Pada 2018, Mas Rohman masih bekerja sebagai pengantar galon dengan sistem komisi sekitar Rp2.000 untuk setiap galon yang berhasil diantar. Penghasilan tersebut tidak terlalu besar karena ia sudah mempunyai istri dan anak, tetapi Rohman memilih tetap menjalaninya sambil mencari pekerjaan lain. Di tengah rutinitas itulah ia menerima telepon dari pamannya, Om Mardi, yang tinggal di Bekasi dan mengabarkan bahwa bibinya sedang mengalami penyakit yang dianggap tidak biasa.
Menurut cerita Om Mardi, kondisi sang bibi sudah berlangsung sekitar satu minggu. Tubuhnya semakin kurus, tetapi bagian perut justru membesar. Ia sering mengeluh kepanasan meskipun kipas sudah dinyalakan, matanya melotot, dan sesekali berteriak tanpa alasan yang jelas. Rohman tidak langsung menganggapnya sebagai gangguan ghaib dan justru meminta pamannya lebih dulu membawa sang bibi ke dokter serta rumah sakit.
Keesokan harinya Om Mardi kembali menghubungi Rohman dan mengatakan bahwa pemeriksaan medis yang telah dilakukan tidak menemukan penyakit yang dianggap menjelaskan keadaan istrinya. Mendengar kabar tersebut, Rohman meminta izin kepada istrinya untuk berangkat ke Bekasi. Pada Sabtu pagi ia naik bus dan dijemput Om Mardi. Namun ketika hendak memasuki rumah pamannya, Rohman mengaku merasakan seperti ada dorongan kuat yang membuatnya sulit melangkah masuk.
Rohman mencoba membaca doa dan wirid hingga akhirnya berhasil memasuki rumah. Ketika melihat bibinya di kamar, ia semakin prihatin karena perempuan itu hanya terbaring dengan tubuh kurus, perut membesar, mata melotot, dan terus mengeluhkan rasa panas. Om Mardi kemudian meminta bantuan Rohman mencarikan seseorang yang dianggap memahami gangguan nonmedis. Rohman akhirnya teringat seorang kenalannya yang disamarkan dengan nama Mas Arif.
Setelah memperoleh nama lengkap, nama ibu, serta tanggal lahir sang bibi, Mas Arif mengatakan perlu datang langsung ke Bekasi. Dua hari kemudian ia tiba dan dijemput Rohman di terminal. Ketika sampai di depan rumah, Mas Arif menurut kesaksian Rohman juga sempat seperti tertahan oleh sesuatu sebelum akhirnya dapat masuk setelah membaca doa. Ia kemudian mengatakan bahwa kondisi sang bibi menurut penafsirannya bukan penyakit biasa dan menduga ada seseorang yang sengaja ingin mencelakainya.
Mas Arif lalu melakukan rukiah dan memberikan air yang telah didoakan untuk diminum serta dibasuhkan kepada sang bibi. Kondisinya disebut mulai lebih tenang, tetapi Mas Arif mengatakan pengobatan tidak cukup dilakukan sekali. Ia menyarankan sebuah prosesi lanjutan yang dalam cerita Rohman disebut “gelaran syarat”. Perlengkapannya antara lain ayam walik, tumpeng lengkap, jajanan pasar, kembang tujuh rupa, telur ayam kampung, tujuh macam buah dengan salah satunya pisang raja bulu, serta dupa yang disebut berasal dari Gunung Kawi.
Setelah semua perlengkapan tersedia, Mas Arif kembali ke Bekasi dan melakukan doa serta tawasul di sebuah ruangan khusus. Ia juga membawa air dari beberapa sumber yang kemudian didoakan. Sebagian air diberikan kepada sang bibi untuk diminum dan dibasuhkan dengan terlebih dahulu membaca beberapa ayat. Setelah itu Rohman menerima sebuah buntelan berwarna putih dan diminta menguburkannya di depan rumah dengan posisi tanah harus kembali rata dan tidak boleh meninggalkan gundukan.
