Tahun 2012 jadi titik balik hidup Pak Mun—seorang pedagang baju keliling yang biasa memikul dagangan dari kampung ke kampung. Ia kerja jauh di Banten, menabung dari hasil ngutang-ngutangin baju, berharap rumah tangganya di Cirebon tetap utuh dan baik-baik saja. Tapi hidup kadang suka menyelipkan kabar busuk lewat cara yang paling dingin: pesan singkat dari nomor…
Author: malam mencekam
JADI JURAGAN KAIN, DUITNYA BANYAK… TAPI JALANNYA LEWAT RITUAL ANEH: PESUGIHAN “RATU BUAYA PUTIH” YANG MENAGIH TUMBAL
Pak Kamis adalah seorang aktivis budaya di Cirebon. Ia biasa jadi tempat kumpul teman-temannya—ngopi, ngobrol, curhat sampai larut. Malam itu, awal Februari 2011, suasana rumah Pak Kamis seperti biasa, ramai di teras, sampai seorang teman memberi tahu ada seseorang berdiri di seberang gang, tapi tidak berani masuk. Orang itu Pak Agus (nama samaran), seorang pedagang…
TAWURAN JADI “HOBI”: PREMAN PASAR DAN OKNUM APARAT DILIBAS—AJIAN KEBAL BRAJAMUSTI YANG MENEMPEL SAMPAI SEKARANG
Mas Yudi masih anak SMA saat semuanya bermula. Di kampungnya, pos kamling jadi tempat bapak-bapak main catur dan ngobrol sampai larut. Ia yang masih labil ikut nimbrung, ikut tertawa, ikut mendengar cerita-cerita lama yang awalnya terdengar seperti dongeng. Di tengah obrolan catur itu, ada satu kalimat yang menancap di kepala Mas Yudi: tentang seorang almarhum…
“SETAHUN TINGGAL DI RUMAH PELAKU PESUGIHAN GUNUNG KAWI”: REZEKI MAS DENIS MELEJIT, TAPI TUBUHNYA JADI TARGET MAKHLUK PENGHUNI
Mas Denis tidak pernah berniat pindah ke rumah yang kelak mengubah hidupnya. Tahun 2016 pertengahan, ia justru sedang pusing karena kontrakan lamanya tiba-tiba mau dijual. Pemilik rumah memberi kabar: kalau sudah laku, Mas Denis hanya punya waktu sekitar seminggu sampai sepuluh hari untuk angkat kaki. Mas Denis sempat stres. Ia bukan cuma cari tempat tidur,…
DONATUR ASRAMA YANG “DERMAWAN”, TAPI MENABUNG TUMBAL: KESAKSIAN MBAK YANTI MELAWAN PESUGIHAN KUDA SEMBRANI
Tahun 2010, Mbak Yanti baru saja lulus sekolah ketika ayahnya mengirimnya ke sebuah asrama putri di Jawa Timur. Alasannya bukan sekadar supaya Mbak Yanti belajar lebih disiplin, tapi juga karena ada amanah terakhir dari almarhumah ibunya: Mbak Yanti diminta mondok, menimba ilmu, dan bertahan setidaknya tiga tahun. Di usia sekitar 14 tahun, jauh dari rumah,…
