Mbak Diana mengingat kisah ini seperti bekas luka yang tidak pernah benar-benar kering. Tahun 2017, ia masih menjalani hari-harinya sebagai perias jenazah—pekerjaan yang membuatnya terbiasa berhadapan dengan kematian, tapi tetap saja tidak kebal ketika horor datang dari orang yang ia kenal sejak kecil.
Sore itu, pintu rumah Mbak Diana diketuk bertubi-tubi. Begitu dibuka, yang berdiri di depan adalah Rahmat, teman lamanya. Wajah Rahmat kusut, tatapannya seperti orang yang sudah terlalu lama menahan sesak. Ia tidak datang untuk sekadar kangen-kangenan, melainkan membawa beban yang nyaris menjatuhkan seluruh hidupnya.
Rahmat bercerita tentang keluarganya yang pecah. Orang tuanya berpisah karena ayahnya memilih perempuan lain yang lebih muda. Sejak itu, Rahmat dan ibunya terpaksa hidup terpisah, ikut mengontrak, sementara sang ayah tetap memegang usaha ayam bakar yang dulu dibangun bersama. Yang paling menyakitkan, ayahnya mengancam: ibunya tidak boleh membuka usaha ayam bakar yang sama, padahal ibunya justru yang paham racikan bumbu, paham resep, paham cara menjaga rasa.
Rahmat melihat ibunya seperti kehilangan nyawa pelan-pelan. Bukan meninggal, tapi hidup tanpa semangat, selalu takut, selalu tertekan. Setiap hari pelanggan lama bertanya, “Ke mana ibu yang dulu?” dan Rahmat tidak tahu harus menjawab apa selain menelan malu dan marah.
Di titik itu, Rahmat mengaku tidak memikirkan jalan “baik-baik”. Yang ia pikirkan cuma dua: mengangkat ibunya kembali, dan membuat ayahnya merasakan sakit yang sama. Balas dendam menjadi bahan bakar. Dan ketika seseorang sudah mentok, ia mudah percaya pada pintu apa pun yang menjanjikan hasil instan.
Rahmat lalu meminta Mbak Diana mengantarnya ke Banyuwangi, menemui bibinya yang dianggap “punya jalur” untuk urusan semacam itu. Perjalanan darat panjang mereka tempuh dengan sewa mobil seadanya. Sepanjang jalan, Rahmat tidak banyak menjelaskan. Ia hanya berulang kali bilang: Mbak Diana akan tahu nanti, dan Rahmat hanya percaya pada dia.
Malam pertama mereka menginap di rumah sang bibi. Di ruang tamu, Rahmat akhirnya membuka niatnya: ia ingin dibawa ke “istana gua” di Alas Purwo. Bibi Rahmat mengangguk seolah ini bukan hal baru, lalu menyebut satu nama yang membuat Mbak Diana merinding: Mbah Untung—orang yang akan jadi perantara untuk penglaris sekaligus pesugihan.
Keesokan harinya mereka berangkat menuju lokasi yang ternyata jauh dari gambaran tempat keramat yang “ramai”. Mereka tiba di kawasan hutan yang sepi, lalu berjalan masuk ke area batu-batu besar dengan lubang sempit. Untuk masuk, mereka harus menunduk, menyusuri jalan licin, sampai akhirnya tiba di bagian dalam gua yang luas, remang oleh obor, dan penuh aroma minyak serta kemenyan.
Di dalam gua, Mbah Untung duduk seperti menanti. Ada juga seorang perempuan tua yang membantu—membawa sesaji, menebar bunga, melantunkan kidung lirih yang merdu tapi menekan. Rahmat menceritakan semuanya: keluarganya hancur, ibunya diintimidasi, ia ingin membuka usaha ayam bakar yang sama, dan ia ingin ayahnya “kena”.
Mbak Diana sempat menegur Rahmat pelan, menyebut keinginannya terlalu jauh. Tapi Rahmat sudah seperti orang yang dikunci oleh dendam. Ia tidak mau mundur.
Ritual dimulai dengan cara yang membuat Mbak Diana makin tidak nyaman. Rahmat diminta berganti pakaian, lalu berendam dalam wadah air di belakang “singgasana” Mbah Untung. Kidung mengalun, bunga ditebar, dan suasana berubah: angin tiba-tiba berembus kencang, obor bergoyang, lalu wangi asing muncul begitu saja—wangi yang tidak seperti bunga biasa.
Di momen itu, Mbak Diana melihat sesuatu muncul di belakang Rahmat: sosok perempuan yang sangat cantik namun membuat tubuh terasa dingin. Cantiknya seperti bukan milik dunia biasa—dan justru karena itu, terasa menyeramkan. Mbah Untung menyuruh Rahmat memejam, mengucap niat dalam hati, dan menjalani rangkaian yang tidak bisa Mbak Diana jelaskan tanpa menggigil.
Sesudahnya, mereka kembali duduk. Mbah Untung memberi Rahmat beberapa “pegangan” untuk dua tujuan: menekan sang ayah, sekaligus mengunci larisnya ayam bakar. Namun bersamaan dengan itu, muncul syarat yang terdengar seperti palu: setiap satu tahun, tepat di momen weton/ulang tahun Rahmat, harus ada “harga nyawa” dari lingkar keluarga sedarah. Rahmat diminta menyanggupi. Dan Rahmat—dengan ambisi yang sudah menelan akal—mengangguk.
