Mas John masih ingat betul, tahun 2016 itu ia masih aktif jadi sopir. Hari Minggu biasanya ia ada di rumah—waktu buat istirahat, kumpul keluarga, dan lepas capek setelah sepekan di jalan. Pagi menjelang siang, ada tamu datang: Mas Thayib, teman lamanya, datang lengkap bersama istri dan dua anak. Mereka makan bareng, ngobrol ngalor-ngidul, sampai akhirnya…
Nyembah Dewi Lanjar, Nggak Pake Lama Kaya Mendadak: Kisah Pedagang Buah Bogor yang Hidupnya Naik-Down Gara-gara Nikah Gaib
Tahun 2000, Mas Cipto kerja di pos buah di Bogor. Sistemnya “store”: buka sejak subuh dan pulang malam, lalu setor hasil jualan ke bos. Capeknya luar biasa, tapi Mas Cipto sudah biasa—yang penting ada penghasilan dan bisa pulang kampung beberapa bulan sekali. Suatu kali pulang ke Cirebon, Mas Cipto ketemu teman lamanya, Ijal. Ijal nganggur…
Dagangan Laris, Cowok Nempel Kayak Lem: Ritual 3 Susuk Emas yang Mengubah Hidup Teh Sika
Tahun 2016, hidup Teh Sika runtuh pelan-pelan dari dalam rumah tangganya sendiri. Suaminya berkali-kali selingkuh, sampai puncaknya Teh Sika memergoki langsung di hotel—suami cuma pakai handuk, sementara perempuan lain duduk santai di ranjang. Teh Sika tidak teriak, tidak ngamuk; ia hanya meminta suaminya pulang karena anak-anak menunggu, lalu memilih pergi membawa luka yang sulit dijelaskan…
SPG JANDA INI JUAL ROKOK 10 SLOP LANGSUNG LUDES: RITUAL SUSUK PESUGIHAN GENDERUWO YANG BERAKHIR TAGIHAN NYAWA
Mas Ogi masih ingat jelas tahun 2018, ketika sepupu perempuannya—Dedek (nama samaran)—datang ke rumah dalam keadaan menangis. Dedek seorang janda dengan tiga anak. Sejak suaminya meninggal, tabungannya habis untuk berobat, hidupnya jatuh ke fase paling sempit: makan susah, biaya sekolah anak menghantui, dan di tempat kerja ia hampir dipecat karena target penjualan rokok tidak pernah…
Tiga Bulan Kaya Raya di Jakarta, Tapi Berakhir Sifilis: Jalan Gelap Pedagang Kupat Tahu ke Gunung Kemukus
Kang Dedi mengira perantauannya ke Jakarta akan jadi titik damai. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan urusan “barang bertuah” yang bikin tenaga dan pikiran habis, ia memilih berhenti. Ia ingin hidup realistis: kerja yang jelas, ibadah yang terjaga, dan hati yang lebih tenang. Di Jakarta Selatan, Kang Dedi diajak temannya jadi marbot di masjid besar sekitar Rasuna…
