Pada 2005, Mas Budi menjalankan usaha kerajinan rumahan di Tegal yang diwariskan dari orang tuanya. Ia membuat berbagai perlengkapan berbahan aluminium dan seng seperti langseng, loyang, hingga kebutuhan pedagang angkringan. Usaha tersebut sempat berkembang cukup baik dengan sekitar enam toko langganan dan dua orang karyawan yang membantunya menyelesaikan pesanan. Untuk mendapatkan bahan baku, Budi melanjutkan kebiasaan orang tuanya berbelanja di sebuah toko milik pasangan yang ia panggil Pak Haji dan Bu Haji.
Hubungan Budi dengan Pak Haji pada awalnya sangat baik karena keluarganya sudah lama menjadi pelanggan. Ketika Budi membeli bahan dalam jumlah tertentu, Pak Haji beberapa kali sengaja memberikan barang lebih banyak dari pesanan. Budi sempat menolak karena khawatir mempunyai tunggakan, tetapi Pak Haji selalu mengatakan pembayaran dapat dilakukan belakangan karena mereka sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Situasi serupa terus berulang ketika Budi membeli aluminium, seng, maupun bahan lainnya.
Saat usaha Budi sedang ramai, tambahan barang itu tidak terlalu terasa sebagai masalah. Namun kondisi berubah ketika pesanan mulai menurun dan sejumlah toko langganannya tidak lagi membayar secara penuh. Perputaran uang terganggu, sementara tagihan bahan baku kepada Pak Haji terus bertambah. Menurut Budi, utangnya akhirnya mencapai sekitar Rp20 juta. Ia sempat mencicil sebagian sehingga masih mempunyai sisa kewajiban yang cukup besar ketika usahanya semakin sepi.
Di tengah kondisi tersebut, Pak Haji dan Bu Haji datang berkunjung ke rumah Budi. Ketika anak laki-laki Budi yang saat itu berusia sekitar lima tahun keluar meminta uang jajan, Bu Haji memanggilnya, memuji wajahnya, lalu memberikan uang Rp10 ribu. Budi tidak merasa ada sesuatu yang aneh. Beberapa hari kemudian ia hanya mulai mencium aroma bunga atau minyak wangi di area belakang rumah yang biasa digunakannya untuk bekerja.
Pak Haji dan Bu Haji kemudian kembali berkunjung. Dalam pertemuan tersebut, Bu Haji tiba-tiba mengatakan ingin meminta “itik lanang” milik Budi karena menurutnya bagus. Budi kebingungan karena merasa tidak pernah memelihara itik dan sempat menanyakan dari mana Bu Haji melihat hewan tersebut. Bu Haji tidak memberikan penjelasan dan hanya tersenyum sebelum akhirnya pulang. Saat itu Budi masih tidak memahami maksud ucapan tersebut.
Sekitar tiga hari kemudian, perilaku anak Budi mulai berubah. Anak yang sebelumnya aktif bermain menjadi lebih banyak diam, melamun, sulit makan, dan tidak bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari. Pada suatu malam Selasa Kliwon, istri Budi mencium aroma bunga sangat kuat dari kamar anak mereka. Beberapa hari setelahnya sang anak mengalami demam, pandangannya kosong, lalu sempat kejang sehingga Budi membawanya berobat ke dokter karena mengira kondisi tersebut merupakan sakit biasa.
Gangguan justru berulang hampir setiap malam. Menjelang tengah malam, anak Budi sering terbangun sambil menatap ke atas dan berteriak ketakutan seakan melihat sesuatu. Ia terus mengatakan ada hantu atau sosok menyeramkan di sekitarnya. Bagian hitam matanya menurut pengamatan keluarga terlihat semakin kecil dan pandangannya terus kosong. Budi dan istrinya semakin khawatir karena setelah beberapa kali mendapat pengobatan, teror malam yang mereka ceritakan tetap terjadi.
