Rumah makan sate itu berdiri mencolok di pinggir jalan Jawa Barat, lampunya terang, parkiran selalu penuh, dan antrean seperti tak pernah putus. Dari jauh, asap bakaran dan aroma dagingnya jadi semacam “panggilan” yang membuat orang menoleh, lalu berhenti, lalu ikut masuk tanpa pikir panjang.
Di tahun 2022, Neng Cila baru lulus kuliah. Ia dan sahabatnya sejak SMA sebut saja Ina sepakat mencari pengalaman kerja bareng sebelum benar-benar memilih jalur karier. Mereka menemukan lowongan magang di rumah makan sate yang sedang naik daun. Nama tempatnya sering lewat di obrolan orang, bahkan di media sosial, karena katanya “ramainya enggak normal”.
Proses diterima kerja pun terasa terlalu mudah. Interview singkat, pertanyaan seadanya, lalu dua hari kemudian langsung disuruh datang untuk tanda tangan kontrak magang tiga bulan. Neng Cila justru senang—dalam pikirannya, tempat besar dan ramai berarti pengalaman kerja akan padat dan berguna.
Hari pertama hanya pengenalan. Mereka diajak keliling: kasir, dapur, ruang cuci, ruang potong, sampai lorong belakang yang katanya tempat penyimpanan daging. Di sana ada dua shift: pagi sampai sore, dan sore sampai malam. Bosnya, yang dipanggil Pak Haji, terlihat ramah dan bicara halus—tipe pemilik usaha yang membuat orang mudah percaya.
Minggu pertama berjalan normal. Neng Cila fokus di kasir, Ina membantu kasir sekaligus kadang dipanggil jadi helper kalau dapur kewalahan. Mereka mulai paham pola ramainya pelanggan: semakin malam semakin padat, dan puncaknya justru setelah jam dua belas.
Menu paling cepat habis selalu sama: sate ayam dan sate kambing. Rasanya, menurut Neng Cila, sebenarnya biasa saja—tidak ada yang “wah” sampai harus bikin orang ketagihan. Tapi faktanya, pelanggan datang seperti arus, balik lagi seperti kebiasaan. Dan Neng Cila mulai heran: kenapa “biasa” bisa jadi “membius” bagi begitu banyak orang.
Keanehan mulai muncul saat Pak Haji tiba-tiba mengubah pembagian shift. Ina diminta masuk shift malam terus-menerus, sementara Neng Cila tetap shift pagi. Tidak ada penjelasan jelas. Karyawan lain pun tampak seperti tidak tahu apa-apa, seolah keputusan itu hanya muncul dari mulut Pak Haji dan tidak perlu dipertanyakan.
Ina menjalani beberapa malam dengan wajah mulai lelah. Katanya kerja malam sama saja, hanya lebih gelap dan lebih ramai. Tapi Neng Cila menangkap sesuatu yang berbeda dari cara Ina bercerita—seolah ada beban yang ia tahan, namun tidak berani diucapkan.
Pada hari ketiga, Neng Cila meminta izin tukar shift. Alasannya sederhana: pagi ia ada acara keluarga, jadi ia menawarkan menggantikan Ina di malam hari. Pak Haji mengizinkan dengan mudah. Neng Cila sempat lega, karena akhirnya bisa bekerja bareng lagi dengan sahabatnya—dan diam-diam ia ingin memastikan Ina baik-baik saja.
Malam itu rumah makan benar-benar “hidup”. Kasir membeludak, pesanan menumpuk, suara kompor dan panggilan dapur bersahutan. Saat keadaan makin kacau, seorang karyawan menyuruh Neng Cila dan Ina mengambil stok daging dari ruang belakang: ayam dan kambing, karena dua itu yang paling cepat habis.
Mereka masuk lewat lorong yang lampunya redup. Makin ke dalam, makin gelap. Ruang penyimpanan daging seharusnya terang, rapi, steril—tapi tempat itu justru seperti sengaja dibiarkan muram. Bau amis menempel di tenggorokan, dinginnya bukan dingin kulkas biasa, lebih seperti hawa lembap yang membuat dada sesak.
Neng Cila mengambil daging ayam. Ina jongkok mengambil daging kambing. Saat Neng Cila menoleh untuk mengajak Ina keluar, ia melihat sosok berdiri di samping Ina—tinggi, berbulu, tubuhnya seperti manusia, namun kepalanya kambing lengkap dengan tanduk dan moncong. Sosok itu diam, tapi auranya menekan, seakan sedang “mengawasi” siapa yang masuk ke wilayahnya.
Neng Cila memanggil Ina dengan suara tertahan. Ina menoleh, tapi mengaku tidak melihat apa-apa. Bagi Ina, ruangan itu hanya gelap. Bagi Neng Cila, ruangan itu seperti sedang memperlihatkan rahasia yang tidak seharusnya dilihat.
