Teh Sylvi menikah pada tahun 2012 dengan penuh harapan. Awal pernikahan berjalan bahagia seperti layaknya pasangan baru — saling menyayang, saling memanjakan. Namun hanya dalam waktu enam bulan, semua berubah drastis. Sang suami yang tadinya lembut tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang tidak ia kenali: kasar dalam perkataan, brutal dalam perbuatan. Hal sepele seperti terlambat menyajikan kopi bisa menjadi pemicu amarah yang berakhir dengan pemukulan. Teh Sylvi hidup dalam teror setiap hari, sementara tidak satu orang pun dari keluarganya yang tahu.
Selama dua tahun penuh, Teh Sylvi menanggung kekerasan dalam rumah tangga itu sendirian. Bahkan ketika ia tengah hamil besar pun pukulan tidak berhenti — sampai ia nyaris keguguran di usia kandungan delapan bulan. Setelah anaknya lahir, sang suami sempat berubah baik selama tiga bulan. Tapi begitu anak memasuki usia empat bulan, sikap kasar itu kambuh lagi. Puncaknya terjadi saat Teh Sylvi sedang menidurkan bayinya — suami menarik rambutnya dari belakang, membanting mereka berdua ke lantai, dan mengancam akan menginjak anak dan istri sambil berteriak menyuruh mereka mati. Nenek Teh Sylvi yang datang memisahkan pun dijorokin dengan kasar.
Saat sang ibu datang dan melihat kondisi tubuh Teh Sylvi yang penuh memar, barulah seluruh cerita itu mengalir keluar. Teh Sylvi memilih melaporkan ke polisi bukan untuk memenjarakan suaminya, melainkan semata demi mendapatkan cerai dengan cepat. Ia tidak ingin anaknya tumbuh besar dengan stigma ayah yang terjerat perkara pidana. Akhirnya perceraian pun terjadi — ia yang mengajukan, suami tidak hadir sidang, proses berjalan lancar. Teh Sylvi keluar dari pernikahan itu hanya dengan satu tekad: membesarkan anaknya sendiri, apapun yang terjadi.
Sebagai ibu tunggal tanpa penghasilan tetap, Teh Sylvi memutar otak mencari peluang yang bisa ia jalankan sambil menjaga anak yang masih kecil. Ia menjelajahi Google, mencari ide usaha, hingga pada tahun 2015 jatuh pada satu pilihan yang saat itu belum terlalu marak: seblak. Dengan modal awal yang ia kumpulkan bersama sang nenek yang menghibahkan sedikit hasil panen, Teh Sylvi menyewa lahan parkir di tepi pasar hanya dengan uang keamanan Rp10.000 per hari. Berbekal meja pinjaman nenek dan kompor seadanya, ia membuka lapak seorang diri, bismillah, berserah penuh kepada Allah.
Dua bulan pertama sungguh menyiksa. Seblaknya nyaris tidak laku. Bumbu yang tidak tahan lama memaksanya terus mengeluarkan modal baru, sementara pemasukan belum cukup untuk menutup modal lama. Ada hari-hari di mana ia hampir menyerah — bagaimana membeli susu dan pampers anak kalau dagangan tidak laku? Tapi nenek kembali mengulurkan bantuan, dan Teh Sylvi bertahan. Titik baliknya datang ketika ia menelepon teman lama dari kantornya dulu, mengundang mereka mampir. Dari mulut ke mulut di antara karyawan kantor itu, nama warung seblaknya mulai dikenal.
Pelan tapi pasti, warungnya berubah menjadi magnet. Dalam hitungan bulan, antrean panjang sudah menjadi pemandangan biasa — minimal dua puluh orang mengantri setiap hari. Pendapatan yang tadinya hanya Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari melonjak menjadi Rp200.000 hingga Rp300.000. Teh Sylvi bahkan harus merekrut seorang pembantu karena tidak sanggup melayani sendiri. Warung kecil di tepi parkiran pasar itu kini menjadi salah satu destinasi kuliner yang paling dicari di kawasan tersebut.
Di tengah ramainya warung itulah seorang ibu-ibu asing muncul suatu hari, mengaku baru pindah dan ngontrak di dekat situ. Ia mencicipi seblak Teh Sylvi, memujinya, lalu menjadi pelanggan tetap yang hampir datang setiap hari. Ibu itu menanyakan modal awal, cara memulai, detail usaha seblak. Teh Sylvi menjawab dengan terbuka dan ramah. Beberapa hari kemudian, tanpa pemberitahuan apapun, ibu tersebut — yang kemudian dipanggil Bi Siti — membuka lapak seblak sendiri tepat di seberang jalan. Teh Sylvi tidak marah. Dalam hatinya ia percaya: rezeki sudah tertakar dan tidak akan tertukar.