Karena kondisi tersebut, keluarga mencoba mencari pertolongan lain kepada seseorang yang dipanggil Abah di daerah Slawi. Setelah melihat keadaan anak Budi, Abah mengatakan menurut penafsiran spiritualnya ada makhluk halus yang menyukai sang anak dan ingin membawanya. Budi meminta apa pun yang dapat dilakukan agar anaknya kembali sehat. Ia kemudian diberi sebuah buntelan yang harus dikuburkan di samping rumah pada waktu tertentu tanpa diketahui orang lain.
Budi menjalankan petunjuk tersebut pada malam hari. Ketika menggali tanah dan menguburkan buntelan, ia mengaku merasakan suasana udara berubah serta mencium aroma bunga dan minyak yang mengingatkannya pada bau di sekitar orang meninggal. Namun malam berikutnya anaknya kembali menjerit ketakutan. Kondisi tersebut membuat Budi semakin terpukul sampai akhirnya orang tuanya ikut tinggal di rumah beberapa malam untuk membantu menjaga cucunya.
Gangguan kemudian semakin terasa bagi anggota keluarga lain. Istri Budi suatu malam mengaku melihat bayangan perempuan berambut panjang melintas di sekitar rumah. Mereka juga mulai mendengar bunyi-bunyi aneh serta mencium aroma yang terkadang wangi tetapi pada waktu lain berubah menjadi bau tidak sedap. Karena kondisi sang anak belum membaik, keluarga akhirnya membawa Budi menemui seorang perempuan yang mereka panggil Ibu Nyai melalui bantuan pamannya.
Saat bertemu Ibu Nyai, Budi menceritakan seluruh kejadian yang dialami keluarganya. Ibu Nyai kemudian melakukan doa atau wirid dan memberinya air dalam botol. Air tersebut diminta untuk diminumkan kepada anak Budi serta dibasuhkan ke wajahnya, dengan pesan agar persediaannya tidak sampai benar-benar habis sebelum ditambahkan air baru. Menurut Budi, setelah pertama kali meminum air tersebut, anaknya yang sebelumnya sulit tidur akhirnya dapat beristirahat dengan lebih tenang.
Meski demikian, kejadian aneh belum berhenti. Pada suatu malam Jumat, anak Budi kembali berteriak ketakutan. Kali ini istrinya ikut melihat sosok yang digambarkan sangat tinggi dan besar, bermata merah menyerupai api. Setelah mendengar cerita itu, ayah Budi meminta dirinya mengingat kembali apakah pernah mempunyai persoalan dengan seseorang. Barulah Budi teringat ucapan Bu Haji mengenai “itik lanang” beberapa waktu sebelumnya.
Menurut penafsiran ayah Budi, istilah “itik lanang” yang diucapkan Bu Haji bukan merujuk kepada seekor itik, melainkan kepada anak laki-laki Budi. Sang ayah menduga cucunya hendak dijadikan korban dalam praktik tertentu. Budi langsung teringat seluruh rangkaian kejadian sejak kunjungan pasangan tersebut dan menjadi sangat marah. Ketika persoalan itu kembali disampaikan kepada Ibu Nyai, ia hanya meminta Budi tetap tenang dan fokus terlebih dahulu pada keselamatan anaknya.
Ibu Nyai kemudian memberikan tiga buntelan kecil berlapis kain yang diminta dipasang di atas pintu depan, pintu tengah, dan pintu belakang rumah sebelum Magrib. Keluarga juga diminta bergantian berjaga selama tujuh malam dan tidak membiarkan seluruh penghuni rumah tidur bersamaan. Pada malam-malam tersebut anak Budi masih sempat berteriak, sementara keluarga terus memberikan air yang telah didoakan dan membaca doa sebisanya.
Selama masa berjaga, istri Budi mengaku melihat seorang perempuan cantik berpakaian kebaya dengan wajah yang menurutnya sangat menyerupai Bu Haji. Pada malam lain, Budi bersama istri serta kedua orang tuanya mengaku melihat sosok tinggi besar bermata merah seperti api dan membawa rantai berada di sekitar rumah. Menurut Budi, makhluk tersebut terlihat seperti hendak meraih anaknya, tetapi kemudian menghilang setelah keluarga membaca doa dan membasuhkan air kepada sang anak.
