitar enam bulan. Sejumlah karyawan di bagian produksi mulai jatuh sakit dan dua orang kemudian mengalami kondisi yang oleh Anton dan orang di sekitarnya dianggap sebagai kesurupan. Tak lama setelah itu, Anton sendiri merasakan sakit yang datang berulang menjelang Magrib: kepala seperti ditusuk, punggung terasa berat, leher sulit digerakkan, lalu tubuh kembali normal beberapa waktu kemudian. Ia tetap mengira semua itu disebabkan kelelahan.
Suatu pagi setelah salat Subuh, sakit di perut Anton semakin parah. Ia merasa seperti ada sesuatu yang meremas dari dalam dan memaksanya muntah. Ketika muntah, ia mengaku melihat cairan hitam menggumpal bersama sesuatu yang menyerupai gulungan rambut dan benda-benda kecil seperti klip. Karena keluhan kembali muncul pada hari berikutnya, seorang rekannya yang disamarkan dengan nama Mang Dower membawanya ke rumah sakit. Menurut Anton, pemeriksaan saat itu tidak menemukan penyakit yang dianggap dapat menjelaskan seluruh keluhannya.
Atas saran orang di sekitarnya, Anton kemudian menemui seorang pria yang ia panggil Abah di daerah Brebes, Jawa Tengah. Setelah menjalani proses doa dan meminum air yang telah didoakan, Anton mengaku merasakan seperti ada sesuatu bergerak dari perut menuju kepala sebelum akhirnya keluar. Proses tersebut berlangsung hingga dini hari. Ia merasa tubuhnya lebih ringan, tetapi masalah utama belum selesai karena omzet usahanya tetap jatuh dan cicilan bank terus berjalan.
Dalam keadaan semakin terdesak, Anton kembali meminta bantuan Mang Dower. Awalnya ia ingin mencari semacam pengasihan agar jalan usahanya kembali terbuka. Saat kembali menemui Abah, ia diberi dua pilihan yang digambarkan sebagai “jalan kanan” dan “jalan kiri”. Anton terlebih dahulu memilih jalan kanan. Ia diminta membawa kembang tujuh rupa, dupa, dan bunga kantil, kemudian menjalani mandi bunga sebelum melakukan meditasi sendirian di sebuah tempat menyerupai gua.
Saat bermeditasi di mulut gua, Anton mengaku mencium aroma bunga dan minyak yang sangat kuat sebelum lingkungan di hadapannya berubah seperti sebuah pendopo dengan gapura dan dinding berwarna keemasan. Di dalamnya ia melihat seorang perempuan cantik berkebaya hijau dan memakai mahkota. Sosok itu bertanya tujuan Anton datang. Ketika Anton mengatakan ingin mencari pesugihan, perempuan tersebut justru menyuruhnya pergi dan mengatakan tempat itu bukan untuk mencari kekayaan ataupun pengasihan.
Anton tetap bertahan hingga sosok perempuan tersebut menurut kesaksiannya melempar benda seperti tusuk konde. Sesaat kemudian ia tersadar dan mendapati bagian tubuhnya terasa sakit serta memerah. Setelah kembali ke rumah Abah dan menceritakan kejadian tersebut, lukanya diobati. Namun karena kondisi usaha sudah semakin hancur dan aset mulai dijual untuk menutup cicilan, Anton kembali memikirkan pilihan lain yang sebelumnya disebut sebagai jalan kiri.
Sekitar sebulan kemudian, Anton memutuskan kembali menemui Abah dan mengatakan siap menempuh jalur yang lebih ekstrem. Kali ini ia diberi persyaratan utama berupa sepasang burung gagak jantan dan betina, kembang tujuh rupa, dupa, bunga kantil, serta baki. Abah juga memberi pesan bahwa gagak harus diperoleh sebagai sepasang dan Anton tidak boleh menawar harga yang diberikan penjual.
Anton mengaku membutuhkan beberapa hari untuk mencari burung tersebut di pasar hewan. Setelah berkeliling, ia akhirnya menemukan sepasang gagak dalam satu kandang dan membelinya dengan harga sekitar Rp7 juta tanpa menawar. Tiga hari kemudian ia kembali ke rumah Abah membawa seluruh perlengkapan. Setelah mandi bunga dan memakan satu bunga kantil, Anton diarahkan menuju lokasi ritual yang berbeda, berupa sebuah curug di tengah perbukitan.
