Sejak masih bayi, Teh Risa Saraswati sudah memperlihatkan gelagat yang tidak biasa. Ibunya kerap melihat si kecil menangis tanpa sebab yang jelas, seolah merespons sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Tanda-tanda itu terus berlanjut hingga usianya menginjak tiga tahun, saat ia diajak melayat seorang sahabat ibunya yang meninggal dunia. Di depan pintu rumah duka,…
Author: malam mencekam
DIHINA MISKIN SAMA MERTUA, KULI PASAR INI PILIH PESUGIHAN !! RITUAL GENDERUWO DI KERAMAT X
Mas Iman bercerita, awalnya ia merantau ke Jakarta Barat pada 2018. Ia jadi kuli panggul di pasar: bongkar sayur, kelapa, pisang, apa saja yang datang dari mobil bak. Upahnya dihitung per bongkaran, sekitar Rp45.000 sekali angkut. Untuk bisa makan, ia harus ikut beberapa mobil dalam sehari, dan itu berarti tubuh diperas dari pagi sampai malam….
TERSESAT DI GUNUNG CIREMAI: MAS JAYA JADI IMAM SALAT UNTUK BANGSA GAIB
Tahun 2009, Mas Jaya baru lulus SMA dan masih bujangan ikut pendakian Gunung Ciremai bareng lima teman: Benny, Eko, Bunga, Dedy, dan Dita. Awalnya cuma rencana “healing” ala anak muda: naik, bakar-bakaran, lalu turun besoknya. Mereka berangkat subuh dari Cirebon dan masuk jalur Linggarjati, targetnya sampai pos awal sebelum sore. Di Pos 1, Mas Jaya…
TELOR ANGSA DITARUH DI VGNA DEMI LEPAS DARI SILUMAN MONYET !! JIN PELIHARAAN PEDAGANG PASAR
Keluarga Mbak Intan hidup dari pasar. Mama dan Bapak jualan sayur di pasar tradisional di Jawa Barat—bukan cuma sayur, tapi juga tahu, tempe, ikan, dan kebutuhan dapur lain. Dari luar, hidup mereka tampak biasa saja: bangun subuh, belanja, buka lapak, pulang sore, lalu mengulang lagi besoknya. Sampai satu malam, kebakaran besar melalap pasar. Lapak mereka…
RUBICON, DUA POM BENSIN, DAN KUTUKAN PERNIKAHAN: KISAH PARJO YANG TERIKAT KAWIN JIN
Awal tahun 2024, Mas Sugi mendapat telepon dari seorang teman lama semasa nongkrong di Jakarta—sebut saja Parjo. Suaranya terdengar akrab, tapi ada nada tergesa, seperti orang yang sedang mengejar sesuatu. Parjo bilang ia sedang berada di Jawa Barat dan ingin mampir, “sekalian survei,” katanya. Mas Sugi mengiyakan tanpa banyak tanya, karena mengira ini hanya silaturahmi…