Di tengah teror tersebut, keluarga baru kembali mengingat masalah utang Budi kepada Pak Haji. Menurut Budi, setelah sebagian pembayaran sebelumnya masih terdapat tunggakan yang belum lunas. Ayahnya menilai seluruh hubungan keuangan tersebut harus segera diselesaikan. Dengan bantuan uang dari orang tua dan keluarga, sisa utang kemudian dibayarkan kepada Pak Haji. Ayah Budi sengaja melakukan pembayaran itu sendiri karena khawatir emosi Budi akan meledak apabila bertemu langsung dengan sang pemilik toko.
Setelah tujuh malam berjaga, Budi kembali menemui Ibu Nyai. Sang Ibu Nyai kemudian datang langsung ke rumahnya membawa air yang dicampurkan dengan bunga tujuh rupa. Air tersebut dipercikkan mengelilingi rumah, sementara Ibu Nyai melakukan proses yang menurut pengamatan Budi seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak terlihat. Setelah mengelilingi rumah sebanyak tiga kali, Ibu Nyai mengatakan menurut keyakinannya sosok yang sebelumnya berusaha mendekati anak Budi sudah tidak dapat masuk dengan mudah.
Budi yang masih menyimpan kemarahan kemudian meminta agar gangguan tersebut dikembalikan kepada pihak yang menurut keyakinannya telah memulai semuanya. Ibu Nyai meminta Budi menjalani puasa selama tiga hari dan memberikan wirid untuk diamalkan. Selama proses itu, kondisi anaknya disebut berangsur membaik. Ia mulai mau makan, dapat menjawab ketika diajak berbicara, dan akhirnya menceritakan bahwa setiap malam dirinya memang merasa melihat sosok menyeramkan yang membuatnya sangat ketakutan.
Beberapa bulan kemudian Budi mendengar Bu Haji jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Saat menghadiri pemakamannya, Budi merasa Pak Haji memandang dirinya dengan ekspresi marah. Pada malam ketujuh setelah kematian Bu Haji, Budi mengaku melihat sosok perempuan yang wajahnya menyerupai Bu Haji datang menatapnya dari sekitar rumah. Beberapa waktu kemudian sosok tinggi besar kembali terlihat, kali ini menurut Budi wajahnya justru tampak menyerupai Pak Haji. Seluruh pengalaman tersebut merupakan kesaksian pribadi Budi dan tidak dapat membuktikan bahwa sakit atau kematian keduanya disebabkan oleh ritual yang ia jalani.
Pak Haji sendiri kemudian dikabarkan jatuh sakit dan akhirnya meninggal setelah sempat menjalani perawatan. Setelah pasangan tersebut tidak ada, usaha toko bahan bangunan yang sebelumnya dikenal sangat besar disebut mengalami kemunduran dengan cepat. Gudang-gudang mulai dilepas, pekerja keluar, dan salah satu anak mereka disebut mengalami gangguan kejiwaan. Di lingkungan kampung kemudian beredar cerita bahwa kekayaan pasangan tersebut berkaitan dengan praktik pesugihan, bahkan ada yang mengaitkannya dengan sosok genderuwo. Budi menegaskan bahwa informasi mengenai pesugihan itu berasal dari dugaan warga dan pengalamannya sendiri, bukan sesuatu yang pernah dibuktikan secara resmi.
Kini anak Budi telah tumbuh remaja dan menurutnya berada dalam keadaan sehat, sementara dirinya tetap menjalankan usaha kerajinan yang dahulu diwariskan orang tuanya. Budi mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya pada 2005, tetapi pengalaman mengenai utang yang terus ditambah, permintaan “itik lanang”, penyakit anak, sosok tinggi bermata merah, hingga kemunduran usaha Pak Haji masih sangat membekas dalam ingatannya. Dari kisah tersebut ia berpesan agar orang berhati-hati dalam berutang dan mempercayai orang lain, sekaligus tidak memilih jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan karena menurutnya kekayaan yang diperoleh dengan merugikan orang lain tidak akan membawa ketenangan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
