Kampung Cungkring (nama samaran) pernah hidup dalam suasana yang ganjil: siang hari tampak biasa, tapi malamnya seperti diselimuti ketakutan yang tidak bisa dijelaskan. Warga berbisik tentang bayi-bayi yang meninggal mendadak, tentang bekas hitam seperti cambukan di punggung, dan jejak cakar yang ukurannya melebihi tangan manusia. Desas-desusnya mengarah pada satu hal: pesugihan kuntilanak yang konon sudah turun-temurun lebih dari seratus tahun.
Kesaksian ini datang dari Mas Marcel, seorang terapis panggilan yang mengaku sejak kecil punya kepekaan melihat hal-hal tak kasat mata. Tahun 2023, Marcel datang ke kampung itu karena kakaknya, Mas Dika, sedang menunggu istrinya—Mbak Ros—melahirkan. Marcel berniat membantu, menenangkan keluarga, sekaligus berjaga kalau ada hal yang tidak diinginkan.
Di rumah mertua kakaknya, Marcel sempat mendengar obrolan tetangga yang menggunjingkan kematian bayi-bayi di kampung itu. Ia memilih diam, jadi pendengar saja. Tapi obrolan itu makin mengusik ketika disebutkan polanya selalu sama: ada bayi meninggal, besoknya “ada yang” mendadak beli rumah atau ruko. Seolah kematian itu bukan musibah acak, melainkan bagian dari skema.
Malam kelahiran tiba. Mbak Ros dibawa ke rumah bidan di kampung seberang. Lokasinya juga membuat bulu kuduk berdiri: kiri-kanan ada rumah besar kosong terbengkalai, depannya kebun luas dengan pohon beringin dan pohon asam, suasananya sunyi dan dingin meski belum larut. Marcel, Mas Dika, dan Mas Anton menunggu di luar sambil merokok, mencoba menahan tegang.
Di sela menunggu, Mas Anton tiba-tiba merinding hebat dan menunjuk ke atas. Marcel menengadah—dan melihatnya jelas: beberapa kuntilanak bergelantungan di kabel listrik yang melintang antar tiang. Jumlahnya lima: ada yang putih, ada yang hitam, ada yang merah. Marcel menahan panik, justru mencoba menenangkan suasana, menyuruh mereka tidak meladeni. Anehya, kuntilanak-kuntilanak itu seperti memperhatikan Marcel, lalu perlahan menjauh setelah Marcel bicara soal adab dan tidak menyembah.
Bayi lahir normal. Setelah proses selesai, Marcel diminta mengadzani dan mengiqamahi ponakannya. Mereka pulang ke Kampung Cungkring dengan becak, sementara Marcel berjalan kaki. Namun gangguan belum berhenti—di jalan, muncul “kelelawar” besar yang bergerak aneh, tidak seperti kelelawar biasa. Marcel menduga itu jelmaan, dan ia memilih bersikap sopan: meminta permisi agar rombongan tidak diganggu.
Sepulangnya, Marcel masih sempat terapi panggilan ke tempat lain. Tapi malam itu kakaknya kembali mengabari: ada bahaya. Marcel buru-buru balik ke Kampung Cungkring, dan di tengah jalan ia justru melihat seseorang berlari ketakutan—dikejar sosok menyeramkan dengan cakar panjang dan wajah rusak. Marcel panik, refleks melompat ke muara untuk menyelamatkan diri. Saat itulah ia mulai yakin: yang diceritakan warga bukan sekadar isu.
Di rumah, keluarga menceritakan kejadian lain: ada anak kecil di kampung yang tiba-tiba melotot, pucat, napas seperti hilang—seolah “ditarik” sesuatu. Marcel memilih jalan yang ia bisa: mengumpulkan keluarga, menyiapkan media air, lalu meditasi mencari petunjuk. Saat proses itu berlangsung, Marcel melihat sesuatu yang lebih mengerikan: kuntilanak berkerumun seperti orang mengantre, banyak sekali, namun warga lain tidak ada yang melihat.
Marcel mencoba menguatkan diri. Ia meminta keluarga fokus doa, sementara ia mencari cara menahan serangan. Dalam salah satu momen, ia melihat kuntilanak nyaris mencengkeram ponakannya di dalam kamar. Ketika Marcel menegur, sosok itu berhenti dan menatapnya. Marcel sempat lari karena refleks takut, lalu mendengar suara laki-laki tak terlihat menegur: “Buat apa punya kemampuan kalau masih lari?” Kalimat itu seperti menampar, memaksa Marcel berdiri lagi.