Malam pertama, Anton berjalan sendiri menuruni jalur gelap menuju curug sambil membawa gagak dan perlengkapan ritual. Setelah menata sesajen dan mulai bermeditasi, ia mengaku mencium bau amis seperti darah serta mendengar suara percakapan yang semakin ramai. Ketika membuka mata, pemandangan curug menurut penglihatannya berubah menjadi pasar tradisional yang dipenuhi sosok-sosok tidak biasa, termasuk makhluk berkaki sapi dengan tubuh manusia dan sosok bertubuh manusia berkepala kambing.
Pemandangan yang dilihat Anton semakin mengerikan ketika ia mengamati lapak-lapak di pasar tersebut. Menurut kesaksiannya, benda yang tergantung di tempat penjualan daging terlihat menyerupai bagian tubuh manusia, sementara di bagian bawah tampak sesuatu seperti jari-jari. Beberapa makhluk mendekat lalu mundur tanpa berbicara kepadanya. Ketika azan Subuh terdengar, seluruh suasana pasar menghilang dan tempat itu kembali menjadi curug seperti semula. Anton pulang karena sosok yang dicari belum muncul.
Pada malam kedua, gangguan selama perjalanan disebut semakin berat. Anton mengaku kakinya seperti ditahan tangan hitam yang panjang, lalu melihat sosok menyerupai pocong sebelum sampai ke curug. Saat bermeditasi, tubuhnya terasa dililit sesuatu dan ia melihat makhluk setengah ular dengan bagian atas menyerupai nenek tua bertaring. Setelah pasar ghaib kembali terlihat, Anton bertemu penjual tua yang menawarkan makanan yang menurut penglihatannya berisi bagian tubuh manusia. Namun sampai azan Subuh, sosok utama yang ditunggu masih belum datang.
Malam ketiga menjadi kesempatan terakhir. Abah meminjamkan sebuah gelang yang menurut keterangannya akan membuat penglihatan Anton lebih terbuka. Dalam perjalanan, Anton mengaku dapat melihat berbagai penampakan dengan lebih jelas, mulai dari pocong, kuntilanak, hingga kerangka manusia. Ketika tiba di curug dan mulai bermeditasi, pasar ghaib kembali muncul, tetapi suasananya justru lebih sepi dibandingkan dua malam sebelumnya.
Dari kejauhan, Anton kemudian melihat sosok besar berbulu datang sambil menggeram. Menurut Anton, makhluk itu memerintahkannya memakan gagak yang sudah dibawa. Anton mengambil gagak jantan, menggigit bagian lehernya, mengisap darah, lalu memakan sebagian tubuhnya. Ia mengaku rasa yang awalnya amis berubah terasa manis dan dagingnya seperti sudah diolah. Pada saat yang sama, ia melihat tumpukan uang sudah muncul di dalam baki yang dibawanya.
Setelah gagak jantan dimakan, Anton diminta melanjutkan dengan gagak betina. Namun ketika hendak menggigit leher burung kedua, ia tiba-tiba teringat wajah ibunya. Semangat dan ambisi yang sebelumnya begitu kuat langsung hilang. Anton merasa mual, meletakkan kembali gagak tersebut, lalu memuntahkan apa yang sebelumnya ia makan. Saat itulah ia mengaku mencium bau busuk seperti bangkai, sementara tumpukan uang yang tadi terlihat berubah menjadi daun.
Anton kembali menemui Abah dan menjelaskan bahwa dirinya tidak sanggup melanjutkan ritual karena teringat ibunya. Menurut penjelasan Abah dalam kesaksian Anton, risiko dari jalur kiri tersebut adalah pengorbanan orang terdekat, dan karena Anton belum menikah maka sasaran yang disebut mengarah kepada ibunya. Mendengar hal itu, Anton memilih berhenti. Ia mengatakan masih sanggup menanggung kegagalan usaha, tetapi tidak sanggup menerima jika keluarga harus menjadi korban demi kekayaan.
Selama sekitar tiga bulan setelah ritual, Anton mengaku tubuhnya sering lelah, pikirannya gelisah, rezekinya semakin seret, dan ia merasa bisa melihat tanda-tanda tertentu pada pedagang yang menurut keyakinannya memakai pesugihan. Seorang kenalan bernama Abi kemudian membantunya melakukan pembersihan melalui mandi besar, salat tobat, wirid, dan memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Setelah beberapa hari, Anton merasa tubuh dan pikirannya jauh lebih tenang. Ia kemudian kembali memulai hidup dari nol dan sekarang memilih mencari rezeki melalui pekerjaan biasa. Dari pengalaman tersebut, Anton berpesan agar orang tidak mengejar pesugihan atau persekutuan dengan makhluk ghaib ketika usaha sedang terpuruk, karena jalan pintas yang terlihat menjanjikan menurutnya justru dapat membahayakan diri sendiri dan keluarga.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