Mereka buru-buru keluar. Neng Cila masih gemetar, tapi Ina mencoba menenangkan. Mereka kembali bekerja sampai jam tutup. Saat akan pulang, om yang biasanya menjemput Ina tidak bisa dihubungi. Akhirnya Ina ikut pulang bersama Neng Cila dan ayah Neng Cila. Di perjalanan, Neng Cila baru sadar wajah Ina pucat sekali, tangannya dingin, dan keringatnya berlebihan—seperti orang yang bukan sekadar lelah, melainkan baru saja “disentuh” sesuatu.
Besoknya Ina tidak masuk kerja. Pesan Neng Cila tidak dibalas. Hari kedua, tetap tidak ada kabar. Sementara itu, Pak Haji justru terlihat tenang—tidak mencari, tidak menanyakan, tidak menunjukkan kekhawatiran, seolah absennya Ina bukan masalah.
Neng Cila akhirnya datang ke rumah Ina. Ibunya bilang Ina panas tinggi sejak malam pulang, lalu mengigau minta tolong. Kondisinya aneh: tubuh dingin tapi berkeringat, pucat, seperti terkuras. Keesokan harinya, di depan Neng Cila, Ina tiba-tiba menjerit dan menangis ketakutan. Kata-katanya hanya “tolong” berulang-ulang, tubuhnya menggeliat seperti kesakitan yang tidak kelihatan sebabnya.
Di titik itu, ingatan Neng Cila menyambung ke satu kejadian yang dulu ia anggap sepele. Pada minggu pertama magang, saat ia kembali ke belakang mengambil ponsel yang tertinggal, ia sempat melihat Pak Haji di pojok ruangan gelap dekat lorong daging. Pak Haji jongkok, di depannya ada mangkuk berisi jeroan ayam. Tangannya mengusap-ngusap jeroan itu sambil menatap ke atas, seperti membaca sesuatu dalam hati. Neng Cila waktu itu memilih pergi—takut, bingung, dan tak berani menegur.
Sekarang, potongan itu terasa seperti petunjuk yang telat. Neng Cila menyimpulkan sendiri: rumah makan itu bukan sekadar usaha kuliner. Ada “penguat” lain yang membuat sate terasa seperti punya magnet. Dan Ina, yang dipaksa shift malam terus, terasa seperti sedang dijadikan tumbal pelan-pelan—diposisikan dekat sumbernya, dikenalkan, lalu “dipilih”.
Neng Cila tidak tahan. Ia kembali ke rumah makan, mengikuti Pak Haji ke belakang, dan berani menekan dengan pertanyaan. Saat Neng Cila menyebut soal jeroan ayam dan menuduh ada pesugihan, wajah Pak Haji berubah. Ia panik, suaranya meninggi, dan mulai mengusir. Keributan terdengar karyawan lain, dan Neng Cila akhirnya dipisahkan—namun sejak malam itu, Neng Cila diputus kontraknya. Ia tidak boleh masuk lagi.
Masalahnya, gangguan tidak berhenti. Neng Cila jatuh sakit. Badannya berat, keringat dingin, dan setiap tidur ia bermimpi Ina ditarik-tarik sosok kepala kambing di ruangan gelap. Dalam mimpi itu, Ina menangis menolak, sementara Neng Cila tidak bisa bergerak, hanya menonton seperti orang diborgol oleh ketakutan.
Keluarga Neng Cila memanggil orang yang paham penanganan spiritual, Pak Kemis. Setelah mendengar cerita, Pak Kemis menyebut ini “bisa jadi pesugihan” dan menyarankan tindakan pembersihan. Neng Cila menjalani proses yang membuatnya seperti terlempar ke alam mimpi yang lebih nyata dari mimpi: hutan gelap, lingkaran makhluk-makhluk menyeramkan, dan Ina terkapar di tengahnya. Dengan bimbingan suara Pak Kemis, Neng Cila seperti “dituntun” untuk menarik Ina keluar dari lingkaran itu—lari tanpa ujung sampai cahaya putih menutup semuanya.
Neng Cila terbangun dengan tubuh lemas, tapi dadanya terasa lebih ringan. Beberapa hari kemudian, Ina perlahan membaik. Saat Neng Cila akhirnya diizinkan menjenguk, Ina sudah bisa duduk dan berbicara normal—meski wajahnya masih pucat, seperti orang yang baru pulang dari perjalanan jauh yang tidak ia ingat.
Kabar dari karyawan lain menyebut mereka juga pernah menemukan barang-barang mencurigakan di belakang: kemenyan, jeroan, dan hal-hal yang tidak lazim untuk rumah makan. Seiring waktu, rumah makan yang dulu viral dan membeludak mulai sepi. Dalam beberapa bulan, omset turun tajam. Lalu tempat itu benar-benar tutup—bangkrut.
Neng Cila memilih tidak pernah mendekat lagi. Ia trauma, tapi juga bersyukur: ia dan Ina selamat sebelum semuanya terlambat. Dari kejadian itu, Neng Cila memegang satu pelajaran yang pahit—kalau rezeki dipaksa datang lewat jalan gelap, yang ditagih sering kali bukan uang, tapi manusia. Dan ketika manusia sudah masuk hitungan, rasa ramai dan viral itu bukan lagi pertanda sukses… melainkan pertanda ada sesuatu yang sedang diberi makan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.