Ketika buntelan tersebut selesai dikubur, Rohman mengaku mendengar suara seperti ledakan dari dalam rumah. Pada saat bersamaan bibinya mendadak mengalami kerasukan dan sosok yang berbicara melalui dirinya mengatakan mereka tidak akan mampu mengusirnya sebelum sebuah benda tertentu ditemukan. Mas Arif kemudian mencari lokasi benda yang dimaksud dan mengarah ke tanah di dekat sebuah pohon mangga di depan rumah.
Rohman diminta menggali tempat tersebut menggunakan cangkul. Ketika tangannya mencoba mengambil sesuatu dari dalam tanah, ia mengaku merasakan sensasi seperti tersengat listrik sehingga Mas Arif lebih dulu melakukan proses yang disebut sebagai penetralan. Setelah itu sebuah buntelan menyerupai pocong berhasil diangkat. Kainnya terlihat sudah tua, dan ketika dibuka ditemukan gunting, silet, sekitar tujuh helai rambut, serta benda menyerupai cutter yang telah berkarat.
Buntelan tersebut kemudian dibakar oleh Mas Arif. Pada saat yang sama, sang bibi disebut kembali menjerit sambil mengatakan tubuhnya terasa panas. Setelah benda itu habis terbakar, kondisinya mulai sadar dan dapat diajak berbicara. Mas Arif lalu menanyakan apakah sebelumnya pernah ada persoalan dengan seseorang. Dari situlah muncul cerita mengenai konflik kecil yang terjadi antara sang bibi dengan seorang perempuan yang juga memiliki usaha warung makanan.
Menurut penuturan sang bibi, perempuan tersebut pernah memberinya pakaian. Karena tidak menyukai pakaian itu, bibi Rohman langsung membuangnya ke tempat sampah. Masalahnya, sang pemberi melihat tindakan tersebut dan merasa sangat tersinggung. Keduanya sempat bertengkar hingga perempuan itu mengucapkan ancaman. Sebelumnya mereka tidak mempunyai persoalan berarti dan bahkan biasa saling menyapa sebagai sesama pedagang.
Sehari setelah pertengkaran itu, warung milik bibi Rohman mendadak sepi. Beberapa pelanggan justru bertanya mengapa warung tersebut terus tutup, padahal menurut sang bibi dirinya selalu membuka usaha dari pagi sampai sore. Pelanggan lain bahkan menuduhnya menjual kembali masakan sisa hari sebelumnya, sesuatu yang dibantah oleh sang bibi. Karena kejadian tersebut muncul tidak lama setelah ancaman, keluarga mulai mencurigai ada hubungan antara konflik tersebut dengan penurunan usaha.
Kejadian lain kemudian ditemukan di sekitar warung, termasuk sesuatu menyerupai tanah kuburan yang ditaburi bunga. Pada suatu malam, bibi Rohman juga mengaku melihat sosok tinggi berbulu dengan mata merah dan gigi bertaring berdiri di dalam warung. Ia langsung berlari memanggil suaminya. Ketika Om Mardi datang, sosok itu sudah tidak terlihat, tetapi mereka menemukan kumpulan bulu yang disebut menyerupai bulu kuda.
Bulu tersebut dimasukkan ke dalam toples, difoto, lalu gambarnya dikirim kepada Mas Arif. Menurut penilaian Mas Arif, benda tersebut dianggap tidak wajar dan diminta untuk dibakar. Ketika pembakaran dilakukan, keluarga mengaku mencium bau sangat menyengat seperti bangkai. Mas Arif kemudian melakukan proses pembersihan di area warung. Setelah itu usaha sang bibi disebut kembali ramai dan pelanggan mulai datang seperti biasa.
Rohman mengira persoalan telah selesai dan pulang bersama Mas Arif. Namun sekitar dua hingga tiga minggu kemudian, bibi kembali menelepon. Kali ini gangguan disebut berpindah kepada anaknya yang disamarkan dengan nama Icha. Gadis itu sering mengamuk, melempar barang, menendang meja, mencakar wajah sendiri, serta sulit mengenali keluarganya. Anehnya, menurut Rohman kondisi tersebut terutama muncul sejak waktu Magrib hingga menjelang Subuh, sedangkan pada pagi dan siang hari Icha kembali dapat beraktivitas normal.