Bi Siti berjuang keras tapi lapaknya tetap sepi. Suatu hari di saat warung Teh Sylvi sedang penuh sesak pada musim liburan dan ia benar-benar kewalahan, Teh Sylvi melihat Bi Siti berdiri sendirian tanpa satu pun pembeli. Tergerak rasa kasihan, Teh Sylvi menyeberang dan dengan niat tulus mengajak Bi Siti membantu di warungnya agar Bi Siti punya pemasukan harian. Namun Bi Siti menafsirkan tawaran itu secara berbeda. Wajahnya merah, suaranya meninggi: “Kamu menghina saya, mentang-mentang ramai jualannya!” Teh Sylvi berusaha menjelaskan, meminta maaf, tapi Bi Siti sudah tidak mau mendengar dan mengusirnya pergi sambil memaki.
Seminggu setelah kejadian itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Warung Teh Sylvi yang biasanya sesak pengunjung mendadak sunyi senyap. Tidak ada satu pun yang datang, sementara warung Bi Siti di seberang justru mulai ramai. Teh Sylvi berusaha berpikir positif — mungkin rezekinya sedang bergeser, mungkin ini hanya sementara. Tapi di minggu yang sama, tubuhnya mulai memberikan sinyal yang mengkhawatirkan. Ada tekanan aneh di ulu hati, napas terasa sesak tanpa alasan jelas, dan ia terpaksa menutup warung lebih awal karena tidak sanggup bertahan.
Kondisi Teh Sylvi memburuk dengan cepat. Makanan tidak bisa masuk — bahkan meneguk air saja terasa seperti mendorong batu ke tenggorokan. Tidur pun tidak bisa berbaring karena napas langsung tersumbat; ia hanya bisa tidur dalam posisi duduk. Hampir dua minggu ia tidak bisa makan dengan normal, hanya dua sendok bubur yang bisa masuk. Yang lebih mencengangkan, tubuhnya mulai membengkak dari bawah ke atas — kaki membesar seperti batang pohon, perut menggembung seperti kandungan lima bulan, hingga wajahnya pun ikut membengkak. Seluruh tubuh bengkak sepenuhnya, tanpa satu dokter yang tahu sebabnya.
Ketika sepupu membawanya ke rumah sakit, kondisinya sudah sangat kritis. Wajahnya pucat seperti mayat, tidak bisa berjalan, harus dibopong masuk UGD dan langsung dipasang oksigen. Hal yang membuat para perawat kebingungan: saat hendak mengambil sampel darah, jarum yang ditusukkan ke lengannya tidak menghasilkan apa-apa. Empat perawat bergantian mencoba, tidak satu pun berhasil. Baru ketika dokter sendiri yang turun tangan, darah bisa diambil. Infus pun susah masuk hampir satu jam lamanya. Dokter yang menanganinya sampai bengong tidak mengerti apa yang sedang mereka hadapi.
Diagnosis yang keluar dari berbagai dokter pun saling bertentangan satu sama lain. Ada yang mengatakan kelainan jantung bawaan, ada yang bilang gangguan ginjal, ada yang mendiagnosa asam lambung. Tidak ada yang sepakat. Yang pasti, setiap kali Teh Sylvi tidak meminum obat, bengkak kembali datang dan napas kembali tersumbat. Rambutnya rontok habis hingga nyaris gundul seperti pasien kemoterapi. Ia dirawat selama seminggu lebih, lalu pulang ke rumah masih dengan kondisi yang jauh dari pulih. Setahun penuh ia hidup dalam ketergantungan obat dan rasa sakit yang tidak bernama.
Ibunya yang sudah tidak tahan melihat kondisi sang anak akhirnya menelepon Om Indra, seorang saudara yang dikenal memiliki ilmu pengobatan spiritual, jauh di Jawa Timur. Sebelum Om Indra sempat datang, ia memberikan petunjuk melalui telepon: Teh Sylvi harus berpuasa dan menjalankan salat malam — tahajud, taubat, dan hajat — tanpa bolong satu pun selama tujuh hari. Syaratnya hanya satu: tidak boleh ada dendam di dalam hati, apapun yang nanti terungkap. Teh Sylvi menyanggupi, meski tahu kondisi fisiknya masih sangat lemah untuk menjalankan ibadah seberat itu.