Keluarga ikut membantu dengan cara sederhana yang dipercaya warga: membawa sapu lidi dan besi tajam. Konon, makhluk itu takut benda tajam. Marcel menyaksikan cara kuntilanak menghilang yang janggal: tubuhnya mengecil, makin kecil, lalu seperti berubah jadi cicak. Dari situ Marcel mengaitkan dengan keyakinan warga bahwa makhluk pengganggu bisa menyamar jadi hewan kecil di dalam rumah.
Penyelidikan Marcel berlanjut. Dari beberapa warga dan kerabat, muncul nama yang terus disebut: Mak Ireng (samaran). Katanya, Mak Ireng bukan “pencari” awal, melainkan penerus. Warisan itu turun dari nenek—yang dulu mengambilnya dari Gunung Kawi dan Alas Roban—lalu turun ke ibunya, lalu ke kakaknya, dan setelah kakaknya meninggal, Mak Ireng terpaksa meneruskan. Tradisi gelap yang konon sudah tiga generasi, lebih dari seratus tahun.
Bukti-bukti yang diceritakan warga semakin mengerikan. Ada yang mengaku melihat Mak Ireng di dunia nyata hanya duduk membenahi rambut, tapi di CCTV wujudnya terlihat seperti kuntilanak. Ada pula kisah masa kecil: Mak Ireng pernah “memijat” seorang anak, namun tangan pijatnya justru mengarah ke leher seperti hendak mencengkeram—hingga orang tua anak itu menampar dan memaki. Malamnya, teror datang ke rumah yang berani membentak.
Puncaknya terjadi ketika Marcel berhadapan langsung dengan Mak Ireng di gang. Marcel mengaku suasana mendadak berubah seperti masuk dimensi lain: gelap, ada tirai hitam, rantai besar, dan anak-anak kecil yang dibelenggu sambil menangis minta tolong. Marcel ingin menolong, tapi ia diseret sosok-sosok perempuan. Dalam kekacauan itu, datang bantuan sosok tak terlihat yang Marcel sebut “Madaji”—memberinya “pisau” seperti cahaya untuk memutus rantai. Sekali tebas, rantai putus, anak-anak itu lepas, dan Marcel kembali ke suasana kampung seperti semula.
Setelah kejadian itu, kabar lain beredar: Mak Ireng jatuh sakit 41 hari—tangan kaki lemas, tidak bisa mengurus diri, rumahnya seperti diteror suara lemparan dan pukulan genting—lalu meninggal. Namun harta yang disebut warga sebagai “hasil pesugihan” tidak lenyap. Katanya ada ritual lanjutan agar harta tetap “awet” dan tidak memakan tumbal dari keluarga pelaku, sehingga meski pelaku meninggal, aset masih bertahan, disewakan atau dijual.
Mas Marcel menyebut jenisnya sebagai pesugihan “kain liris”—kain seperti gorden yang dipakai saat membaca mantra hingga pelaku bisa berubah wujud. Ia juga menegaskan asal-usul yang sering disebut warga: jalurnya terkait Gunung Kawi dan Alas Roban, sementara penerus generasi berikutnya tinggal “menurunkan” ilmu itu.
Di akhir kesaksiannya, Marcel tidak mengklaim dirinya pahlawan. Ia hanya ingin ponakannya selamat dan keluarganya tidak lagi jadi sasaran. Ia juga menekankan satu hal yang terasa pahit: di kampung seperti itu, bahaya terbesar sering bukan penampakan semata, melainkan warisan yang diwariskan diam-diam—membuat satu generasi menanggung dosa generasi sebelumnya.
Mas Marcel menutup dengan saran yang ia yakini sebagai ikhtiar perlindungan: memperkuat doa di sepertiga malam, memperbanyak bacaan tertentu (ia menyebut Surah Al-Waqiah), dan jika memakai jalur tradisi, “menebus weton” lewat sedekah dan tirakat begadang sesuai hitungan kelahiran. Baginya, intinya satu: jangan memberi celah—karena ketika seseorang dibidik sebagai tumbal, serangannya sering datang saat korban lengah, saat malam paling sunyi ketika semua orang terlelap.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