Mbak Diana pulang dengan kepala penuh kabut. Ia berharap Rahmat akan sadar dan mundur. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: Rahmat pulang dan memaksa ibunya membuka lapak lagi. Ia mengatur semuanya, menenangkan ibunya, bahkan meminta Mbak Diana datang agar ibunya tidak curiga saat Rahmat “menyiapkan” hal-hal tertentu.
Hari pertama jualan membuat Mbak Diana terkejut. Arang baru ditata, ayam belum sempat dibakar, tapi pembeli sudah datang, memesan dalam jumlah besar. Dalam beberapa jam, antrean membentuk waiting list yang tidak wajar—seperti orang-orang datang bukan karena lapar, melainkan seperti “kepincut” sesuatu. Asap ayam bakar menyebar, dan makin jauh asap itu berjalan, makin banyak orang berdatangan.
Rahmat hanya tersenyum. Ia seakan tahu ini baru permulaan.
Hari kesepuluh, ayah Rahmat datang ke lapak dan marah besar. Ia merasa pelanggan “direbut”. Rahmat menahan diri, pura-pura menunduk, lalu mengatur skenario agar ia bisa memberi “buah tangan” kepada ayah dan istri mudanya. Tidak lama setelah itu, kabar beredar: sang ayah jatuh sakit, batuknya parah, lalu tidak sanggup berjualan seperti dulu.
Waktu berjalan, dan rasa “kemenangan” Rahmat semakin memabukkan. Dalam hitungan bulan, motor cash muncul. Lalu mobil. Lapak makin ramai. Karyawan bertambah. Dan Rahmat makin sering bicara soal satu hal: weton.
Tiga hari menjelang weton pertamanya, Rahmat bermimpi didatangi sosok tinggi besar yang mengingatkan tagihan. Rahmat panik dan menebak-nebak siapa yang akan diambil. Ia sempat menyebut nama kakaknya—dan pada hari weton itu, kabar duka benar-benar datang. Kakak Rahmat meninggal dengan cara yang membuat keluarga dan tetangga bergunjing: jatuh di kamar mandi, tubuh seperti gosong, tidak wajar. Di tengah duka, Rahmat justru mencari “tanda” yang pernah disebut Mbah Untung: di panci khusus yang dipakai urusan bumbu.
Dan di sana, Rahmat menemukan uang.
Sejak itulah, kejadian berulang seperti pola yang ditulis rapi. Di weton berikutnya, korban jatuh lagi: kakak yang satu lagi menyusul, dengan kondisi jenazah yang juga menimbulkan tanda tanya. Ibunya terpukul sampai nyaris hancur. Tapi Rahmat—entah karena dendam, entah karena sudah kehilangan kendali—justru semakin yakin bahwa “jalur” itu bekerja.
Rahmat sempat menikah ketika merasa sudah mampu. Namun pernikahannya cepat retak. Istrinya merasa Rahmat berubah: uang ada, tapi kasih sayang kosong. Rahmat menyembunyikan banyak hal, termasuk kebiasaan-kebiasaan aneh di dapur yang tidak boleh diusik siapa pun. Istrinya pergi, Rahmat tidak peduli.
Di tahun ketiga, firasat buruk datang lebih berat. Menjelang weton, Rahmat justru terlihat sangat lengket pada ibunya, seperti orang yang takut kehilangan. Dan benar: pada hari itu, ibunya mendadak ketakutan, menunjuk pojok ruangan, seolah ada sesuatu mendekat untuk mencekik. Rahmat tidak melihat apa pun, tapi ia menyaksikan ibunya kesakitan, meronta, lalu meninggal di depan matanya sendiri.
Kali ini Rahmat tidak mampu menertawakan konsekuensi. Yang diambil adalah satu-satunya orang yang ia klaim ingin ia selamatkan.
Rahmat ngamuk. Ia berangkat kembali ke Banyuwangi, menuntut penjelasan, tapi ia justru bertemu kenyataan paling pahit: perjanjian tidak bisa dibatalkan hanya dengan marah. Setelah itu hidup Rahmat runtuh cepat—bukan runtuh pelan seperti orang bangkrut, tapi runtuh seperti orang yang putus tali waras.
Ia mulai berhalusinasi, seperti melihat ibunya lewat, mendengar jeritan, merasakan rumahnya jadi berat. Uang yang dulu ia banggakan malah ia hamburkan. Kadang ia menyawer tetangga, kadang ia menghilang berhari-hari. Rumahnya kosong, usahanya mati, dan ia seperti manusia yang berjalan tanpa arah.
Orang kampung akhirnya tahu sebabnya bukan dari pengakuan Rahmat, melainkan dari serpihan yang tertinggal: kotak berisi benda-benda “pegangan” dan catatan yang menjadi bahan gunjingan. Dari situlah cerita menyebar—bahwa larisnya ayam bakar itu bukan semata rasa, melainkan sesuatu yang ditanam melalui perjanjian.
Mbak Diana menutup kisah ini dengan satu pesan yang ia ulang berkali-kali: jalan gelap mungkin memberi hasil cepat—antrean panjang, uang datang, gengsi naik—tapi ia selalu menagih. Dan ketika tagihan itu tiba, yang diambil bukan sekadar harta, melainkan orang-orang terdekat, kewarasan, dan masa depan yang akhirnya hancur sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