Tujuh malam penuh ujian pun dimulai. Malam-malam awal masih relatif tenang. Namun memasuki malam ketiga, gangguan mulai datang bertubi-tubi. Sesuatu seperti petir jatuh dari langit, diikuti kemunculan tikus putih yang melintas tepat di depan sajadahnya. Esok harinya, tetangga bercerita melihat bola api yang berputar-putar di atas rumah Teh Sylvi hingga subuh. Malam terakhir menjadi puncaknya: sosok hitam raksasa berdiri menghalangi jalan menuju kamar mandi saat ia hendak berwudu. Di sumur belakang, sosok kuntilanak anak dengan rambut panjang dan mata tajam menatapnya dengan sorot mengerikan. Dan ketika ia berdiri mengucap takbir memulai salat, tepat di depannya muncul pocong yang bersemedi menghadapnya.
Teh Sylvi memilih tidak lari. Dengan segala ketakutan yang mengguncang dadanya, ia terus melanjutkan salatnya. Setiap kali pandangan jatuh ke sosok-sosok itu, ia alihkan ke bayangan wajah anaknya. Anak itulah yang membuatnya tidak roboh. Selesai salat, ia muntah dengan hebat — dan setelah itu, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Seolah ada sesuatu yang keluar dari dalam dirinya bersama dengan isi lambungnya malam itu.
Keesokan harinya Om Indra tiba. Begitu masuk rumah, tanpa banyak bicara ia langsung meminta cermin tua yang tersimpan di lemari — sebuah kaca benggolo, cermin kecil bergagang yang konon bisa digunakan untuk melihat hal-hal gaib. Om Indra bersemedi sendirian di kamar bersama cermin itu. Ketika Teh Sylvi diizinkan masuk, Om Indra menggambarkan sosok pelakunya: ibu-ibu, pendek, agak putih. Teh Sylvi langsung tahu. Bi Siti.
Om Indra kemudian meminta diantar ke tempat jualan Teh Sylvi. Di sana, tanpa meraba-raba berlebihan, ia menemukan sesuatu di bawah meja dagang — sebuah buntelan, dibungkus kain putih dan diikat tali merah. Di dalamnya terdapat foto Teh Sylvi yang sudah digulung dan diikat rapat. Om Indra berkata singkat: “Ini biangnya.” Sang ibu yang ikut menemani tidak bisa berkata-kata, hampir pingsan melihat benda itu. Pantas saja tidak ada satu dokter pun yang mampu mendiagnosis penyakit Teh Sylvi dengan benar — karena memang bukan penyakit yang bisa dilihat dengan alat medis.
Pengobatan dilanjutkan dengan merebus tujuh lembar daun benalu mangga — bukan benalu sembarang, harus benalu dari pohon mangga, tidak boleh terlalu tua dan tidak boleh terlalu muda. Air rebusannya diminum secara rutin, dan perlahan kondisi Teh Sylvi mulai membaik. Bengkak di kaki dan perut berangsur turun. Napas kembali normal. Ia tidak perlu lagi bergantung pada oksigen. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, tubuhnya sudah cukup pulih untuk bisa berjalan dan kembali beraktivitas, meski masih kurus kering dan rambutnya belum tumbuh kembali.
Ketika Teh Sylvi pertama kali mengunjungi pasar untuk mengecek lapaknya, ia mendapati warung Bi Siti di seberang tutup. Penjual rokok di sebelah mengabarkan bahwa Bi Siti sudah lama tidak berjualan karena sakit dengan gejala yang aneh: kaki bengkak, tubuh bengkak, tidak bisa beraktivitas. Dua hari kemudian, Bi Siti datang ke rumah Teh Sylvi bersama suaminya — berjalan dipapah, tubuhnya pun masih belum pulih. Setibanya di depan pintu, keduanya bersujud. Bi Siti menangis, memohon maaf, mengakui bahwa ia telah berbuat zalim karena iri. Suaminya pun ikut bersujud, memohon agar istrinya bisa sembuh.
Teh Sylvi memandang Bi Siti yang terbaring lemah di hadapannya — wajah yang sama yang pernah memaki dan mengusirnya. Ia teringat pesan Om Indra: ikhlas dan jangan dendam. Dengan suara pelan tapi mantap, Teh Sylvi mengucapkan maaf yang tulus. Ia mendoakan agar Bi Siti cepat sehat, bisa berjualan lagi, dan rezekinya dilancarkan. Bi Siti tidak bisa menahan tangis mendengar kata-kata itu. “Ya Allah Neng baik banget,” katanya berulang-ulang di sela isak tangis. Tidak lama setelah itu, Bi Siti dan suaminya meninggalkan kawasan itu selamanya — pulang ke kampung asal, tidak pernah kembali. Dan warung seblak Teh Sylvi pun perlahan ramai lagi, seolah badai itu tidak pernah terjadi, meninggalkan satu pelajaran berharga: rezeki sudah tertakar dan tidak akan pernah tertukar, seberapapun seseorang berusaha merebut jatah orang lain.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