Mas Arif sempat datang dan melakukan rukiah, tetapi kemudian harus pulang karena istrinya sakit dan dirawat di rumah sakit. Gangguan terhadap Icha berlanjut. Rohman bahkan melihat sendiri gadis tersebut melempar benda-benda di kamarnya, sementara Om Mardi yang mencoba menenangkannya justru didorong oleh anaknya sendiri. Pada kesempatan lain, bibi Rohman mengaku kembali melihat sosok menyerupai genderuwo mengintip dari ventilasi dapur dengan mata merah, tubuh berbulu, gigi bertaring, serta aroma yang dianggap tidak biasa.
Karena Mas Arif tidak dapat kembali ke Bekasi, keluarga mencari bantuan lain dan mendapat informasi mengenai seorang tokoh yang disamarkan sebagai Kiai Ahmad. Mereka membawa Icha ke rumahnya dan memutuskan menginap karena perjalanan cukup jauh. Malam itu, Rohman mengaku melihat sekitar lima bola api yang mereka sebut banaspati mengitari rumah sang kiai. Salah satu ukurannya disebut lebih besar daripada yang lain, tetapi seluruhnya tidak dapat masuk ke dalam rumah.
Menurut kesaksian Rohman, Kiai Ahmad kemudian keluar membawa tasbih dan menghadapi gangguan tersebut hingga bola-bola api itu menghilang. Sang kiai juga mengaku melihat dua sosok genderuwo berada di luar rumah, meskipun Rohman dan keluarganya tidak dapat melihat sosok tersebut. Tidak lama kemudian Icha kembali mengamuk dan mengalami kerasukan. Sosok yang berbicara melalui dirinya disebut mengatakan bahwa nyawa Icha telah menjadi miliknya sebelum akhirnya sang kiai melakukan rukiah hingga gadis tersebut kembali sadar.
Ketika mereka pulang, gangguan sempat muncul kembali sehingga Kiai Ahmad memberikan penanganan dari jarak jauh melalui segelas air. Keesokan harinya sang kiai datang dan meminta keluarga menyediakan garam krosok serta ember berisi air. Air garam yang telah didoakan digunakan untuk mengepel seluruh rumah dan sisanya disiramkan ke halaman. Keluarga kemudian melakukan doa bersama dengan membaca Surah Al-Jin, Yasin, dan Al-Falaq masing-masing beberapa kali. Setelah itu kondisi Icha berangsur tenang dan ia akhirnya mampu menceritakan apa yang menurutnya menjadi awal gangguan tersebut.
Icha mengaku suatu hari sepulang sekolah dipanggil oleh perempuan yang dalam cerita disamarkan sebagai Ibu Sri, pedagang makanan yang sebelumnya berselisih dengan ibunya. Icha diberi uang dan makanan. Uangnya digunakan untuk jajan, sedangkan makanan tersebut dimakannya. Malam harinya ia mengaku melihat sosok genderuwo berada di kamar, mencekik lehernya sambil mengatakan bahwa nyawanya sudah menjadi miliknya, lalu seperti masuk ke dalam tubuhnya. Berdasarkan pengalaman itu, Kiai Ahmad dan Mas Arif sama-sama menafsirkan bahwa Icha diduga hendak dijadikan tumbal untuk praktik pesugihan. Namun kesimpulan tersebut merupakan penafsiran spiritual para pihak dalam cerita dan tidak dibuktikan melalui penyelidikan resmi.
Setelah rangkaian pengobatan tersebut, Icha disebut kembali bersekolah dan tidak mengalami gangguan seperti sebelumnya, sedangkan warung bibinya kembali ramai. Sekitar sebulan kemudian keluarga mendapat kabar bahwa usaha Ibu Sri mengalami kebangkrutan dan rumahnya kemudian tidak lagi dihuni. Mereka juga mendengar kabar mengenai kematian beberapa anggota keluarganya, tetapi Rohman tidak dapat memastikan penyebabnya ataupun membuktikan bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan konflik yang pernah terjadi. Dari pengalaman itu, Rohman mengambil pelajaran bahwa sesama pedagang seharusnya tidak saling menjatuhkan hanya karena sakit hati atau persaingan. Ia juga mengingatkan agar seseorang lebih berhati-hati ketika bersikap terhadap pemberian orang lain, karena persoalan yang terlihat sepele dapat berkembang menjadi permusuhan panjang yang merugikan banyak pihak.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
